• Berita Terkini

    HONDA BEAT

    Kamis, 10 Januari 2019

    Ki Arief: Banyak Terjadi Bencana, Warga Diminta Introspeksi

    Ki Arief: Banyak Terjadi Bencana, Warga Diminta Introspeksi
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)-Berbagai bencana alam kerap mewarnai tahun-tahun politik atau menjelang pemilu. Itu seakan menjadi kebiasaan dan telah dipandang umum oleh masyarakat. Bahkan bencana masih kerap sesaat setelah proses pemilihan selesai. Lantas apa hubunganya antara politik dan bencana?.

    Salah satu para normal Kebumen  yakni Ki Arif Priantoro menyebutkan secara langsung antara politik dan bencana memang tidak ada kaitannya. Namun kegiatan politik kerap diwarnai dengan perbuatan-perbuatan negatif. “Banyaknya perbuatan negatif membuat alam semesta juga bereaksi tidak baik, akibatnya bencana kerap terjadi di tahun-tahun tersebut,” tuturnya, beberapa waktu lalu.

    Warga RT 1 RW 5 Desa Kuwayuhan Pejagoan ini menyampaikan reaksi alam semesta selaras dengan perbuatan manusia. Jika banyak manusia yang berbuat baik, alam semesta juga akan bereaksi baik. Pohon mudah tumbuh, berkembang dengan baik dan berbuah lebat. Sebaliknya juga akan begitu, jika banyak perbuatan buruk reaksi alam juga akan buruk.

    Saat ini, menurut penilaian Arif, politik telah dilaksanakan dengan berbagai cara. Fitnah dan hasut serta banyaknya berita hoaks seakan telah menjadi bagian dari tahun-tahun politik. Hal ini tentunya membuat reaksi negatif semesta. Untuk itu wajar jika bencana alam datang silih berganti. “Di sinilah  pentingnya memahami korelasi antara perbuatan manusia dengan reaksi alam,” paparnya.

    “Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti, kata-kata itulah yang disampaikan oleh Ki Arif. Falsafah Jawa ini mempunyai arti kebencian, kemarahan dan kekerasa hati akan luluh oleh sikap kelembutan, kebijaksanaa dan sabar. Untuk itu dalam menghadapi maraknya hasutan dan fitnah, sebaiknya dilawan dengan kebikan budi pekerti.

    Dalam hal ini kata-kata para tokoh masyarakat lokal seyogyanya lebih dipercaya dari pada kabar yang berkembag di dunia maya. Sebab kabar di internet terkadang tidak jelas dari mana sumbernya. “Jangan mudah percaya, apalagi terpengaruh dengan kabar atau informasi yang beredar,” jelasnya.

    Menjaga kearifan lokal menjadi sangat penting. Sebab kearifan lokal mengandung nilai-nilai luhur dan budi pekerti yang baik. Menjaga kearifan lokal akan mewujudkan sikap yang baik yang terntunya akan berdampak baik bagi semesta dan manusia. Terlebih adat Jawa yang banyak mengandung nilai-nilai luhur.

    Adapun beberapa Ajaran Jawa yakni  “Titi Mangerti Pranataning Wiji” artinya mengerti atau berusaha tentang asal usul manusia. “Titi Mangerti Pranataning Dumadi artinya mengerti atau berusaha mengerti tatanan yang tergelar pada jagat raya. “Titi Mangerti Pranataning Pambudi” artinya mengerti atau berusaha mengerti tatanan hidup yang berbudi. Titi Mangerti Pranataning Pakarti artinya mengerti atau berusaha mengerti tatanan dari pekerti manusia. “Kalau sudah mengerti ungkapan-ungkapan tersebut, maka semua yang ada di dunia ini akan menjadi alat manusia “Gumelaring Jagat dadi Pirantining manungso,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top