Honda

Honda
Jogja
  • Berita Terkini

    Rabu, 26 Desember 2018

    Tahun 2019, Pelaku Wisata Kebumen Dituntut Bersinergi

    sudarno ahmad/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Tahun 2019 industri pariwisata Kebumen akan menghadapi berbagai peluang dan tantangan baru. Beroperasinya Bandara Internasional Yogyakarta pada April 2019 dan beroperasinya jalur ganda kereta api serta rampungnya jalan raya jalur selatan potensial mengangkat industri wisata.

    Namun perlu disikapi pula persaingan yang semakin ketat antarwilayah di sekitar Kebumen serta semakin meningkatnya tuntutan wisatawan terhadap berbagai produk wisata.

    Semua itu perlu disikapi dengan membangun sinergitas para pelaku wisata di Kebumen serta penyusunan strategi pengembangan wisata yang komprehensif, realistis, tanggap terhadap pasar namun tetap mengedepankan potensi lokal. Demikian kesimpulan yang muncul dalam diskusi akhir tahun yang diadakan di Roemah Martha Tilaar, Sabtu (22/12/2018).

    Hadir dalam kesempatan itu unsur pemerintah daerah, Perhimpunan Hotel dan Restauran (PHRI), Himpunan Pemandu Indonesia (HPI), biro wisata, pengelola obyek wisata, pegiat media sosial dan pemerhati wisata lainnya. Hadir pula M Harysa Pambudi, dari lembaga pengembangan wisata Caventer.

    Salah satu pemilik usaha rental mobil wisata, Wira, mengungkapkan bahwa wisatawan yang selama ini dilayaninya sebagian besar masih menempatkan Kebumen sebagai wisata transit bukan tujuan utama.“Kebanyakan tamu saya merangkai Kebumen dengan wisata Dieng, Baturaden dan Yogyakarta. Masih jarang yang menempatkan Kebumen sebagai destinasi utama," jelas Wira.

    Selain karena fasilitas penginapan masih terbatas, kata Wira, juga banyak tempat wisata yang berkarakter sama. Sehingga misalkan ke pantai cukup satu saja karena yang lain juga mirip.

    Sementara salah satu pengamat wisata dan travel blogger, Iqbal Kautsar, menyoroti masih banyaknya komunitas yang mengembangkan tempat wisata tanpa konsep yang matang.

    Menurut Iqbal, ada beberapa hal mendasar yang sering diabaikan oleh komunitas pengelola destinasi di Kebumen. Yaitu kelembagaan, konsep yang diusung, dan inisiatif lokal untuk mengembangkan pasar, dan pengadaan fasilitas. "Perlu ada pendampingan dan pencerahan baik dari pemerintah maupun pelaku industri wisata lain agar komunitas lebih mampu menyusun langkah yang terarah," ujar Iqbal.

    Kabid Perekonomian BAP3DA Kebumen, Yunita Prasetyani, mengapresiasi adanya forum diskusi tersebut. “Harus kita akui masih banyak hal yang harus dibenahi kalau kita ingin pariwisata Kebumen mampu bersaing di tingkat lokal," terangnya.

    Menurutnya, disinilah dibutuhkan sinergitas para pemangku kepentingan, baik swasta, pemerintah maupun komunitas. "Forum diskusi lintas pemangku semacam ini sangat baik dilakukan secara reguler agar langkah yang diambil setiap pihak bisa seirama dan searah dengan pihak yang lain,” kata Yunita.

    Menyinggung soal Geopark Karangsambung Karangbolong, para peserta diskusi sepakat bahwa hal ini memiliki potensi besar untuk menjadi daya ungkit pariwisata. Diyakini produk wisata,cinderamata dan lainnya akan mendapatkan nilai tambah yang signifikan jika dikaitkan dengan konsep geopark.

    Pemandu diskusi, Sigit Asmodiwongso, menyinggung mengenai perlunya pemetaan potensi wisata yang lebih realistis menyikapi semakin maraknya perkembangan desa wisata dan inisiasi komunitas mengembangkan destinasi wisata. "Janganlah karena euforia wisata kemudian setiap tempat bermimpi menjadi tempat wisata," tegasnya.

    Lebih jauh, Sigit, menyampaikan di Kebumen memang ada tempat yang layak menjadi tujuan wisata. Namun tempat lain mungkin akan berkembang lebih baik jika menempatkan diri sebagai daerah penunjang. "Baik dalam bentuk pemasok produk cinderamata maupun penyedia produk turunan seperti kuliner dan penginapan,” tutupnya.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top