HONDA BEAT

  • Berita Terkini

    Jumat, 14 September 2018

    Seorang Kasi Satpol PP di Solo Ditemukan Tewas Penuh Luka

    SOLO – Kejadian tragis dialami Kepala Seksi (Kasi) Pembinaan dan Penyuluhan Bidang Penegakan Perundang-undangan Daerah Satpol PP Kota Surakarta Jaka Setiana. Pria parobaya ini ditemukan di kamar rumahnya dalam kondisi tak bernyawa dan kondisi lebam di sekujur  tubuh.

    Belum diketahui penyebab kematian Jaka. Karena keluarga menolak jasadnya diotopsi. Kemarin, jenazah warga Kampung Minapadi, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari ini langsung dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Bonoloyo, Kadipiro, Banjarsari.

    Salah satu anak almarhum, Adilla Scarlleta, 15, menuturkan, jasad korban yang dikenal kerap menertibkan PKL serta hunian liar ini ditemukan kali pertama oleh istrinya Siti Munawaroh pukul 02.00 WIB. Saat ditemukan Jaka dalam kondisi tergeletak dengan posisi telentang di lantai kamarnya yang berada di lantai 2.

    “Karena panik kemudian ibu memanggil pakde saya, Suyamto yang berada di lantai satu. Kemudian diangkat ke atas kasur,” jelas Adilla.

    Sepengatahuan Adilla, sebelum ditemukan tidak bernyawa, ayahnya keluar dengan berseragam dinas. Jaka pamit kepada keluarga untuk menjalankan penjagaan malam kirab 1 Sura Keraton Surakarta Selasa (11/9) malam. Kemudian Jaka pulang ke rumah Rabu (12/9/2018) sekitar pukul 03.30.

    “Tapi karena keluarga yang lain sudah tidur di kamar bawah, tidak ada yang sadar bapak pulang. Bapak langsung naik ke lantai atas,” ujarnya.

    Diakui Adilla, memang sudah jadi kebiasaan bapaknya, usai pulang kerja langsung tidur dan berpesan tidak boleh diganggu. “Kemudian tadi malam (kemarin) sekitar jam 02.00 ibu naik untuk salat Tahajud. Tapi ternyata bapak sudah tidak bernyawa,” katanya.

    Saat ditemukan itu, lanjut Adilla, kondisi Jaka penuh luka dan darah. Luka ada di bagian pelipis mata kiri, belakang telinga bagian kiri, luka di tangan kanan kiri serta kaki. Selain itu ada luka bekas benda tumpul di bagian kepala. “Darahnya ada di mana-mana,” kata dia.

    Kakak kandung Jaka, Sumarlis, 53 mengatakan, kematian Jaka penuh kejanggalan. Banyak luka-luka di bagian wajah, tangan dan kaki. “Kami berharap bisa dilakukan visum atau otopsi karena ada kejanggalan. Tapi kami tetap menyerahkan kepada istri dan anak-anak,” katanya.

    Sementara itu, salah satu anak buah korban di Dinas Satpol PP Surakarta yang enggan menyebutkan namanya mengatakan, Selasa sore sekitar pukul 18.40, Jaka sempat mengirim pesan singkat lewat Whatsapp (WA) di mana dia meminta surat perintah (sprint) nama-nama anggota Satpol PP yang diterjunkan dalam giat malam 1 Sura Kasunanan Surakarta.

    “Kemudian saya kirim foto suratnya, tapi cuma dibaca. Kemudian sekitar pukul 01.47, Pak Jaka WA lagi tanya kok foto-foto giatnya tidak ada. Tetapi karena saya capek dan tidur, saya baru lihat pesannya siang. Fotonya lantas saya kirim ke grup WA satpol-PP sebagai laporan. Tapi dari percakapan, saya tidak melihat pak Jaka mengirimkan pesan,” katanya.
    Dijumpai di rumah duka, Kepala Bidang (Kabid) Ketentraman dan Ketertiban Umum Satpol PP Agus Sis Wuryanto membantah kalau Jaka malam sebelum meninggal sempat bertugas dalam giat penjagaan malam 1 Sura Keraton Surakata. Karena dari sprint yang dibuat, tidak ada nama Jaka dalam daftar tersebut.

    “Kalau dari data kami, Jaka terakhir kali bertugas dalam giat pengamanan pengukuran tanah di Kentingan Baru, dan demo pedagang Sunday Market di Budaran Gladag Jumat (7/9) lalu. Setelah itu sepengetahuan saya beliau belum mendapat jatah giat penjagaan,” ujar Agus.

    Ditambahkan Agus, selama ini Jaka dikenal sosok yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaan.  Jaka sendiri sudah bergabung dengan Satpol PP sejak 1987. Selain di Satpol PP, Jaka juga sempat berpindah dinas. Di antaranya menjadi kepala seksi Kelurahan Pasar Kliwon dan menjadi kasubdit di Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Surakarta.

    “Baru sekitar Januari 2017 silam almarhum kembali lagi bertugas di Satpol PP. Beliau dikenal sosok yang tekun dalam menjalankan tugas. Setiap ada perintah dari pimpinan akan dilaksanakan. Tapi kalau di luar ada masalah pribadi saya tidak tahu,” katanya.

    Namun sayang, pihak kepolisian tidak mampu berbuat banyak atas kasus ini. Sebab, keluarga korban enggan memperpanjang kasus ini hingga ke ranah hukum. “Memang tadi pejabat Satpol PP menghubungi saya untuk membuat laporan, kemudian kita tindak lanjut dengan mendatangi rumah korban,” tutur Kasatreskrim Polresta Surakarta, Kompol Fadli.
    Sampai di lokasi, pihaknya minta keterangan kepada keluarga korban. Namun keluarga enggan jenazah korban divisum. Keluarga mengaku sudah ikhlas dengan kejadian ini. Akhirnya keluarga membuat surat pernyataan yang intinya tidak memperkarakan kasus ini.

    “Surat ini menjadi pegangan kami sesuai SOP, sehingga kalau nanti setelah ini ada masalah, keluarga tidak bisa menuntut semua pihak,” urai Fadli. (atn/bun)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top