• Berita Terkini

    Rabu, 26 September 2018

    Semaraknya Tradisi Suran Warga Kemangguhan Alian

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)-Berbagai budaya dan tradisi menghiasi perayaan Tahun Baru Hijriah atau Syuran. Di Desa Kamangguhan Kecamatan Alian, tepatnya di Dukuh Sarwodadi warga mempunyai cara unik untuk merayakannya. Mereka secara bergotong-royong membuat tumpeng yang dimakan bersama-sama di jalan desa. Ini pada acara Merdi Dukuh, beberapa waktu lalu.

    Ya kegiatan ini diikuti oleh warga masyarakat khususnya RW 1. Adapun pelaksanaannya di jalan desa tepatnya RT 2 RW 1 Desa setempat. Dalam acara itu tak dari kurang 45 tumpeng dibuat warga. Warga membentuk kelompok-kelompok di tepi jalan sepanjang kurang lebih 300 meter.

    Kegiatan Merdi Dukuh dilaksanakan dengan doa bersama. Setelah sambutan panitia dan kepala desa, warga melaksanakan doa yang dipimpin oleh tokoh agama setempat yakni Kyai Muhammad Muhtadi. Usia berdoa, warga makan bersama nasi tumpeng yang telah dibuatnya. Acara juga dihadiri oleh Kepala Desa Kemangguhan Kepala Desa Amirudin SPdI.

    Tidak ada aturan khusus dalam pembuatan tumpeng Merdi Dukuh. Tumpeng dibuat lengkap dengan ingkung ayam. Selain itu tumpeng juga dilengkapi dengan berbagai sayur dan sambal lalap. Ini mulai sayur tempe, petai, mentimun, tomat dan kubis. Selain itu terdapat pula peyek, kerupuk, keluban, ikan pindang dan nasi oyek. Rata-rata dalam tumpeng yang dibuat oleh masih-masing kelompok terdapat nasi oyek.

    Ketua panitia pelaksana Nur Khasan menyampaikan, Merdi Dukuh menjadi acara rutin setiap tahun. Selain sebagai bentuk syukur kepada sang pencipta, juga menjadi ajang silaturahmi antar masyarakat. Bahkan acara Merdi Dukuh dengan konsep seperti ini hanya di Desa Kemangguhan, hanya dilaksanakan oleh warga Dukuh Sarwodadi. “Ini sangat  penting, unik dan bermakna,” tuturnya, yang juga merupakan Ketua RT 2 RW 1 itu.

    Pihaknya yang saat itu didampingi Ketua RW 1 Erna Komala menyampaikan, pembuatan tumpeng dilaksanakan oleh masing-masing kelompok yang terdiri sekitar 10 orang. setelah itu tumpeng dibawa, dan warga mengikuti acara tahlilan. Panjangnya jarak warga membuat panitia menyediakan banyak pengeras suara. “Usai tahlilan, kemudian warga makan bersama,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top