BPJS

BPJS

Job Fair 2019

  • Berita Terkini

    HONDA CBR 150

    Rabu, 22 Mei 2019

    Sembilan Partai Lolos Ambang Batas Parlemen

    JAKARTA - Hasil rekapitulasi Pemilihan Legislatif (Pileg) sudah diumumkan. Hasilnya sembilan partai politik lolos ambang batas parlemen empat persen. PDIP keluar sebagai pemenang dengan 19,33 persen. Disusul Gerindra 12,57 persen. Posisi ketiga ditempati Golkar yang meraih 12,31 persen.

    Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyebut Partai Golkar mendapat jatah kursi Ketua MPR. "Ya tentu yang adil Ketua DPR nomor satu. Ketua MPR-nya ya nomor dua. Itu yang adil. Masa langsung tiba-tiba nomor 5," kata JK di Kantor Wakil Presiden, Selasa (21/5/2019), kemarin.

    Dia mengaku puas dengan perolehan suara Partai Golkar di Pemilu 2019. Dia menilai perolehan kursi melebihi perkiraan di survei. Semula survei hanya delapan sampai sembilan persen. "Yang penting kan kursi, bukan suara," tutur JK.

    Sebelumnya, Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto mengatakan seharusnya anggota mereka yang menjadi Ketua MPR. Airlangga awalnya menyinggung pemenang pemilu PDIP yang akan otomatis mendapat jatah Ketua DPR.

    Seperti diketahui, rapat pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara DPR dan DPD akhirnya selesai pada Selasa (21/5) dini hari Hasilnya, KPU menetapkan PDIP meraih suara tertinggi. "Menetapkan memutuskan keputusan KPU tentang hasil pemilu anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota secara nasional dalam Pemilu 2019," kata Ketua KPU Arief Budiman.

    Sementara itu, politisi Golkar sekaligus Koordinator Nasional Relawan Golkar Jokowi (Gojo) Rizal Mallarangeng mengapresiasi hasil yang dicapai Partai Golkar pada Pileg 2019. Menurut Rizal, pencapaian tersebut merupakan hadiah yang manis bagi seluruh kader Golkar.

    Golkar meraih 85 kursi di DPR RI, atau 14,8 persen dari total 575 kursi DPR, cukup jauh meninggalkan Gerindra yang memperoleh 78 kursi. "Ini hadiah manis bagi seluruh kader Golkar," kata Rizal Mallarangeng, Selasa (21/5).

    Dia mengatakan pencapaian itu sesuai dengan apa yang ditargetkan. Yakni Golkar berada pada posisi dua besar kekuatan politik nasional bersama PDIP. Bagi suatu partai, ukuran utama adalah jumlah kursi di parlemen yang diperoleh dari 80 dapil se-Indonesia, bukan dari rekapitulasi suara nasional. "Kekuatan dan keberhasilan partai dilihat dari sini," imbuhnya.

    Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily menyatakan, partainya berada di peringkat kedua perolehan jumlah kursi di DPR RI. Menurutnya, dalam pemilu legislatif, yang menjadi barometer adalah perolehan kursi.
    "Golkar memperoleh kursi 85 kursi, di bawah PDIP yang memperoleh 129 kursi. Sementara Gerindra di urutan ketiga dengan perolehan kursi sebanyak 78 kursi," jelas Ace.
    Berdasarkan hasil penetapan KPU, Partai Golkar berada di urutan ketiga perolehan suara nasional, di bawah PDIP dan Gerindra. Namun menurut Ace, yang harus dilihat adalah konversi dalam kursi DPR RI. "Secara perolehan suara, Golkar urutan ketiga. Tetapi dalam perhitungan pemilu legislatif, yang harus dilihat adalah konversinya ke dalam kursi di DPR RI," terangnya.
    Terpisah, pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio menyarankan, sebaiknya posisi Ketua MPR diisi oleh pihak oposisi. "Sebaiknya Ketua MPR dijabat oleh oposisi. Kehadiran oposisi sebagai salah satu pejabat negara penting untuk keseimbangan negara," kata Hendri Satrio, Selasa (21/5).
    Dia heran dengan tertariknya sejumlah partai mengisi kursi Ketua MPR. Terlebih keinginan itu berasal dari Golkar. Sebab, biasanya Golkar lebih mengincar kursi yang lebih strategis. Seperti posisi Menteri atau Ketua DPR. Seharusnya, jabatan itu ditempati oleh oposisi. Bisa dari Gerindra, PKS ataupun PAN.
    Perolehan suara Gerindra memang lebih tinggi dari PKS. Namun militansi PKS dinilai lebih tinggi dibanding Gerindra. Sementara PAN sudah punya pengalaman di jabatan itu.
    "Demokrat bisa jadi alternatif kesepakatan bagi dua kubu kalau deadlock. Tetapi, posisi Demokrat kan rada ajaib. Pengen di tengah tapi pengen dekat ke Jokowi, pengen di tengah, tapi pengen tetap dukung Prabowo," papar Hendri. (rh/fin)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top