HONDA BEAT

  • Berita Terkini

    Rabu, 09 Januari 2019

    3 Tahun Nyantri di Padepokan Kyai Syawal, Warga Karangsambung "Hilang"

    foto saefur/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Hasanudin (53) alias Kyai Syawal, akhirnya merasakan dinginnya jeruji besi. Pria yang mengaku keturunan nabi dan saat ini menyebut dirinya wali itu, ditahan karena kasus kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur.

    Dukungan kepada Polres Kebumen untuk mengusut tuntas perkara Kyai Syawal pun terus mengua dari sejumlah pihak. Belakangan terungkap, ada santri Kyai Syawal yang hingga saat ini tak diketahui keberadaannya.

    Adanya santri yang menghilang diungkapkan Yatikem (70), warga RT 2 RW 5 Dukuh Era Gumiwang Desa Pujotirto Kecamatan Karangsambung. Khoerudin (32) yang tak lain anak kandung Yatikem, sudah tidak diketahui keberadaannya selama 3 tahun terakhir.

    Kabar terakhir menyebutkan, Khoerudin diminta menjalani puasa setelah sebelumnya sudah melakukan ritual sama dan dinyatakan lolos dan berhak menyandang gelar Wali.
    "Katanya sempat lolos puasa 40 hari, dan melakukan puasa lagi namun kabar beredar dia diambil oleh Kyainya dari Banyuwangi Jawa Timur. Namun sampai sekarang tidak ada kabar," kata Yatikem dengan raut sedih, Selasa (8/1/2019).

    Dia kini hanya bisa pasrah. Yang penting, anaknya tersebut bisa pulang ke rumah. "Saya rela hutang uang banyak, yang penting anak saya bisa pulang," katanya.

    Tak kalah sedih, tetangga Yatikem, Tofikurohman. Pikiran buruk pun terlintas di benak Tofikurohman. Apalagi, dia berkeyakinan, Kyai Syawal telah mengajarkan ilmu sesat kepada anaknya tersebut. Setidaknya, itu berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri.

    Diapun lantas menceritakan kronologi hingga kemudian anak kandungnya, M Makinudin Zuhri, nyantri kepada Kyai Syawal.  Pada awalnya, anaknya meminta ijin untuk mondok di tempat Kyai Syawal. Sebagai ayah, Tofikurohman pun mengijinkan. Apalagi, M Makinudin Zuhri tak sendiri nyantri disana. Dia bersama dua teman satu desa,  Syarif (32) dan Khoerudin (35).

    Dari ketiga orang itu, hanya Syarif yang saat ini sudah menjalani kehidupan normal karena menyadari telah menjadi korban penipuan Kyai Syawal. Sementara, M Makinudin Zuhri dan Khoerudin tak diketahui nasibnya.

    Rangkaian kejadian itu membuat Tofikurohman menyadari, ajaran Kyai Syawal sesat dan menyimpang dari agama Islam sebagaimana diyakini selama ini. "Saya tahu bahwa ajaran itu sesat dari cerita Syarif (teman Makinudin)yang pernah jadi murid. Kyai Syawal menghalalkan pernikahan antara saudara kandung. Mendengar itu, saya langsung melarang keras anak saya untuk mengikutinya (Kyai Syawal). Bahkan haram untuk mempercayainya," kata Tofik.

    Tofik kemudian meminta Makinudin pulang dan merukyahnya agar sadar. Tak berhenti sampai disitu, Tofik lantas memindahkan anaknya ke salah satu pondok pesantren di Solo Jawa Tengah.

    Yang terjadi kemudian, Makinudin  malah kembali ke tempat Kyai Syawal. Bahkan kemudian, ada kabar Makinudin berperan sebagai perekrut para korban Kyai Syawal, yakni gadis-gadis di bawah umur untuk diperistri. Selain mencarikan istri bagi sang Kyai, Makinudin juga mendapat tugas sebagai Penghulu yang menikahkan para korban dengan Kyai Syawal.

    Tofikurohman meyakini, apa yang dilakukan anaknya tersebut tak lain karena pengaruh Kyai Syawal. "Anak saya jadi korban doktrinasi Kyai Syawal. Jika anak saya terseret hukum saya pasrah, semoga dari situ anak saya bisa kembali sadar. Dan saya minta kyai  Syawal dihukum berat," katanya penuh penyesalan.

    Pendapat senada dilontarkan rekan-rekan Makinudin. Nur Amin teman SD yang masih bertetangga, mengatakan Makinudin bertingkah aneh dan tidak wajar sejak menjadi santri Kyai Syawal. Makinudin, katanya, mengganggap ajaran agama pada umumnya sesat karena tidak sama dengan ajaran Hasanudin alias Kyai Syawal.

    Kepada warga, Makinudin juga sempat menyebut bahwa akhirat itu bisa dibeli. Bila ada orang mau masuk syurga bisa memberikan mahar kepada kyai Syawal."Katanya makin nilai yang ditawarkan jutaan. Bahkan tetangga saya bernama Syarif sampai jual sawah, alas untuk berguru ke Kyai Syawal katanya mahar itu bisa membeli surga," kata Nur Amin.

    Catatan Kebumen Ekspres, Kyai Syawal pernah berurusan dengan polisi pada tahun 2016 silam. Ini setelah ada kejadian pembongkaran makam salah satu santrinya, Abdul Ghofur (32). Jasad warga RT 2 RW 1 Desa Logandu Kecamatan Karanggayam  itu dimakamkan di area rumah Kyai Syawal, tepatnya dibawah jemuran baju milik keluarga.
    Belakangan diketahui, Abdul Ghofur meninggal setelah berpuasa 40 hari empat puluh malam. Namun saat itu, Kyai Syawal tidak sampai ditahan karena meninggalnya Abdul Ghofur karena keinginannya sendiri untuk melakukan ritual tapa.(saefur/cah)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top