HONDA BEAT

  • Berita Terkini

    Kamis, 03 Januari 2019

    Waspadai Potensi Longsor Susulan di Sukabumi

    SUKABUMI – Pencarian korban longsor di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat berlanjut Rabu (3/1). Meski terkendala hujan di lokasi kejadian, petugas tidak lantas menyerah begitu saja. Setelah berjibaku sejak pagi sampai sore hari, mereka berhasil mengevakuasi tiga jenazah korban. Itu sekaligus menambah jumlah korban meninggal yang sudah dievakuasi dari timbunan longsor.



    Selasa malam (2/1/2019) memang sempat diinformasikan bahwa jumlah korban meninggal sudah mencapai 15 orang. Namun, data yang diperoleh Jawa Pos di lapangan berbeda. Sampai kemarin sore baru 13 jenazah yang sudah dievakuasi. Berdasar keterangan Komandam Kodim 0622/Kabupaten Sukabumi Letkol Infanteri Haris Sukarman perbedaan data korban meninggal muncul lantaran jenazah yang belum dievakuasi turut dihitung.



    Sebab, hasil pencarian petugas gabungan bersama anjing pelacak pada Selasa mendapati posisi jenazah tersebut. ”Jadi, kemarin (Selasa) disampaikan 15 memang sudah diketahui tempatnya yang diperkirakan ada (jenazah). Nah yang 13 itu, yang sampai hari ini sudah diangkat dan sudah diidentifikasi,” kata perwira menangah TNI AD yang akrab dipanggil Haris tersebut.



    Dengan tambahan tiga jenazah yang berhasil dievakuasi dan diidentifikasi kemarin, jumlah korban hilang yang masih dalam pencarian sebanyak 20 orang. ”Itu adalah data, fakta, dan situasi di lapangan,” terang Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei. Sesuai prosedur Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) atau Basarnas, pencarian korban akan terus dilakukan selama tujuh hari sejak longsor terjadi.



    Apabila selama tujuh hari masih ada korban belum ditemukan, petugas akan mengevaluasi proses pencarian yang sudah berlangsung. Untuk menentukan pencarian berlanjut atau tidak. Yang pasti, kata Willem, seluruh petugas bakal berusaha sebaik mungkin untuk menemukan para korban. Dia mengakui itu bukan pekerjaan mudah. Apalagi setelah dirinya melihat langsung kondisi dan situasi di lokasi kejadian kemarin.



    ”Bagaimana sulitnya medan itu. Di mana salah satu kendalanya adalah cuaca yang gampang berubah,” terang Willem. Kemarin hujan memang tidak turun terus-menerus. Namun, petugas memutuskan menghentikan pencarian setiap kali hujan deras mengguyur. Itu harus dilakukan guna mengantisipasi potensi ancaman longsor yang masih mungkin terjadi. ”Di mana ancaman longsor masih ada,” tambahnya.



    Selain menjadi kendala, itu juga merupakan tantangan bagi petugas di lapangan. Untuk itu, Willem berharap besar mereka mampu mengantasi tantangan tersebut. Dia menekankan agar pencarian korban yang masih tertimbun longsoran tidak membahayakan petugas. ”Sehingga kami harus dapat menjamin apabila ada longsor susulan tidak akan menimbulkan korban,” bebernya.



    Mantan Komandan Lantamal VIII Manado itu pun menjelaskan, antisipasi longsor susulan dilaksanakan dengan memperketat akses masuk area pencarian. Hanya petugas yang boleh masuk area tersebut. ”Jadi, petugas dari TNI, dari Polri, dari Basarnas dari pemda itu sudah menetapkan dengan memasang police line,” jelasnya. Disamping itu, petugas yang tengah bekerja juga diminta untuk selalu waspada.



    Guna mempercepat pencarian, Willem menuturkan, bakal menambah alat berat. Berdasar pantauan Jawa Pos di lapangan, kemarin hanya dua alat berat yang bekerja. ”Kalau saya lihat situasi seperti itu, paling tidak harus ada enam (alat berat),” imbuhnya. Kekurangan alat berat tersebut bakal ditutup oleh Kementerian Pekerja Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta pemda setempat.



    Menurut Willem, dua alat berat sedang dalam perjalanan untuk dikirim ke lokasi kejadian. Meski begitu, operasional alat berat harus ekstra hati-hati. Sehingga tidak sampai menyebabkan jenazah korban yang masih tertimbun longsoran rusak. Prada Muhammad Baedowi yang bertugas mencari korban menyampaikan bahwa ada beberapa jenazah yang tertimbun longsoran sedalam lima meter. ”Itu ngangkatnya dibantu alat berat,” ucap dia.



    Lokasi kejadian memang cukup jauh dari pusat kota Kabupaten Sukabumi. Letaknya juga berada di antara bukit dan tebing terjal. Tidak heran ada usulan untuk merelokasi masyarakat dari kampung tersebut ke tempat lain. Sebab, lokasi itu dinilai sudah tidak aman untuk dijadikan pemukiman. Tentu usulan tersebut juga mempertimbangkan analisis dari lembaga kompeten seperti Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).



    Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan bahwa tidak ada alat deteksi longsor dini di daerah Kecamatan Cisolok, Namun dia meyakini bahwa longsor di kawasan tersebut pasti diawali dengan retakan. ”Waktu kejadian, masyarakat mendengar suara gemuruh. Lalu ada yang lari,” ungkapnya.



    Menurutnya, longsor di kawasan ini cukup unik. Sebab dari titik awal longsor hingga ke perumahan warga melewati daerah yang tinggi. Kemudian longsor melebar sebelum akhirnya sampai ke pemukiman. Selain tanah, longsor juga turut menyeret bebatuan. Bahkan ada bebatuan sebesar kendaraan. Menurut perhitungan, dari titik awal hingga longsor berhenti berjarak 800 meter.



    Menurut catatan BNPB selama sepuluh tahun terakhir ada 132 kali longsor di sana. Meski demikian, pemerintah daerah seolah tidak belajar untuk menata ruang. ”Daerah yang rawan itu harusnya menjadi kawasan konservasi yang ditumbuhi tanaman berakar dalam dan tidak ditebang warga,” ujar Sutopo menjelaskan.



    Pemerintah, menurut Sutopo, juga telah menerbitkan peta rawan longsor. Peta yang dipublikasikan melakui laman http://vsi.esdm.go.id. menyebut Sukabumi merupakan daerah yang termasuk rawan longsor. Selain daerah rawan longsor, bencana diperparah dengan pengetahuan masyarakat tentang bencana dianggap kurang. Belum semua masyarakat di sana sadar bencana.



    ”Ketika petugas disana menanyai, rata-rata masyarakat tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika ada bencana,” beber Sutopo. Secara global, banyak daerah di Indonesia yang rawan longsor. Terutama di daerah perbukitan. Total ada 40,9 juta jiwa terancam bencana longsor. Di beberapa daerah sudah terpasang alat deteksi dini. Namun ada juga yang belum. (lyn/syn/)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top