BPJS

BPJS

Job Fair 2019

  • Berita Terkini

    HONDA CBR 150

    Rabu, 17 Oktober 2018

    Yogo, Atlet Banyumas yang Harumkan Indonesia di Ajang ASEAN Para Games

    fotoaliibrahim/radarbanyumas
    Selalu Bayangkan Dikejar Anjing Saat Tanding

    Di kampungnya, Desa Ciberung, Kecamatan Ajibarang, Sapto Yogo Purnomo hanyalah pemuda biasa. Tapi di atas trek lari, kaki Sapto mengantarkan dua emas untuk Indonesia di Asian Para Games 2018, multievent atlet disabilitas terbesar se-Asia.

    ----------------------
    ALI IBRAHIM, AJIBARANG
    ----------------------

    Tahun ini, Sapto mengukuhkan statusnya sebagai atlet tercepat se-Asia di nomor lari 100 meter dan 200 meter T37 putra. Tahun lalu, di ASEAN Para Games, Sapto juga meraih emas di dua nomor yang sama, kelas T38.

    Lebih luar biasa lagi, emas Sapto di nomor 100 meter T37 pada Selasa (9/10) memecahkan rekor se-Asia dengan catatan 11,49 detik. Sebelumnya rekor dicetak Liang Yongbin (China) di Paralimpiade London 2012 dalam waktu 11,51 detik.

    Ditemui di kediamannya, Sapto nampak tersipu malu dan menjawab seadanya dengan logat Banyumas kentalnya. "Ya pasti senang sekali. Itu juga karena dukungan penonton dan saudara-saudara yang menonton langsung. Terutama juga orang tua (bapak) yang hadir," katanya yang mengidolakan pelari internasional Usain Bolt ini.

    Selama ini, atlet kelahiran 17 September 1998 ini sangat jarang bertemu orang tua sejak tergabung di pemusatan latihan nasional (pelatnas) Asian Para Games 2018 di awal tahun. "Pengorbanan terberat itu meninggalkan kampung. Harus pemusatan latihan di Solo," katanya.

    Dengan emas yang direngkuhnya di level Asia Tenggara, Sapto pun otomatis menjadi salah satu andalan Indonesia di level Asia. Melawan rasa gugupnya, Sapto bercerita bahwa ia hanya memikirkan untuk berlari cepat, ketika start dimulai. Dari pengalamannya saat masih kanak-kanak, ia terapkan saat dalam pertandingan.

    "Saya membayangkannya dikejar anjing. DUlu saat kecil sama teman-teman pernah dikejar anjing," ucapnya sembari tersenyum membayangkan masa itu.

    Sebelum memecahkan rekor Asia, emas pertamanya lebih dulu diraih di nomor 200 meter T37 pada Senin (8/10) dengan catatan waktu 23,76 detik. Sementara di kelas 400 meter ia

    gagal lantaran mengalami kram kaki. "Sebenarnya sudah sejajar dengan pelari yang paling depan, tapi kaki kanan kram dan terjatuh," terangnya.

    Bakat larinya itu pun sudah tercermin sejak Sapto masih bersekolah SMK. "Sebelum jadi atlet, saya keseharian main saja, paling hanya sepak bola. Lulus SMK tidak ada cita-cita, karena kondisi saya tidak senormal yang lain. Tapi kenal lari waktu sekolah, diarahkan guru, namanya bu Winda. Dia tahu saya ada kekurangan tapi diarahkan," tuturnya.

    Kini, ia dengan statusnya sebagai atlet 100 meter dan 200 meter T37 tercepat, Sapto akan menghadapi pekerjaan rumah yang lebih berat jelang Paralimpiade 2020 di Tokyo,

    multievent paling prestisius di dunia olahraga disabilitas.

    "Persiapan mulai dari sekarang, sudah latiahan terus," kata Sapto. Dari dua emasnya di Asian Para Games 2018, bonus total Rp 3 miliar pun sudah pasti masuk dalam rekeningnya.

    "Rencananya uangnya mau buat beli tanah dan naik haji bareng orang tua," jelasnya.

    Sementara ibu Sapto, Umiyati mengatakan kondisi yang menyebabkan lengan dan jari tangan kanan menekuk serta kaki kanan yang timpang saat berjalan itu dialami Sapto sejak berumur tiga bulan.

    Masa-masa SMP menurut Umiyati merupakan masa terberat Sapto. "Katanya sering diejek teman-temannya, bahkan sering membolos karena takut dan malu," katanya. Menurutnya, guru sekolahnya juga sering ke rumah Yogo, menanyakan keadaannya.

    "Dari umur 14 tahun, Sapto sudah masuk tim sepak bola umum dan sering ikut pertandingan antar desa," kata Umiyati. Setelah masuk SMK, Sapto mulai serius berlatih atletik, khususnya lari jarak pendek dan lompat jauh, berkat arahan guru olahraganya.

    Umiyati melanjutkan, sejak SMK itulah, sudah banyak prestasi yang diraihnya di nomor atletik. "Sudah banyak, jumlah pastinya tidak tahu. Yang tahu pasti ya Sapto, tapi sekarang dia belum pulang," jelasnya.

    Kejuaraan pertama di Pekan Paralimpic Pelajar Nasional (Peparpenas) 2015 mendapat dua emas, Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2016 lima emas, debut di Internasional di Malaysia (ASEAN Para Games) meraih dua emas dan satu perak. Dan di tahun 2018 ini, ia menambah dua emas di Asian Para Games. (*)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top