Honda

Honda
Jogja
  • Berita Terkini

    Rabu, 06 Juni 2018

    Tasdi, Bupati Purbalingga yang Jadi Tersangka KPK

    Mantan Sopir Angkutan, Sempat Disebut Pantas Jadi Wagub


    Di penghujung bulan Ramadan 1439 H, masyarakat Purbalingga, dikagetkan dengan terciduknya Bupati Purbalingga H Tasdi SH MM dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (4/6) petang. Namun, perlu diketahui Tasdi merupakan, kepala daerah yang memulai karir politiknya dari nol di PDIP.
    -----------------------
    Aditya, Radar Banyumas
    -----------------------
    Tasdi merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Suhardi dan Rusyati. Pria kelahiran Karangreja, sebuah kecamatan di bagian utara yang merupakan pegunungan di timur lereng gunung Slamet ini, dilahirkan pada 11 April 1968.

    Tasdi mulai mengenal dunia politik pada tahun 1987. Sebagai Komdes Tlahab Lor di Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Kabupaten Purbalingga. Pada Pemilu 1992, Tasdi tidak begitu aktif dalam partai karena berkonsentrai pada pekerjaan.

    "Selepas lulus SMA (SMAN 1 Bobotsari), saya bekerja serabutan. Saya menjadi sopir angkutan barang dan penumpang jurusan Karangreja-Karangjambu. Saya juga kerap menjual gula kepala ke luar daerah. Pokoknya apa saja saya kerjakan, yang penting halal dan menghasilkan uang," jelasnya kepada Radarmas, ketika ditemui selepas terpilih menjadi Wakil Bupati Purbalingga antar waktu menggantikan Sukento Rido Marhaendrianto, yang naik pangkat menjadi bupati.

    Seiring perkembangan waktu, Tasdi memilih bergabung dengan PDI Perjuangan (PDIP), ketika partai berlanbang banteng ini berkonflik. Dia memilih PDIP, karena menganggap Ketua Umum DPP PDIP Megawati, sebagai simbol yang memperjuangkan wong cilik.

    Dia mengaku, kembali aktif di dunia politik lagi setelah mempersunting Erny Widyawati, anak tokoh PDI Purbalingga, yang berdomisili di Karangreja. Dia aktif di PDI kembali mulai tahun 1996.

    Pada tahun yang sama, Tasdi menjadi ketua Pengurus Anak cabang (PAC) PDIP Karangreja. Kemudian, dia mencoba peruntungan maju dalam pemilihan anggota legislatif Pemilu 1999.

    Bapak dua orang, yakni Sena Akbar Kartika dan Mega Putri Yusiantika Dewanti ini, kemudian terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Purbalingga periode 1999-2004. Ketika dilantik sebagai anggota DPRD dia menyebutnya seperti mimpi.

    Selama satu periode menjadi anggota DPRD periode 1999 – 2004, nama Tasdi tidak begitu menonjol. Di lembaga wakil rakyat itu, dia ditempatkan di Komisi E.
    Komisi yang disebutnya tidak bergengsi, karena hanya mengurusi bidang kesra. Namun, di tengah periode dia dirotasi ke Komisi D, bidang pembangunan pada pertengahan periode. Satu periode DPRD itu dilewati Tasdi tanpa prestasi yang signifikan.

    Karir politik Tasdi semakin mocer, ketika terpilih kembali menjadi anggota DPRD Purbalingga periode 2004–2009. Di partainya, Tasdi merupakan satu-satunya caleg terpilih yang berhasil mengumpulkan suara terbanyak dengan perolehan suara 5.221.

    Di tahun 2005, dia berhasil menduduki pucuk pimpinan tertinggi di DPC PDIP Kabupaten Purbalingga. Dia terpilih menjadi ketua DPC PDI Perjuangan Purbalingga periode 2005-2010

    Pada Pemilu 2009, Tasdi kembali terpilih menjadi anggota DPRD periode 2004–2009. Di periode ini, Tasdi juga terpilih menjadi ketua DPRD periode 2009-2014.
    Tasdi kembali menduduki jabatan ketua DPC PDIP Kabupaten Purbalingga periode 2010-2015. Pada Pemilu 9 April 2014, Tasdi juga terpilih kembali sebagai wakil rakyat periode 2014–2019 dengan perolehan suara 6.527 di Dapil Purbalingga V.

    Meski sudah ditetapkan oleh KPU sebagai caleg terpilih, Tasdi harus meninggalkan kursi itu, karena diangkat menjadi Wakil Bupati Purbalingga mendampingi Sukento. Dia menjadi wakil bupati, setelah Sukento yang semula wakil bupati secara aturan harus menjadi bupati karena Heru Sujatmiko, Bupati Purbalingga ketika itu terpilih sebagai Wakil Gubernur Jawa Tengah mendampingi Ganjar Pranowo.

    Karir politik tetingginya pria yang mengaku sebagai wong ndesa ini, terjadi pada tahun 2015. Dia terpiilih menjadi bupati Purbalingga berpasangan dengan Dyah Hayuning Pratiwi (Tiwi). Dia unggul atas calon lainnya Sugeng-Cipto.

    Tasdi lagi-lagi masih dipercaya menjadi Ketua DPD PDIP Kabupaten Purbalingga periode 2015-2020. Bahkan, dia juga berhasil mengantarkan sang istri Erny Widyawati menjadi anggota DPRD Kabupaten Purbalingga periode 2014-2019, dari Dapil III.

    Tak hanya itu, Tasdi juga menjadi satu dari tiga kader PDIP di Jawa Tengah, yang diproyeksikan mendampingi Ganjar Pranowo dalam Pilgub Jawa Tengah 2018. Namun, dia gagal mendampingi Ganjar, karena DPP PDIP lebih memilih Taj Yasin Maemoen mendampingi Ganjar di Pilgub 2018.

    "Saya tak pernah melamar menjadi calon wakil gubernur. Tapi saya sampai tiga kali dipanggil wawancara oleh PDIP. Ini menjaid berkah bagi saya," ujarnya, selepas pengumuman calon gubernur dan wakil gubernur dari PDIP di Jakarta kepada Radarmas.

    Pada Pemilu 2019 mendatang, Tasdi berencana memperpanjang dinasti politiknya. Dengan mendorong istrinya kembali maju dalam Pemilihan Legislatif. Selain itu, putra sulungnya Sena Akbar Kartika, juga mendaftar sebagai bakal calon anggota DPRD Purbalingga Dapil I.

    Masa lalunya yang hidup susah membuat dirinya tertanam sikap displin yang luar biasa. Hal itu, terlihat ketika mulai menjabat sebagai bupati Purbalingga. Dia selalu kerja tujuh hari dalam sepekan, siang dan malam.

    "Saya ingin membuktikan bahwa anak ndesa, anak nggunung dan anak seorang petani, bisa memimpin Purbalingga dengan lebih baik," akunya.
    Namun, karir politiknya yang mentereng, saat ini harus terhenti karena tersangkut kasus dugaan suap pembangunan Isalmic Centre. Dia tertangkap tangak oleh KPK, bersama dengan lima orang lainnya. (tya)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top