BPJS

BPJS
  • Berita Terkini

    HONDA CRF

    Rabu, 04 Juli 2018

    Hannah Standiford, Warga Amerika Kembangkan Keroncong di Negeri Paman Sam

    DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO
    Latihan Lewat Rekaman, Ingin Manggung Bersama Waljinah


    Seni musik keroncong tidak hanya digemari masyarakat tanah air saja. Namun sudah mulai digandrungi sejumlah negara lain. Karena kecintaan terhadap musik keroncong inilah, Hannah Standiford, warga negara Amerika Serikat ini mulai mengembangkan musik asal Indonesia ini di negaranya. Seperti apa kisahnya?.
    -----------------------------
    ANTONIUS CHRISTIAN, Solo
    -----------------------------
    HANNAH Standiford jatuh cinta kepada musik kerocong saat dia mendapat program beasiswa studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta empat tahun silam. Beasiswa itu atas kerjasama antara Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) dengan Pemerintahan Amerika Serikat.

    Saat berada di Kota Bengawan, dia sering diajak dalam pertunjukan musik keroncong. Dari situ dia mulai jatuh hati dan ingin mempelajari musik keroncong. “Ketika mendengarkan musik keroncong, hati saya merasa tenteram dan damai,” ungkap perempuan kelahiran Virginia, Amerika Serikat 16 Mei 1989 ini.

    Meski memiliki basik sebagai music song writer, namun mempelajari keroncong  tidak semudah yang dia bayangkan. Sebab, baginya musik keroncong memiliki ketukan sendiri. “Saya sudah punya dasar gitar klasik, tetapi tidak bisa mengikuti alur keroncong, karena sangat susah. Kadang temponya cepat, kadang lambat,” ujarnya.

    Namun Hannah tidak menyerah. Untuk memudahkan mempelajari musik asli Indonesia ini dia melihat rekaman video kelompok orkes keconcong. Dia amati pemainnya menggunakan alat satu per satu. Hal ini untuk memudahkan mana suara cak, cuk, cello, dan alat-alat yang lain. Kemudian ketika sampai kos dia dengarkan satu per satu.

    Tidak hanya sekadar mendengarkan saja, dirinya juga berkesempatan belajar musik keroncong dari sejumah grup orkes keroncong yang ada di Kota Bengawan. Yang dia sukai dari seniman Indonesia, ini adalah rasa kekeluargaannya masih sangat kental. Kalau di Amerika, untuk belajar bersama ahlinya bisa merogoh kocek sangat dalam.

    “Tetapi di sini saya cuma bilang mau belajar langsung disambut dengan hangat. Saya diajarkan sampai bisa itu gratis. Kapan lagi ada kesempatan seperti itu. Alat musik yang saya pelajari sejak awal yaitu cak, dan menurut saya yang paling sulit itu cello,” ungkapnya.

    Selain cello, yang paling sulit dari keroncong adalah cengkok suaranya. Apalagi bila syair keroncong tersebut menggunakan langgam Jawa. “Sampai sekarang juga masih mendalami hal tersebut (cengkok keroncong, Red). Karena ada dialek yang menurut saya cukup untuk diucapkan oleh lidah orang Amerika,” ujarnya.

    Setahun belajar keroncong di Kota Benagawan, dirinya lantas kembali ke negara asalnya. Di sana keahlian keroncong ditularkan kepada teman-temannya dan akhirnya terbentuk kelompok musik yang diberi nama orkes Keroncong Rumput. “Filosofi rumput kita jadikan nama karena rumput itu tumbuh subur, di mana-mana ada rumput, sama halnya dengan keroncong. Di mana-mana bisa menerima,” ujarnya.

    Sama halnya dengan Hannah, semua teman-temannya juga mempelajari musik kerocong dari hasil rekaman selama berada di Indonesia untuk memperoleh ilmu dasar dari musik keroncong tersebut. Setelah basik didapat kemudian mereka mulai memadukan dengan syair-syair lagu tradisional rakyat Negeri Paman Sam.

    “Ternyata respons warga Amerika sangat baik. Bisa diterima di telinga orang Amerika. Karena menurut mereka musik keroncong itu eksotis, menenangkan dan bisa membuat kita rileks setelah seharian bekerja. Berbeda dengan musik genre lain,” kata Hannah.

    Guna memopulerkan keroncong di negara asalnya, setiap dua hingga tiga kali sebulan dirinya selalu pentas sepanjang kawasan pantai utara Amerika. Tidak hanya itu, orkes Keroncong Rumput  juga pernah diundang untuk pentas di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, Universitas Cornell, Wake Forest, Bukcnell, Universitas Richmod, Smithsosian Museum, dan masih banyak lagi.

    Karena kecintaannya dengan musik keroncong, mereka juga berkesempatan untuk berduet dengan seniman nasional seperti Titiek Puspa dan Djaduk Ferianto. “Masih ada mimpi dari kami semua, yaitu berduet dengan Ratu Keroncong Waldjinah. Semoga hal itu bisa terwujud,” ujar Hannah. (*/bun)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top