• Berita Terkini

    HONDA BEAT

    Selasa, 15 Mei 2018

    Surat Terbuka Peserta Seleksi Perangkat Desa Setrojenar

    Nurhidayat
    KEBUMEN (kebumenekspres.com) - Proses penjaringan dan penyaringan perangkat Desa Setrojenar, Kecamatan Buluspesantren, menjadi polemik dalam beberapa minggu terakhir.

    Ini setelah salah satu peserta, Arif Yuswandono mengirimkan surat somasi kepada panitia dan Kepala Desa Setrojenar, karena menilai ada kejanggalan dalam proses yang berlangsung. Hingga kemudian, persoalan itu mendapat respon hingga tingkat Kabupaten Kebumen.

    Lalu, ditindaklanjuti dengan pertemuan diantara pihak terkait. Pemkab membentuk tim verifikasi, dan kemudian Camat Buluspesantren, melaporkannya kepada Plt Bupati Kebumen.

    Kabar terbaru, Ketua panitia dan  penjaringan dan penyaringan  perangkat desa, Nur Hidayat dan Kepala Desa Setrojenar Surip Supangat meminta Arif tidak melanjutkan persoalan ini hingga PTUN.

    Praktis, kini pihak-pihak terkait menunggu sikap Camat Buluspesantren, Suis Idawati dalam persoalan ini. Mengingat, panitia sudah menyerahkan nama-nama hasil seleksi untuk dimintakan rekomendasi Camat.

    Dan, Rabu (16/5/2018) besok, menjadi hari terakhir bagi Camat untuk memutuskan memberikan rekomendasi atau menundanya dan memilih menggelar ulang roses penjaringan dan penyaringan perangkat Desa Setrojenar seperti diminta Arif Yuswandono.


    Baca juga:
    (Soal Arif, Camat Buluspesantren Konsultasi ke Bupati)

    Ada juga kemungkinan lain, Camat memilih tidak memberikan rekomendasi atas sejumlah nama-nama hasil seleksi. Itu artinya, Kepala Desa Setronejar tetap bisa melantik nama-nama perangkat desa hasil penjaringan.

    Menjelang "hari penentuan" itu, seorang peserta penjaringan menulis surat terbuka yang ditujukan kepada Camat Buluspesantren, Kepala Desa Setrojenar dan Ketua Panitia Penjaringan, Nurhidayat.

    Berikut isi surat terbuka yang ditulis oleh Nurhidayat, salah satu peserta seleksi jabatan Sekretaris Desa (Sekdes). Nurhidayat sendiri menjadi satu dari dua nama yang mendapat nilai terbaik dan tengah menunggu rekomendasi Camat Buluspesantren.


    Surat Terbuka untuk yang (Masih) Saya Hormati:Camat Buluspesantren, Kepala Desa Setrojenar, dan NurHidayat “Tua”
    Dari: Nurhidayat*


    Kepada Camat Buluspesantren, saya harap Anda benar-benar memahami, segala keputusan yang diberikan berdampak konsekuensi yang sangat dalam bagi Desa Setrojenar. Harapan dan masa depan ribuan penduduk dan berbagai generasi ada di tanda tangan Anda. 

    Jika memang masih ada nurani, maka gunakanlah. Saya yakin Anda tahu situasinya. Untuk Kades Setrojenar, mari tunjukkan bahwa Anda sudah berubah, sesuai janji-janji di depan masyarakat. Tunjukan bahwa Anda benar-benar lelaki yang memegang janji.

    Untuk Nur Hidayat Tua, jangan main-main dengan desa. Desa kini tidaklah lagi punya banyak orang bodoh yang dengan begitu mudah dibohongi. Ambisi pribadi jangan ditelanjangkan di depan masyarakat. Mari bertarung gagasan dengan cerdas.


    Mukadimah
    Saya Nurhidayat, karena banyak nama yang sama di Setrojenar, saya sampaikan saja saya adalah Nurhidayat yang pemuda, berumur sekira seperempat abad, salah satu penggagas dan aktif di Karang Taruna Mandiri Bangun Desa Setrojenar, masih berstatus mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman, belum Drop Out meski kini sudah semester 12, dan selama studi justru lebih banyak bergiat di lembaga pers. Dan jika jadi Sekdes saya tidak masalah tidak dapat ijazah. Yang penting saya berguna bagi desa. Bali desa, njunjung desa.

    Jangan samakan bekerja mengabdi di desa dengan jabatan atau kedudukan lain. Mati hidup saya berkarya di desa, semoga Tuhan mengizinkan. Siapapun yang tidak yakin akan keseriusan saya mengabdi di desa, saya tantang Anda, lebih besar mana gagasan saya dengan Anda terkait Desa. Bahkan saya ragu kalian-kalian itu tahu makna dari desa yang sejati atau tidak.

    Dalam kasus terbaru terkait Setrojenar, Penjaringan dan Penyaringan Perangkat Desa Setrojenar, ada 2 nama mirip yakni Nurhidayat dan Nur Hidayat. Nurhidayat adalah saya sebagai peserta yang menurut masyarakat digadang menjadi salah satu sosok muda yang layak menjadi Sekdes, dan Nur Hidayat tua adalah Ketua Panitia yang kini sedang diragukan kedribilitasnya.

    Tulisan ini muncul mewakili gagasan diam dalam relung-relung perbincangan intim warga desa. Sebuah dosa bagi saya untuk terus-menerus diam melihat kejumudan. Rasa-rasanya, aneh sekali jika semua pemuda diam tanpa mengambil risiko apa-apa. Semoga dengan ini, sedikit banyak membuka mata dan mulut setiap insan pembacanya yang peduli. 

    Toh, bagi mereka yang berlawanan dengan tulisan ini lalu meremehkannya, saya sudah biasa diremehkan. Tunggu saja titik balik itu, di mana Desa Setrojenar sudah bisa dipegang orang-orang yang berkompeten. Secara lisan sudah saya sampaikan kepada umum bahwa masyarakat butuh iktikad baik akan perubahan. Namun, hingga tulisan ini dikerjakan, semua janji tinggallah pepesan kosong yang tidak bisa diandalkan. Semua anggota masyarakat, di setiap wilayah, kini sudah muak.

    Dugaan Saya Terkait Seleksi Sekdes

    Sejak pengumuman hasil seleksi 2 Mei 2018, saya diam meski saya paham banyak, atau minimal ada kejanggalan dalam prosesnya. Saya ragu untuk melangkah gugat karena saya malu jika saya bergerak dengan kesan kepentingan pribadi.

    Kini saya pastikan sudah melakukan investigasi yang cukup dalam mengenai kasus ini, sehingga saya benar-benar berani jika diadu dengan segala bentuk konfrontasi. Baik secara kekeluargaan maupun secara hukum. Saya sampaikan dengan lugas bahwa di sana ada kecurangan.

    Jika Anda merasa bermain atau minimal memahami adanya permainan yang tidak jujur, saya gugat nurani Anda. Kasihan orang-orang tua dalam kepanitiaan yang dicuri kejujurannya hanya untuk kepentingan sepihak. 

    Duhai Camat, kejarlah panitia yang jujur itu dan tanyakan mendalam, “Apakah panitia mengetahui kecurangan dan seperti apa cara curangnya?” Mereka menunggu pertanyaan Camat soal itu, mereka belum berani mengungkapkan itu, karena takut intimidasi. 

    Juga orang-orang yang paham permasalahan ini, mereka bukan tidak ingin menggugat, namun mereka tidak berani karena yang diserang adalah pribadi. Dengan ini saya membela harga diri mereka, apapun risikonya saya siap.

    Saya sudah menunggu iktikad baik dari semua pihak yang terlibat di dalam proses itu. Dorongan untuk menggugat selalu saya redam. Saya tenangkan pendukung yang berkerumun di kedai-kedai kopi dan tongkrongan, sebisa saya.

    Hanya saja, hingga kini, tidak ada iktikad baik yang muncul ke permukaan. Semua diam dan saling tunggu. Sebanyak apapun orang baik, jika hanya diam, kejahatan dan keburukan lah yang menang. Demi menegakkan harga diri saya sebagai pemuda, yang mestinya peduli dengan desanya, saya siap dikonfrontasikan secara face to face dengan siapapun terhitung mulai dibacanya gugatan moral ini.

    Apa Harapan Saya?
    Saya memang punya kepentingan pribadi. Namun, silakan singkirkan dahulu. Suara yang masuk ke saya terdengar begitu putus asa dan begitu urgen. Suara-suara itu menumpuk begitu saja di telinga saya. Ini bisa jadi beban seumur hidup jika saya diam. 

    Mereka, dengan putus asanya menyampaikan bahwa inilah titik hancur leburnya desa (tentu saja dari sudut pandang pemerintahan). Keputusasaan mereka memang beralasan. 

    Adanya penjaringan dan penyaringan perangkat desa memang digadang-gadang menjadi titik balik kondisi pemerintahan desa menjadi lebih baik ketimbang kondisi sebelumnya. Setrojenar yang nihil prestasi, dan secara general semua yang berhubungan dengan pemerintahan tidak bisa dibanggakan.

    Namun, titik ini diabaikan begitu saja. Tanpa pikiran yang waras, mereka masih tega menjadikan momentum perbaikan ini sebagai kesempatan untuk merampas hak-hak warga negara. Mereka berlaku curang, mengencingi secara mencolok kebutuhan dan keinginan, serta harapan besar masyarakat.

    Pun, alasan saya ikut penjaringan sekretaris desa, bukan lain juga karena saya terpanggil untuk mendandani itu. Namun, memang para jiwa tua dan miskin rasa, takut dengan perubahan sehingga akhirnya bagaimana caranya mereka, menghalalkan segala usaha, untuk mempertahankan status quo. 

    Mereka tidak sadar apa yang mereka lawan. Mereka melawan nalar, melawan hukum, dan melawan kehendak umat. Mereka tidak takut mati konyol kehilangan harga diri jika suatu saat nanti hal ini didokumentasikan dan abadi. Mereka mungkin tak pernah mendengaristilahscarlet letter, yang nantinya akan menempel di jidat.

    Bagaimana Posisi dan Kondisi Desa Setrojenar?

    Saya yakin Anda semua tahu, bahwa Desa Setrojenar adalah desa yang sangat kaya (namun masih potensi saja, sayangnya) sumber daya manusia maupun sumber daya alam serta ekonomi.

    Petani yang hebat tanpa saluran irigasi. Kiai kampung yang hebat dengan kondisinya. Aktivis-aktivis yang sedang memperjuangkan kelas dan eksistensi. Pedagang yang melayani para tetangganya. 

    Peternak-peternak kecil dengan lembu-lembunya. Pengelola pantai yang bekerja tanpa dukungan layak dari negara namun sudah terlihat hasilnya. Kelompok-kelompok petani, peternak, dan budidaya yang berjuang tanpa lelah. 

    RT dan RW yang terus aktif dengan segala kekurangan sumber daya. Sistem keamanan lingkungan yang nyatanya berjalan membantu secara alaminya. Tidak lupa para ibu dan remaja yang bergerak tanpa lelah, bukan hanya urusan dapur dan kasur. Urusan lingkungan dalam gerakan PKK dan perkumpulan organisasi keagamaan juga sangatlah berpengaruh untuk kemajuan desa.

    Dan yang paling diharapkan adalah pemuda-pemuda yang begitu potensial, sarjana-sarjana dan mahasiswa, lulusan terbaik sekolah-sekolah, yang bergerak tanpa diakomodasi pemerintah desa. 

    Semua potensi itu diabaikan oleh oknum dalam sistem yang dinamakan pemerintahan desa. Mereka hanya sibuk mencari celah dan kesempatan untuk menyalurkan libido ketamakan. Mereka tutup mata atas harapan berubahnya kondisi. 

    Mereka abai pada titik ketidakpercayaan masyarakat. Padahal, hal-hal tersebut sudah saya sampaikan secara lugas dan tegas dalam berbagai forum desa. Suara-suara pemuda macam saya ternyata hanya dianggap angin lalu, dan yang diabaikan lama-lama juga jenuh. 

    Bagi saya dan tentunya segenap masyarakat, terserah siapapun yang mengendalikan gerakan dan administrasi desa, asalkan yang mengabdi benar-benar yang terbaik dalam hal kompetensi dan gagasan. Kami akan mendukung, tentu saja jika dilaksanakan sesuai aturan.

    Yang (masih) saya hormati Camat Buluspesantren, Kades Setrojenar, dan Nur Hidayat Tua,

    Sekali lagi saya tekankan, jangan sampai kepentingan dan harapan masyarakat digadaikan demi kepentingan sesaat segelintir oknum. Masa depan generasi muda Desa Setrojenar menjadi taruhan jika Anda-Anda ingin bermain. Toh, jika memang berani bermain, bermainlah dengan cara yang luhur, bukan bermain belakang layaknya kaum terbelakang.

    Surat ini juga saya tembuskan kepada masyarakat. Wahai masyarakat Desa yang baik, mari kawal desa kita. Siapapun yang bergerak untuk desa, mari kawal bersama agar masa depan desa kita lebih tertata. Mari kita ingatkan mereka yang berlaku curang. Jangan sampai hanya karena ulah segelintir orang tamak membuat orang di luar sana menganggap desa Setrojenar dianggap terbelakang.

    Majulah Setrojenar, Jayalah Setrojenar.
    Jayalah desa, jayalah martabat kita.

    Salam hati-hati,

    *Nurhidayat, mewakili orang-orang baik yang belum bersuara. Pemuda yang mengharap segera ada banyak suara orang baik bermunculan ke permukaan.


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top