• Berita Terkini

    Jumat, 07 Desember 2018

    PNS Purworejo Pakai Bahasa Jawa Setiap Kamis

     ekosutopo/purworejoekspres
    PURWOREJO - Pemerintah Kabupaten Purworejo menerapkan penggunaan bahasa Jawa bagi seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN) di Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam komunikasi kegiatan kedinasan setiap hari Kamis. Pemberlakuan aturan tersebut merupakan terusan dari amanat Gubernur Jawa Tengah tentang penggunaan bahasa lisan di lingkungan Pemprov Jateng dan kabupaten/kota se-Jateng.

    Penerapan bahasa Jawa mulai terlihat saat apel pagi di halaman Setda Purworejo, Kamis (6/12/2018). Pantauan di lapangan, para pegawai di lingkungan Setda mengikuti upacara menggunakan bahasa Jawa yang dipimpin oleh Aisiten I Genthong Sumharjono dan pembina upacara Sekda Purworejo, Said Romadhon. Meski sesekali ada  senyum dan tawa karena terkesan beda, apel berlangsung khidmat hingga usai.

    Dikonfirmasi usai apel, Said mengungkapkan bahwa penggunaan bahasa Jawa menjadi upaya pemerintah melestarikan budaya dan bahasa Jawa. Bahasa tersebut ditekankan untuk menyelaraskan fungsi dan internalisasi bahasa dalam kehidupan bermasyarakat.

    “Mulai hari ini dan hari-hari Kamis selanjutnya bahasa Jawa menjadi bahasa yang akan digunakan untuk kegiatan kedinasan,” ungkapnya.

    Meski demikian, lanjutnya, rapat-rapat yang dilakukan pada hari Kamis dapat lebih fleksibel, yakni menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Hal itu mengingat tidak semua pegawai mahir bertutur bahasa Jawa. Terlebih mereka yang berasal dari luar daerah Jawa.

    “Tetap melihat situasi, karena tidak semua pegawai mahir berbahasa Jawa, banyak yang dari luar daerah. Beberapa SKPD sudah menjalankanya, sebisanya dulu. Ini sifatnya baru himbauan dan perlahan-lahan kita budayakan,” sebutnya.

    “Bahasa Jawa itukan ada tiga tingkatan, yang kita gunakan itu bahasa Jawa tingkat madya belum krama inggil,” imbuhnya.

    Sekda menambahkan, penggunaan bahasa Jawa juga dilakukan untuk mengenali nilai-nilai estetika, etika, moral, dan spiritual yang terkandung dalam budaya Jawa. Di samping itu, menggunakan bahasa Jawa juga dapat menjadi wahana untuk pembangunan karakter.

    “Kalau di provinsi setiap tanggal 15 juga diharuskan menggunakan busana adat Jawa masing-masing, kita belum, kita lakukan itu (busana adat) setiap peringatan hari jadi,” jelasnya.

    Diterapkanya bahasa Jawa sebagai bahasa kedinasan diharapkan membuat bahasa Jawa tidak lagi asing di telinga. Selain itu diharapkan generasi muda tetap memiliki jati diri Jawa yang sarat dengan nilai-nilai estetika, moral, dan spiritual di tengah pengaruh era modernisasi. (top)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top