BPJS

BPJS
  • Berita Terkini

    HONDA CRF

    Sabtu, 19 Januari 2019

    Dari Ternak Murai Batu, Alipudin Raup Ratusan Juta

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)-Berawal dari hoby memelihara burung kicau, Ahmad Alipudin (33) warga RT 4 RW 2 Desa Karangsari Kecamatan Kutowinangun sukses beternak Murai Batu. Dari sembilan pasang burung kicau mahal ini Alip telah mendapat keuntungan hingga ratusan juta rupiah. Tak ayal usaha yang telah digeluti selama empat tahun ini terus dikembangkan.

    Suara merdu Burung Murai Batu Sumatera selalu menghiasi rumah Alip yang tinggal bersama istri dan anaknya. Suasana rumah dengan pemandangan sawah dan angin yang bertiup ramah tampak asri dan nikmat untuk dikunjungi. Ditemani secangkir kopi dan jagung rebus, secara bertahap Alip menceritakan suka duka dan jatuh berternak dalam Murai batu.

    Berawal dari satu pasang burung yang ditangkar, seiring berjalannya waktu usahanya terus berkembang. Berawal dari sepasang burung yang ditangkar pada tahun 2014, kini Alip telah mempunyai sembilan betina dan tujuh pejantan. Salah satu dari tujuh pejantan ada yang diternak dengan sistem poligami. “Poligami bisa dilakukan dalam beternak Murai Batu. Namun harus mengetahui karakter burung. Jika tidak poligami dipastikan gagal,” tuturnya, Jumat (18/1/2019).

    Kepada Ekspres Alip menyampaikan, sebelum beternak Murai Batu, pihaknya telah menengkarkan beberapa burung. Ini dimulai dari Kenari, Kacer. Koci, Love Brid hingga akhirnya sampai kepada Murai Batu. Alasan paling mendasar, harga Murai Batu cenderung setabil bila dibandingkan dengan burung lainnya. “Kalau harga burung bisa tinggi dan bisa juga anjlok dengan sangat singkat. Namun untuk Murai Batu, cenderung lebih stabil,” katanya.

    Perawatan Murai Batu tergolong gampang-gampang susah. Intinya sebuah hewan dapat hidup dan berkembang biak manakalan merasa nyaman dan terpenuhi segala kebutuhanya. Untuk itu suasana alam seperti suara gemercik air, pencahayaan dari sinar matahari serta suhu yang stabil perlu diperhatikan. “Makanan yang diberikan berupa Jangkrik, Ulat Hongkong dan kroto. Adapun ukuran kandang yakni panjang 2 meter lebar 1 meter dan tinggi 2 meter,” paparnya.

    Menangkar burung dimulai dari penjodohan. Jika mulus seminggu setelah dijodohkan burung dapat bertelur. Namun jika kondisi sedang tidak beruntung enam bulan ditangkar burung belum juga mau berjodoh apalagi produksi. Setelah bertelur,  burung akan mengalami masa pengeraman sekitar 12 hari. Seminggu setelah itu anak diambil dan diloloh dengan bantuan manusia. “Kalau sudah jalan sebulan sekali bisa panen anakan. Sepasang umumnya akan menghasilkan anakan tiga ekor,” tegasnya.

    Disinggung mengenai harga, Alip sendiri mengatakan tidak ada patokan pasti. Namun untuk anakan umur satu minggu harga sekitar Rp 1 juta. Untuk indukan sangat bervariasi mulai dari Rp 7 juta perpasang hingga tak terhingga. Semua itu melihat kualitas dan kuantitas burungnya. “Selain beternak kami juga menjual gelang berbagai jenis burung. Mulai dari gelang merpati hingga kolibri.” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top