BPJS

BPJS
  • Berita Terkini

    HONDA SUPRA GTR

    Jumat, 17 Mei 2019

    Sudah Boyongan, Pedagang Pasar Koplak Keluhkan Sepinya Pembeli

    fotosaefur/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Pedagang pasar burung atau biasa disebut Pasar Koplak, mengeluhkan sepinya pembeli di tempat relokasi. Mereka pun berharap, revitalisasi Pasar Koplak segera dilaksanakan agar dapat kembali beraktivitas seperti biasa di tempat lama.

    Sejak muncul rencana renovasi, pasar Koplak di Jl Kusuma kini telah dikosongkan sejak 10 Mei 2019 lalu. Sebagai tempat berdagang sementara (relokasi), para pedagang menempati area kios Sentral Ekonomi Muslim (SEM) yang berada tak jauh dari lokasi semula.

    Sutono (45), penjual onderdil sepeda motor mengaku, hingga saat ini belum banyak pembeli datang ke tempat relokasi. Omset mereka pun turun, tak seramai saat di lapaknya yang lama yang berada di dalam Pasar Koplak.

    "Mungkin masih baru jadi belum pada tau lokasinya, sebagaian pelanggan juga ada yang bingung," kata  warga RT 2 RW 1 Desa Karangsari Kecamatan Kebumen tersebut, ditemui kemarin.

    Sutono mengatakan, tak semua pedagang Pasar Koplak mau direlokasi. Sebagian memilih berjualan di rumah daripada menggelar dagangan di tempat relokasi. "Sebagian bahkan sengaja libur tak jualan," kata Sutono.

    Sutono berharap, renovasi Pasar Koplak segera bisa dilaksanakan. Harapannya, pasar menjadi lebih bersih, indah dan tidak lagi terkesan kumuh. "Ya harapan kami semoga segera selesai, lebih tertata, rapi, dan yang jelas tidak kumuh," katanya.

    Sutono merupakan salah satu dari puluhan pedagang yang direlokasi. Di tempat relokasi ini, para pedagang dibagi dua. Yakni ruko permanen di area kios Sentral Ekonomi Muslim (SEM), sementara untuk penjual burung dan onderdil sepeda motor, buah dan sebagian warung makan menempati di ruas bagian utara terminal (Standplat) Colt Kebumen. Para pedagang, sebagian membangun lapak sendiri. Sementara, sisanya mendirikan lapak baru.

    Informasi yang berhasil dihimpun, para pedagang kebanyakan memilih pindah dengan cara mandiri meski ada juga tawaran dari Pemkab untuk dibangunkan lapak. Mereka pun membiayai sendiri boyongan ke tempat relokasi. Artinya, para pedagang ini mengeluarkan biaya. Besarannya pun cukup variatif. Dari Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Uang itu untuk keperluan membeli kayu dan atap.

    Sebagian lagi, bagi pedagang yang cukup punya modal, memilih menyewa. Adapun biaya sewa pada ruko yang dibangun pada masa Bupati Rustriningsih itu sebesar Rp 3,5- Rp 4 juta dengan masa sewa 6 bulan.
    Secara terpisah Kepala UPTD Pasar II Bambang Cahyono mengatakan, pihaknya merencanakan Pasar Burung akan dimulai pengerjaan awal pada pertengahan bulan ini hingga ditargetkan akan rampung selama 150 hari kedepan.(fur)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top