Honda

Honda
Jogja
  • Berita Terkini

    Selasa, 09 Oktober 2018

    Siapkah Kebumen Menghadapi Tsunami?

    Muh Ma'rufin Sudibyo
    Mimpi buruk itu datang pada Jumat 28 September 2018 TU (Tarikh Umum) lalu. Selagi Matahari mulai terbenam, mendadak bumi Teluk Palu dan sekitarnya bergetar hebat pada magnitudo 7,4. Sebuah retakan panjang, 150 kilometer panjangnya, membelah Bumi dari Lompio (Kabupaten Donggala) di utara hingga Dolo Selatan (Kabupaten Sigi) di selatan. Retakan yang sebagian diantaranya tepat berimpit dengan sesar Palu–Koro nan legendaris itu pun lewat juga di Kota Palu.

    Sisi timur retakan bergeser ke utara sejauh relatif 5–6 meter (rata–rata) terhadap sisi baratnya, membuat aneka infrastruktur yang kebetulan berdiri diatasnya terbelah dan ambruk. Getaran sangat hebat merebak, pada intensitas hingga 9 MMI (Modified Mercalli Intensity). Tak ada orang yang mampu berdiri tegak tanpa bertumpu kala dipapar getaran sehebat ini. Tak ayal kepanikan pun melanda, terlebih banyak bagian bangunan yang mulai berjatuhan laksana hujan.

    Begitu gempa mulai mereda dan Kota Palu berjuang mengatasi rasa panik yang meraja sembari mencoba memahami apa yang sesungguhnya terjadi, perairan laut nan tenang yang selama ini mempercantik wajah kota mulai bergerak. Kombinasi naiknya sedikit dasar laut dan longsoran besar tebing dasar laut memproduksi olakan hebat yang lantas dijalarkan sebagai gelombang panjang. Berderap pada kecepatan sekitar 300 km/jam, awalnya ia kecil. Namun lama kelamaan kian membesar sembari kian melambat begitu makin mendekati pesisir.

    Hanya dalam 10 menit dari awal gempa, gelombang pembunuh itu tiba di pesisir Kota Palu yang tak siap. Saat tiba di garis pantai lajunya mungkin tinggal 30 km/jam, namun tingginya membengkak hingga 10–11 meter! Tak ayal, terjangannya ke daratan merayahi kota hingga 500 meter jauhnya dari garis pantai, menyapu apa saja yang dilewatinya. Termasuk manusia. Korban pun berjatuhan hingga ratusan jiwa. Hingga saat ini secara keseluruhan lebih 1.700 jiwa  terenggut dalam bencana gempa yang diikuti tsunami dan kejadian likuifaksi berskala mengerikan. 

    Tsunami Palu membikin pening karena dua hal. Pertama, ia bertolak belakang terhadap pemahaman dasar ilmu kegempaan. Gempa Palu–Donggala 2018 disebabkan oleh pematahan geser (strikeslip), sehingga pergerakan antar sisi retakannya didominasi gerak mendatar. Bukan jenis gerak naik/turun yang bisa mendeformasi dasar laut. Maka faktor lain turut berperan, diduga kuat adalah longsoran bawahair Teluk Palu pada lokasi di antara pesisir Kota Palu dan Pelabuhan Pantoloan. Dan yang kedua, sistem peringatan dini tsunami yang eksis saat ini tidak memadai dalam menghadapi bencana tsunami Palu. Sebab tsunami datang terlalu cepat, hanya dalam 10 menit. Tsunami Palu mengajarkan kepada kita semua betapa peringatan dini tsunami terbaik adalah yang tertanam dalam benak setiap insan. 

    Potensi Tsunami Kebumen

    Pasca Palu, bagaimana dengan Kebumen tercinta?
    Rentannya pesisir Kab. Kebumen terhadap bencana tsunami sudah dipublikasikan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sejak 2012 TU silam. Kebumen adalah wilayah administratif paling rawan tsunami kedua se – Pulau Jawa dengan 220.800 penduduk berpotensi terpapar. Ini disebabkan dari 58 kilometer garis pantai, 45 kilometer diantaranya adalah pantai datar produk menghilangnya bentang Pegunungan Selatan dari pesisir Bantul hingga Cilacap. Sehingga tiada lagi penghalang alamiah yang mampu menyekap tsunami. Kecuali jajaran bukit–bukit pasir yang kini pun kian menghilang seiring aktivitas penambangan.

    250 kilometer di sebelah selatan pesisir Kebumen terdapat Palung Jawa, jurang bawah laut tempat lempeng tektonik Australia  melekuk bersubduksi ke bawah lempeng tektonik Sunda (Eurasia) yang mengalasi pulau Jawa. Palung ini adalah bagian  jalur palung laut ribuan kilometer yang membentang dari lepas pantai pesisir Aceh hingga Bali. Jalur palung laut ini merupakan generator gempa–gempa bumi tektonik berskala besar hingga akbar yang kerap memproduksi tsunami merusak. Bencana tsunami paling mematikan dalam sejarah peradaban umat manusia dipicu salah satu bagian jalur palung laut ini. Yakni tatkala segmen sepanjang 1.600 kilometer terpatahkan dan memproduksi Gempa megathrust Aceh 2004.

    Pengalaman terakhir Kebumen dalam menghadapi bencana tsunami adalah pada Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 (magnitudo 7,7). Tinggi tsunami yang menerpa pesisir Kebumen bervariasi dari terendah 2,5 meter (Suwuk) hingga tertinggi 7 meter (Logending). Bencana ini menewaskan 16 orang dan 41 orang lainnya hilang. Akan tetapi penelitian–penelitian kebumian terkini menunjukkan di masa depan pesisir Kebumen masih berpotensi dilimbur tsunami. Dan bisa lebih besar.

    Penggalian di Sindutan, di dekat calon lokasi bandara Kulonprogo (DIY) berhasil menguak jejak peristiwa tsunami besar pada 1.800 tahun silam. Penggalian lain di Cikembulan, Pangandaran (Jawa Barat) menemukan endapan serupa namun berusia jauh lebih muda, produk tsunami besar sekitar 400 tahun silam. Ini menunjukkan pesisir selatan Pulau Jawa secara periodik kerap dilimbur tsunami besar pada selang waktu ratusan tahun sekali. Sebagai pembanding, periode perulangan tsunami besar di pesisir barat Pulau Sumatra adalah 200 hingga 600 tahun sekali. Selain tsunami besar, tsunami–tsunami yang lebih kecil pernah menerpa pesisir Kebumen seperti tsunami 1883, tsunami 1921 dan tsunami 1930.

    Di sisi lain, Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 dari Pusgen (Pusat Studi Gempa Bumi Nasional) Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, mencantumkan tiga sumber gempa besar potensial pembangkit tsunami di sepanjang palung laut dari Selat Sunda hingga Bali. Ketiganya adalah segmen Selat Sunda (panjang 280 km), segmen Jawa Barat (panjang 320 km) dan segmen Jawa Tengah – Jawa Timur (panjang 440 km). Ketiganya bergeser pada kecepatan rata–rata 40 mm/tahun. Jika salah satu atau bahkan ketiganya terpatahkan sekaligus sebagai gempa megathrust, tsunami yang diproduksinya akan cukup besar kala menghantam pesisir Kebumen.

    30 – 30 – 30
    Siapkah Kebumen? Pasca bencana tsunami 2006, garis pantai Kebumen telah dipetakan tingkat kerawanan tsunaminyanya lewat proyek kerjasama Jerman–Indonesia dalam GITEWS (German Indonesia Tsunami Early Warning System). GITEWS adalah  bagian dari mitigasi bencana tsunami yang memproduksi dua buah peta, masing–masing peta bahaya tsunami dan peta evakuasi tsunami. Dibentuk dua zona, masing–masing zona merah dan zona kuning. Setiap orang yang ada di zona merah harus dievakuasi manakala Peringatan Dini Tsunami dari BMKG menyatakan status "Siaga". Dan zona kuning dievakuasi manakala status "Awas" diberlakukan.

    Kedua zona itu dibentuk lewat pemodelan matematik berbasis persamaan gelombang mekanik dengan anggapan terjadi gempa megathrust hipotetik di Palung Jawa dengan magnitudo hingga 8,5. Kajian Pusgen termutakhir memperlihatkan asumsi tersebut memenuhi syarat. Lebar zona merah dan zona kuning bergantung pada lokasinya. Yakni apakah di muara Kali Bodo, atau di antara muara Kali Telomoyo hingga kali Lukulo dan antara muara kali Lukulo hingga kali Wawar. Selain peta, kawasan pesisir Kebumen juga telah dilengkapi dengan rambu–rambu evakuasi tsunami dan bahkan sejumlah skenario evakuasi tertulis di beberapa tempat.

    Masalah utama adalah bagaimana implementasinya? Bagaimana agar penduduk yang tinggal di kawasan pesisir memahami potensi bencana tsunami? Bagaimana agar zonasi yang telah dibentuk bisa diterapkan? Dalam hemat penulis hanya  ada tiga jalan :  sosialisasi, latihan dan pendidikan. Sesempurna apapun sebuah peta dibuat di atas kertas, ia takkan bermanfaat bila tak disosialisasikan ke masyarakat. Lembaga seperti BPBD Kebumen maupun PMI Cabang Kebumen bisa menggelarnya, demikian juga dengan kelompok–kelompok masyarakat. 

    Jalan kedua adalah latihan (tsunami drill). Masyarakat pesisir sebaiknya diajak berlatih simulasi tsunami secara periodik. Sehingga dapat memahami konsep 30 – 30 – 30 (jika gempa berlangsung minimal 30 detik, ada waktu 30 menit untuk keluar dari zona merah, atau mengevakuasi diri ke tempat berketinggian minimal 30 meter). Dan jalur–jalur evakuasi serta lokasi titik–titik penerimaan pengungsi bisa lebih melekat dalam benak setiap insan. Dan jalan yang ketiga adalah pendidikan, khususnya bagi generasi muda. Pendidikan tentang bencana alam khususnya tsunami sekaligus pengenalan peta bahaya dan peta evakuasi serta simulasinya seyogyanya bisa dilakukan pada siswa–siswi di sekolah–sekolah kawasan pesisir Kebumen. Sebab mitigasi tsunami adalah apa yang telah tertanam dalam benak tiap insan.

    Di samping itu dalam hemat penulis, Pemkab Kebumen memiliki pekerjaan rumah sekunder menyiapkan sarana infrastruktur peringatan dini tsunami. Misalnya, mendirikan menara sirene peringatan dini tsunami untuk jarak tertentu di sepanjang pesisir seperti yang pernah direncanakan. Juga menyiapkan konsep SMS blasting khusus, layanan pesan singkat yang mampu dikirim secara massif kepada penduduk Kab. Kebumen. Penulis juga berpendapat kelompok–kelompok masyarakat perlu dilibatkan. Selain agar tidak bersifat top–down dan tidak beraroma 'proyek', pelibatan itu akan menguatkan kapasitas publik Kebumen dalam rangka menghadapi ancaman bencana tsunami yang akan datang. 

    Jadi, siapkah Kebumen menghadapi ancaman tsunami masa datang? Siap tidak siap kita harus siap. Kita selalu berharap yang terbaik, dimana ancaman itu tidak datang. Namun di saat yang sama kita juga harus bersiap untuk yang terburuk dan untuk itulah mitigasi tsunami menjadi hal yang mutlak.(*)

    Penulis adalah Putra Kebumen, relawan dan peneliti bencana pada Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top