Honda Vario Duo 20-21 Feb 2019

  • Berita Terkini

    Selasa, 18 Desember 2018

    Kabar Isu Gempa dan Tsunami Hoak, Berikut Penjelasannya

    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Kabar tsunami yang bakal menghantam pesisir selatan Kabupaten Kebumen pada Selasa, 18 Desember 2018 dipastikan hoaks (berita bohong). Sebab ilmu kegempaan beserta teknologi yang telah dikembangkan sejauh ini belum mencapai taraf untuk ramalan semacam itu.

    Isu tersebut beredar luas di wilayah pesisir Kebumen sejak dua bulan terakhir. Isu bakal terjadinya gempa bumi dan tsunami di Kabupaten Kebumen merebak pasca bencana Gempa Donggala–Palu, 28 September 2018 (magnitudo 7,5) silam.

    Peneliti bencana pada Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim, Muh Ma'rufin Sudibyo, menegaskan dengan membaca semesta yang menjadi bagian dari ayat–ayat Sang Pencipta, isu tersebut dapat dipastikan merupakan hoaks. Atau kabar–bohong yang tak punya dasar.

    "Akan tetapi di sisi lain Kabupaten Kebumen memang menjadi bagian dari kawasan rawan tsunami di pesisir selatan Pulau Jawa. Sebaiknya kewaspadaan dan langkah–langkah antisipasinya terus dipertahankan," ujarnya, saat dihubungi, Senin (17/12).

    Menurutnya, pada Selasa 16 Oktober 2018, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kebumen menggelar Rapat Koordinasi Rencana Kontijensi Tsunami yang melibatkan para pihak terkait. Selain me–review bencana tsunami pada kejadian Gempa Donggala–Palu 2018, juga mengingatkan kembali akan langkah–langkah penanggulangan bencana tsunami di Kebumen.

    Namun di jagatmaya, melalui aneka media sosial, justru beredar klaim rapat koordinasi ‘meramalkan’ bakal terjadi gempa dan tsunami pada 18 Desember 2018. Klaim sesat ini pun menyebar kemana–mana dan meresahkan banyak pihak. Meski BPBD Kebumen dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan klaim itu tidaklah benar dan terkategori hoaks.

    "Hoaks itu mencatut nama sesar (patahan) Lasem. Mengacu pada buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 hasil kerja Pusgen (Pusat Studi Gempabumi Nasional) Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat," bebernya.

    Sesar Lasem adalah sesar aktif sepanjang 70 kilometer yang berlokasi di Jawa Tengah bagian utara. Tepatnya di daratan Semenanjung Muria, membentang mulai dari sisi selatan Demak hingga Rembang. Sesar ini tidak berada di Jawa Tengah bagian selatan.

    Sebagai sesar darat, mustahil bagi sesar Lasem untuk bisa memproduksi tsunami. Karena ilmu kegempaan mengajarkan, tsunami hanya bisa terjadi manakala sumber sebuah gempa tektonik terdapat di dasar laut dan cukup luas sehingga mampu mengangkat atau mengambleskan bagian dasar laut persis diatasnya.

    "BMKG menjelaskan bahwa setiap bentuk ‘ramalan’ bakal terjadinya peristiwa gempa bumi merupakan hoaks. Sebab ilmu kegempaan beserta teknologi yang telah dikembangkan sejauh ini belum mencapai taraf untuk ramalan semacam itu," kata dia.

    Menurut Ma'rufin, sepanjang sejarah modern hanya ada satu kisah yang dianggap sukses terkait peramalan gempa bumi. Yakni dalam Gempa Haicheng 1975 di Cina. Dianggap sukses karena jutaan orang berhasil dievakuasi pada waktu yang tepat, meski di sisi lain tetap diperdebatkan karena tak kurang dari 2.000 orang tewas dalam gempa tersebut.

    Namun begitu setahun kemudian Cina tak berdaya kala Gempa Tangshan 1976 mengguncang di dekat kota Beijing dan menewaskan tak kurang dari 700.000 orang. Menjadikannya salah satu gempa bumi paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia.

    Disisi lain, lanjut Ma'rufin, terlepas dari hoaks gempa 18 Desember 2018, dia mengajak warga untuk tetap waspada. Terlebih pesisir Kabupaten Kebumen merupakan salah satu kawasan rawan tsunami di Indonesia. Sebab, 200 kilometer di sebelah selatan Pulau Jawa membentang Palung Jawa, penanda khas zona subduksi antara lempeng oseanik Australia dengan lempeng Sunda (Eurasia) yang mengalasi Pulau Jawa.

    "Pusgen menyimpulkan zona subduksi ini aktif dan berkemampuan melepaskan gempa besar yang bisa memproduksi tsunami merusak. Sejumlah riset menegaskan hal tersebut, termasuk diantaranya di Kabupaten Kebumen," tegasnya.

    Lebih jauh, dia memaparkan, uji paritan (trenching) di salah satu titik di Pantai Logending menunjukkan telah terjadi sedikitnya tiga peristiwa tsunami merusak di pesisir Kebumen dalam 1,5 abad terakhir. Masing–masing tsunami 1883, tsunami 1982 dan tsunami 2006. Pengujian sejenis di sepanjang pesisir selatan Jawa mulai dari Pandeglang (Banten) hingga Pacitan (Jawa Timur) membuktikan hal yang sama. Bahkan pernah terjadi tsunami besar pada 4 abad silam.

    Takdir kebumian menempatkan Kabupaten Kebumen memiliki pantai berdataran rendah yang tak berbenteng perbukitan kapur sebagaimana halnya pesisir selatan Jawa Barat dan Jawa Timur.

    "Kalau terjadi tsunami di pesisir Kebumen, akan mampu memasuki dataran lebih jauh ketimbang (misalnya) tsunami di Gunungkidul. Kekhasan ini menjadikan Kabupaten Kebumen sebagai wilayah administratif kedua dalam tingkat kerawanannya terhadap bencana tsunami yang akan datang. Setelah Cilacap, berdasarkan publikasi BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) pada 2012 silam," paparnya.

    Ia menambahkan, langkah antisipasi sudah mulai dilakukan, salah satunya lewat terwujudnya peta bahaya tsunami dan peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen. Peta ini dilengkapi jalur–jalur evakuasi yang telah bertanda, titik–titik TPS (tempat pengungsian sementara) dan TPA (tempat pengungsian akhir) serta prosedur evakuasi di sejumlah lokasi.

    "Antisipasi tsunami dan bencana alam pada umumnya bukan semata tugas lembaga penanggulangan bencana. Itu bagian dari kepentingan kita semua, warga Kabupaten Kebumen," tandasnya.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top