Honda Vario Duo 20-21 Feb 2019

  • Berita Terkini

    Kamis, 24 Mei 2018

    Terus Terjadi Letusan Freatik Merapi, 10 Desa Mulai Dikosongkan

    BOYOLALI – Aktivitas letusan freatik Gunung Merapi terus terjadi. Kemarin, sedikitnya dua kali muncul letusan. Bahkan di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo sempat terjadi hujan abu tipis.


    Letusan pertama terjadi Rabu pukul 03.31 WIB. Peristiwa ini tak  menimbulkan kepanikan warga. Namun warga tidak sampai mengungsi. Kemudian letusan kembali terjadi pukul 13.49 WIB dengan durasi 2 menit. Terdengar dari Pos Pantauan Gunung Merapi Babadan. Namun, kolom letusan tidak teramati dari semua pos.


    Menghadapi kemungkinan erupsi Merapi ini, pemerintah di dua kabupaten terdampak dan warga di kawasan rawan bencana (KRB) III sudah mulai bersiap diri. Sejumlah skenario sudah disiapkan bila sewaktu-waktu terjadi letusan lebih besar.


    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali sejak setahun lalu sudah membentuk  desa bersaudara (sister village). Apabila terjadi erupsi Merapi, masyarakat langsung mengungsi di desa terdekat.


    “Selain itu, pemkab telah menyiapkan lima gedung lengkap dengan seluruh prasarannya agar para pengungsi mendapatkan keamanan dan kenyamanan,” kata Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Boyolali  Bambang Sinungharjo kemarin.


    Bambang mengatakan, berdasarkan perintah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNP), KRB II dan III harus sudah dikosongkan dari aktivitas manusia. Warga yang masuk KRB III meliputi Dusun Stabelan dan Takeran, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo. Sedangkan untuk KRB II meliputi Desa Tlogolele, Klakah, Samiran, Jrakah, Lencoh, dan Suroteleng. Kemudian Cluntang, Kecamatan Musuk.


    Desa-desa itu sudah memiliki lokasi untuk mengungsi nanti saat erupsi Merapi terjadi. Yakni  Desa Mudal, Penggung, Kebon Bimo, Pulisen, Siswodipuran, dan Banaran. Semua berada di Kecamatan Boyolali Kota. Kemudian di Kelurahan Kemiri,  Kecamatan Mojosongo.  “Warga sudah memiliki tempat pengungsian yang aman untuk berlindung,” kata Sinungharjo.


    Dengan pola desa saudara ini diharapkan penanganan korban erupsi tak seperti 2010 lalu. Kemudian untuk mengatasi hewan ternak warga, evakuasi hewan ternak sudah disiapkan. Hewan-hewan ternak warga akan ditampung di lokasi yang telah ditentukan. “Bisa di lapangan desa atau di Pasar Hewan Jelok, Kecamatan Cepogo,” katanya.


    Di bagian lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng, mulai mengirimkan bantuan untuk kebutuhan pengungsi di Boyolali. Logistik tersebut merupakan barang yang dibutuhkan warga saat mengungsi.


    Logistik yang dikirimkan tersebut berupa tikar sebanyak 20 lembar, matras 20 lembar dan tenda gulung 20 buah. Selain itu juga peralatan dapur, perlengkapan makan dan peralatan kesehatan masing-masing 20 paket.


    Logistik tersebut diserahkan BPBD Jateng kepada BPBD Boyolali yang diterima langsung Kepala Pelaksana BPBD Boyolali, Bambang Sinungharjo.

    Selanjutnya, BPBD Boyolali akan mendistribusikan logistik kebutuhan pengungsi tersebut ke TPPS Desa Tlogolele.


    Kasi Peralatan BPBD Jateng Iwan Budianto mengatakan, BPBD Jateng siap menyalurkan bantuan lainnya. Saat ini sedang diinventarisasi tentang kebutuhan, khususnya makanan, seperti beras, mi instan, lauk pauk dan air mineral. “Untuk pemenuhan dasar pengungsi,” kata Iwan Budianto di kantor BPBD Boyolali.


    Logistik dari BPBD Jateng itu selanjutnya akan langsung diserahkan ke tim siaga desa Tlogolele. Ini agar memudahkan bila nanti sewaktu-waktu dibutuhkan warga.



    Pemkab Klaten Libatkan Lintas Sektoral



    Kesiapan juga dilakukan Pemkab Klaten dalam menghadapi bencana Merapi. Sekda Klaten Jaka Sawaldi memandang dalam menghadapi letusan erupsi Merapi yang diawali dengan letusan freatik perlu dipersiapkan sejak dini. Mulai dari transportasi untuk evakuasi warga yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III yakni Desa Balerante, Sidorejo dan Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang.


    “Penanganan Gunung Merapi jika sewaktu-waktu statusnya naik dari waspada ke siaga maka penangannya tidak hanya melibatkan pemerintah saja. Tetapi juga melibatkan masyarakat dan dunia usaha,” ucap Sekda Klaten Jaka Sawaldi saat memimpin rapat koordinasi lintas sektoral di Ruang Rapat B1 Setda Klaten, Rabu (23/5).


    Jaka mengungkapkan, hal yang perlu dipersiapakan jika warga sudah mengungsi di shelter adalah menghidupkan desa pasedularan yang telah ditetapkan. Termasuk logistik yang perlu disediakan dengan dilakukan koordinasi antar institusi. Di sisi lain, juga yang perlu dipikirkan terkait anak-anak yang ada pengungsian mulai dari pendidikan, pelayanan kesehatan hingga persediaan air bersih.


    “Karena penanganan erupsi Merapi termasuk pelayanan kemanusiaan maka harus dipersiapkan secara baik. Jika Merapi statusnya menjadi siaga semuanya sudah siap. Termasuk yang perlu diperhatikan juga administarasi pemerintahan dan kependudukan serta persiapan untuk pemungutan suara pada Pilgub Jateng mendatang,” jelasnya.


    Guna memberikan rasa nyaman bagi para pengungsi terhadap kondisi ternak, maka perlu ditentukan lokasi evakuasinya. Mengingat rata-rata warga yang berada di KRB III memiliki ternak sapi dan kambing. Hal itu juga harus diperhatikan sehingga pengungsinya tidak kepikiran terhadap kondisi ternaknya.


    Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Klaten Ronny Roekminto mengatakan, soal penanganan bencana yang perlu dipertimbangkan juga administrasi keuangan. Jangan sampai setelah penanganan bencana selesai ada yang berurusan dengan aparat penegak hukum karena adanya pengelolaan keuangan yang buruk.


    “Jika nanti sudah dinyatakan darurat Merapi, maka pemkab akan mencairkan dana penanganan bencana sebesar Rp 500 juta. Termasuk biaya tak terduga (BTT) yang harus dipersiapkan dari sekarang administrasi keuangannya. Sehingga pencairan dana penanganan bencana dan BTT tidak menjadi masalah di kemudian hari,” jelasnya.


    Setelah lebih dari sehari istirahat, Gunung Merapi kembali mengeluarkan letusan freatik. Hingga kemarin siang (23/5), tercatat dua kali letusan freatik Merapi pada pukul 03.31 dengan durasi empat menit dan ketinggian 4.000 meter serta yang kedua pada pukul 13.49 dengan durasi dua menit, tapi ketinggian tidak terpantau.



    "Sekarang jedanya tambah panjang, yang 21-22 Mei durasinya sekitar delapan jam," ujar Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Jogjakarta Agus Budi Santoso kemarin (23/5). Meskipun begitu Agus mengatakan masih terus dilakukan pemantauan pada kondisi Merapi. Agus menyebut letusan freatik yang terjadi selama Mei ini terjadi mendadak.



    Tapi, lanjut Agus,masih tingginya akumulasi tekanan dari dalam yang menyebabkan terjadinya gempa vulkano tektonik atau gempa dangkal yang kemungkinan besar disebabkan adanya batuan yang pecah. Status Gunung Merapi tetap dinyatakan waspada.



    Bagi masyarakat, Agus juga meyakinkan letusan freatik tergolong tidak berbahaya. Selama masyarakat tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak, dan mengenakan alat pelindung seperti masker dan kacamata ketika beraktivitas di luar ruangan guna mengantisipasi dampak abu vulkanik terhadap kesehatan. "Saat status waspada kami nilai tidak perlu evakuasi bagi masyarakat yang tinggal di radius lebih dari tiga kilometer dari puncak," ucapnya.



    Berdasarkan data pemantauan peristiwa erupsi 2006 dan 2010 ada tanda-tanda yang menunjukkan dengan jelas pergerakan magma. Namun tanda-tanda tersebut tidak terlihat secara jelas pada aktivitas Gunung Merapi setelah erupsi 2010 lalu.

    Tanda letusan magmatis antara lain bisa dilihat dari material erupsi Gunung Merapi. Adanya jenis material baru yang dikeluarkan Gunung Merapi bisa menjadi tanda. "Salah satu material baru itu adalah material glass. Ini yang sedang kami teliti," katanya. (wid/ren/bun/pra)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top