HONDA BEAT

  • Berita Terkini

    Jumat, 17 Agustus 2018

    Kekeringan, 34 Desa di Kebumen Andalkan Air Bersih dari Pemkab

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN(kebumenekspres.com) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meramalkan kemarau bakal berlangsung sampai Oktober mendatang. Ini juga berakibat sejumlah daerah di Jawa Tengah mengalami krisis air bersih karena kekeringan. Termasuk di dalamnya, Kabupaten Kebumen.

    Menghadapi situasi itu, Kabid Kadaruratan dan Logistik BPBD Kebumen Drs Muhyidin menyampaikan, Pemkab telah menyalurkan air bersih kepada sejumlah wilayah. Saat ini, sudah ada 34 desa dalam 11 kecamatan yang mendapat bantuan air bersih.

    Bantuan diberikan sebanyak 81 tanki setiap minggunya. Kuota bantuan air di BPBD Kebumen tahun 2018 sebanyak 1.450 tanki. dengan anggaran Rp 350 juta termasuk transportasi dan lainnya. “Dari perkiraan BMKG musim kemarau akan berlangsung hingga pertengahan Oktober,” katanya.

    Bantuan air, lanjutnya, diberikan ke 34 desa dalam 11 kecamatan. Beberapa kecamatan itu yakni Buayan, Rowokele, Sruweng, Pejagoan, Alian dan Karangsambung. Selain itu yakni Kecamatan Poncowarno, Kebumen, Karanggayam, Ayah dan Sempor. “Masyarakat diharapkan menjaga kelestarian lingkungan termasuk menjaga pohon dan mata air. Beberapa tanaman pengikat air yang penting untuk ditaman diantaranya Beringin, Ikip, Gayam, Elo,” ucapnya.

    Sementara itu, akibat kekeringan, warga sudah mengambil air sungai untuk keperluan mandi dan mencuci, serta menyirami tanaman. Warga juga membuat sumur kecil (belik) di tepi sungai untuk diambil airnya.

    Mengambil air sungai dilakukan oleh sebagian warga Desa Kejawang Kecamatan Sruweng. Beberapa warga mencuci baju dan mandi di sungai, sementara sebagian lainnya mengambil air sungai menggunakan  pompa air untuk disalurkan ke rumah atau pekarangan. Air yang dikonsumsi diambil dari belik atau sumur. Sedangkan yang diambil dari sungai digunakan untuk keperluan selain konsumsi.

    Solikhin (35) warga RT 1 RW 2 Desa Kejawang saat ditemui Ekspres mengemukakan, setiap musim kemarau warga selalu memanfaatkan air sungai. Air digunakan untuk menyirami tanaman atau keperluan lainnya. Sedangkan untuk konsumsi diambil dari belik. “Setiap kemarau selalu seperti ini,” tuturnya, Rabu (15/8).

    Dijelaskannya, kini mayoritas warga yang mengambil air sungai Kejawang telah memiliki pompa air, mengunakan mesin pencuci mobil (Steam). Pompa digerakkan menggunakan mesin diesel berbahan bakar minyak. Kelebihan mesin steam yakni daya dorong air lebih kencang bila dibandingkan dengan pompa diesel. (mam/cah)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top