• Berita Terkini

    Rabu, 29 Agustus 2018

    Pemuda Diminta Jadi Pelopor Gerakan Anti Radikalisme

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN(kebumenekspres.com)-Untuk membentengi kaum muda dari paham radikalisme, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kebumen mengadakan diskusi Publik.

    Kegiatan yang mengusung tema “Peran Pemuda Dalam Upaya Deradikalisasi Pemahaman Agama yang Intoleran” itu, dilaksanakan di Kampus Pasca Sarjana IAINU Kebumen, Selasa (28/8).

    Diskusi dilaksanakan dengan mengundang tiga nara sumber yakni Kepala Kantor Kesbangpol Kebumen Nur Taqwa Setyabudi SH, Ketua Yayasan Masjid Agung Kebumen Kyai Ahmad Nasrulloh dan Koordinator Gusdurian Kebumen Akhmad Murtajib. Diskusi dimoderatori oleh Labib Sofiyulloh.

    Peserta diskusi merupakan kaum muda dari berbagai organisasi seperti Ansor, IPNU, IPPNU, Fatayat dan PMII. Selain dari PDPM, PDNA, IMM IPM, FKPPI, Karang Taruna dan HMI. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) juga diundang dari Kampus AMIK, IAINU, UMNU, STIE, Polda, STIKes, PGSD dan STTM. Bukan hanya itu diskusi juga diikuti oleh Santri Pondok Pesantren Al Kahfi, Al Falah, Al Hidayat, Salafiyah dan Al Huda. Peserta juga ada yang berasal dari SMK Maarif Kutowinangun, SMK Maarif Petanahan dan SMK Maarif Gombong. Diskusi diikuti oleh 100 peserta.

    Ketua PMII Kebumen Solikhan menyampaikan diskusi dilaksanakan untuk memberikan pemahaman tentang deradikalisasi pemahaman agama yang intoleran. Diharapkan kaum muda dapat terhindar dari paham radikalisme. “Pemuda dan mahasiswa diharapkan dapat menjadi pelopor dalam menangkal paham radikalisme,” tuturnya.

    Ketua DPD KNPI Kebumen Beniyanto menyampaikan paham radikal dapat dengan mudah merasuk pada pemuda yang merupakan generasi penerus bangsa. Memahami potensi bahaya paham radikalisme diharapkan pemuda dapat membentengi diri dan teman-temanya. “Paham radikalisme cenderung menggunakan berbagai cara untuk mencapai tujuannya,” jelasnya.

    Kyai Ahmad Nasrulloh yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Mirtahul Anwar Pekeongan menyampaikan radikalisme terjadi akibat dangkalnya dalam memahami agama. Sehingga pemahaman agama menjadi tidak tuntas. Persoalan radikalisme berulang kali dibahas, tetapi kuncinya yakni harus memahami agama dengan benar. “Melanggar lampu lalu lintas saja merupakan bentuk pelanggaran, apalagi melawan pemerintah. Tidak semua sesuatu yang pas di Timur Tengah sesuai untuk Indonesia. Untuk itu pemahaman agama harus tuntas, jangan hanya sepotong-sepotong,” paparnya.

    Nur Taqwa menyampaikan Pancasila sudah final menjadi dasar Negara Indonesia. Indonesia merupakan negara yang terdiri dari barbagai suku bangsa, agama serta budaya. Pancasila dapat mengakomodir semua komponen Bangsa Indonesia. “Untuk itu pembahasan mengenai dasar Negara Indonesia sudah final yakni Pancasila. Sedangkan empat pilar negara Indonesia yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45,” tegasnya.

    Adapun Murtajib menyampaikan saat ini banyak sekali informasi yang beredar melalui media sosial. Informasi tentang paham radikalisme menyebar pesat melalui jaringan internet. Untuk menanggulangi hal itu diperlukan wacana pembanding. “Maka penting sekali pemuda aktif menulis, sebagai pembading dari banyak tulisan yang mempunyai unsur radikalisme,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top