Honda Vario Duo 20-21 Feb 2019

  • Berita Terkini

    Senin, 03 Desember 2018

    Hadiri Aksi Mujahid 212, Dielukan Presiden, Prabowo Tolak Kampanye

    fotojawapos
    JAKARTA - Kehadiran calon presiden Prabowo Subianto menjadi momen yang ditunggu-tunggu dalam reuni 212. Dalam aksi yang berganti nama menjadi Mujahid 212 itu, jutaan massa meneriakkan dan mengelukan sosok Prabowo sebagai Presiden.


         Kendati Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sudah memperingatkan agar tidak dilakukan kampanye di aksi 212 itu, teriakan bernuansa isu pemilu presiden kerap terdengar. Sejak Prabowo tiba di komplek lapangan Monas sekitar pukul 07.40, teriakan Prabowo berbalas Presiden bermunculan.


         Tidak hanya itu, sebutan 'Ini dia Presiden kita' juga sempat disebut dalam aksi Mujahid 212. Acungan salam dua jari khas pasangan Prabowo-Sandi juga sempat muncul, rekaman Habib Rizieq Shihab yang menyinggung 2019 Ganti Presiden, ditambah diputarnya lagu berjudul 'Astaghfirullah, Punya Presiden Raja Bohong' berkumandang di sekeliling Monas.


         Meski sebutan-sebutan itu silih berganti muncul, Prabowo memilih lebih banyak diam, dan hanya menyampaikan balasan salam melalui tangan. Saat menyampaikan sambutan, Prabowo juga mengingatkan dirinya dan kepada jutaan massa Mujahid 212, bahwa ada larangan berkampanye dalam aksi itu.


         "Saya sekarang telah mendapat tugas dan amanah sebagai calon presiden RI. Karena itu saya harus patuh dan mengikuti semua ketentuan. Saya tidak boleh bicara politik pada kesempatan ini, saya tidak boleh kampanye," kata Ketua Umum Partai Gerindra itu.


         Prabowo mengaku bangga mendapat kesempatan diundang. Saat itu dirinya melihat banyak umat Islam yang hadir di Reuni 212. Prabowo bangga, umat Islam yang hadir bisa menjaga ketertiban.


         "Tadi saya datang dari Kebayoran, saya lihat warga jalan dengan tertib, damai, luar biasa, saya bangga hari ini, saya bangga sebagai anak Indonesia, saya bangga sebagai Muslim di Indonesia," ucap Prabowo.


         Prabowo angkat bicara terkait kekhawatiran aksi 212 yang berpotensi merusak. Dirinya taktuju bila umat Islam dicap radikal. Menurutnya, framing bahwa umat Islam radikal adalah tidak berdasar.


         "Seperti kita lihat, ada semangat persaudaraan ketertiban ada rasa bahwa menjadi muslim itu tidak berarti harus mendorong kekerasan. Kan ini ada framing sedikit-sedikit kalau orang Islami cenderung ke radikal. Itu tidak benar," kata Prabowo.


         Terpisah, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menepis ada tudingan kampanye dalam aksi 212. Menurut dia, teriakan yang disampaikan massa, termasuk pernyatan Rizieq merupakan aspirasi dari masyarakat.


         "Emang kenapa kalau kita menyatakan 2019 ganti presiden? Emang mana salahnya, di mana letak kesalahannya? Dari sudut UU juga nggak ada," kata Fadli.


       Menurut Fadli, sah-sah saja jika ada aspirasi yang menyatakan ganti Presiden. Fadli meminta siapapun pihak tidak menanggapi berlebihan atas dinamika yang muncul di aksi 212. "Saya kira sah, orang boleh berpendapat, kalau ada pendapat lain, ya silakan," ujarnya.


         Sementara itu, di momen reuni 212, Presiden Joko Widodo memilih untuk beraktifitas di Bogor. Berbagai kegiatan dilakukan calon presiden petahana itu. Mulai dari bersepeda, meninjau program Sambung Listrik Gratis Bagi Keluarga Tidak Mampu', bertemu pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan sosialisasi penggunaan dana desa.


         Dalam kesempatan tersebut, selain berbicara terkait program, Jokowi juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kerukunan. Dia berharap, pelaksanaan pemilu tidak membuat hubungan antar masyarakat renggang. "Pesta demokrasi itu ada setiap 5 tahun. Ada terus, akan ada terus. Beda pilihan biasa, enggak apa beda pilihan itu," ujarnya.


         Jokowi juga tak lupa memberikan tips dalam menghadapi pemilihan. Menurutnya, masyarakat harus cerdas dalam memilih. Di mana aspek prestasi, rekam jejak, serta ide dan program-program yang ditawarkan harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan coblosan.


         Mantan Walikota Solo itu juga mengingatkan elit untuk tidak menggunakan kampanye yang saling mencela dalam pemilu kali ini. Apalagi yang bernuansa fitnah. "Politik yang tidak beretika dan beradab. Ini yang harus kita hindari. Jangan sampai seperti ini diteruskan. Setop, setop," pungkasnya.


         Terpisah, Wakil Presiden Jusuf Kalla menuturkan bahwa dia yakin reuni 212 itu berjalan dengan aman dan damai. Tapi dia menyebut peserta reuni itu tak sebanyak aksi 212 pada 2016. ”Bahwa banyak iya tapi tak sebanyak jutaan seperti dikemukakan pada saat 212 itu,” ungkap JK usai bertemu warga Indonesia di Argentina, Sabtu (1/12) malam.


    Pada aksi 212 saat 2016, JK bersama Presiden Jokowi juga hadir untuk salat jumat bersama para peserta aksi di lapangan Monumen Nasional. ”Yaa, jumatan, jumatan,” imbuh dia.

         Dia sekaligus menanggapi soal Jokowi yang tidak diundag pada saat reuni. Sedangkan Prabowo diundang jadi salah satu tamu kehormatan. ”Pertemuannya juga tak pernah diundang, kita tak pernah diundang 411, 212, tapi dulu pas 212 kita datang malah,” jelas dia.


         Dia meniai meskipun tidak membawa politik, tapi reuni itu memang bisa saja berdampak pada pemilu. JK menyatakan sangat sepakat bahwa tidak boleh ada bendera partai pada reuni tersebut.


    ”Artinya reuni tokoh-tokoh mereka dan diizinkan karena pengalaman dua kali tak ada masalahnya,” jelas dia. (bay/far/jun)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top