• Berita Terkini

    HONDA BEAT

    Rabu, 16 Mei 2018

    Ribuan Pelayat Iringi Pemakaman Bupati Tegal Enthus Susmono

    YERI NOVEL/RADAR SLAWI
    SLAWI – Setelah sempat melewati musyawarah, pihak keluarga besar almarhum Enthus Susmono, Sanggar Satria Laras yang menjadi tempat tinggal almarhum dipilih sebagai tempat peristirahatan terakhir, Selasa (15/5/2018). Ribuan pelayat tumplek sejak pagi hingga jelang prosesi pemakaman di sepanjang Jalan Projo Sumarto, Desa Bengle, Kecamatan Talang.

    Sebelum dimakamkan, jenazah yang sudah satu hari berada di sanggar, dibawa ke Pendapa Amangkurat Pemkab Tegal untuk dilakukan prosesi upacara pelepasan penghormatan terakhir. Dari rumah almarhum yang berada di Desa Bengle, Kecamatan Talang, tampak ribuan pelayat ikut mengiring jenazah sampai ke pendapa. Upacara pelepasan penghormatan terakhir dihadiri Plt Gubernur Jateng, Pjs Bupati Tegal dan Forkompinda, wali kota/bupati dari beberapa daerah, perwakilan kementerian, dan pegawai Pemkab Tegal.

    Usai upacara pelepasan, diikuti ribuan pelayat, jenazah dibawa ke Masjid Agung Kabupaten Tegal untuk disalatkan. Jenazah kemudian dibawa ke peristirahatan terakhir, di Sanggar Satria Laras, Desa Bengle, Talang. Jenazah almarhum Enthus Susmono sempat disalatkan di Masjid Jami Desa Bengle, yang berjarak kurang lebih 500 meter dari rumah duka, sekitar pukul 12.15 WIB. Sejurus kemudian mobil ambulance meluncur memasuki rumah duka, membawa istri almarhum Nurlaela yang sempat pingsan dan dibawa masuk ke dalam rumah duka.

    Alunan tahlil melantun tiada henti dari dalam masjid dan rumah duka. Usai disalati, jenazah dibawa menuju rumah duka untuk disemayamkan persis di halaman depan sanggar sebelah barat. Tepatnya di depan konsorsium rumah wayang.

    Melubernya pelayat membuat petinggi aparat, antara lain Kapolres Tegal, Dandim 0712/Tegal, Danyon 407/Panmakusuma, Lanal, dan Provost turut membuat pagar betis di lintasan yang hendak dilalui pembawa jenazah.

    Putra almarhum, Haryo tampak tegar melepas kepergian ayahanda dengan bersiap di bawah liang lahat menunggu kedatangan jenazah. Tepat pukul 12.35 WIB, jenazah dibawa dari masjid Jami Bengle menuju rumah duka untuk disemayamkan.

    Habib Bagir, pengasuh majelis taklim Ketintang Talang berkesempatan membacakan azan dan ikomat kepada jenazah sebelum dimakamkan. Hujan air mata pecah di saat prosesi pemakaman berlangsung.

    Putra terkecil almarhum, Jafar pun tak kuat menahan tanggis dan dipapah masuk ke dalam rumah oleh kerabat. Istri almarhum Nurlaela yang sempat pingsan berupaya tegar untuk menyaksikan detik-detik terakhir pemakaman. Ayah Nurlaela Sukirman justru tampak tegar menyaksikan prosesi pemakaman menantunya hingga rampung. Seluruh pelayat pun seakan enggan untuk beranjak dari rumah duka setelah prosesi pemakaman selesai.

    Beredar kabar sehari sebelum menghadap Sang Khalik, almarhum sempat mengajak istri tercinta untuk meninggalkan aktivitas di sanggarnya yang belakangan ini selalu padat didatangi para simpatisannya. Almarhum juga sempat minta difotokan untuk terkahir kalinya oleh juru foto sekretaris dewan. Peziarah yang hendak menyaksikan prosesi pemakaman siang itu mengular hingga 2 kilometer memadati Jalan Raya Projo Sumarto Talang.

    Sedianya, almarhum bakal disemayamkan di makam keluarga besar yang berlokasi di Desa Damyak, Kecamatan Kramat. Kakak almarhum, Hardjo Yiyatno saat ditemui di sela-sela pemakaman menyatakan, awalnya sempat ada amanat bersama bahwa makam di Dampyak itu bakal menjadi makam bersama keluarga besar.

    ”Di sana sudah disediakan lahan untuk saya, Dirman, Kisto, dan Enthus. Namun, mendadak ada perubahan harus dimakamkan di sini. Diskusi keluarga berlangsung hingga jelang subuh tadi. Awalnya saya merasa keberatan. Namun setelah melihat vidio jelang detik-detik terakhir beliau meninggal, saya baru bisa menerima keputusan ini. Dalam video itu, almarhum meminta keluarga harus tetap rukun, guyup , dan tentrem bila dirinya sudah menghadap kepada Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

    INDONESIA KEHILANGAN MAESTRO
    Kepergian Ki Enthus Susmono secara mendadak, meyisakan duka mendalam bagi dunia seni pakeliran di Indonesia. Dia dikenal sebagai maestro dalang serba bisa dan cerdas dalam berkarya di dunia seni pertunjukan. Hal itu dilontarkan Dr Sugeng Nugroho, dekan Institut Seni Indonesia Surakarta Fakultas Seni Pertunjukan.
    ”Beliau kaya akan inovasi. Konon bicara soal wayang, beliau tidak hanya memandang dari segi boneka atau wayang saja. Beliau bisa menggali kreativitasnya melalui seni pertunjukan wayang,” katanya di sela-sela prosesi pemakaman di Sanggar Satria Laras, Selasa (15/5).

    Menurut dia, pertunjukan wayang Ki Enthus itu sangat luar biasa. Banyak gebrakan- gebrakan yang disajikan dalam jagad pakelirannya. Baik dalam wayang kulit purwo, wayang golek, maupun wayang santri.

    Dia berharap, dengan wafatnya maestro wayang Indonesia ini akan lahir sang penerus di dunia pakeliran. ”Kalau generasi yang mengikuti jejak Ki Enthus masih ada. Tetapi kalau secanggih dan sehebat Ki Enthus belum ada. Gaya pertunjukan yang disuguhkan Ki Enthus lebih cenderung pada seni kemas. Ini yang tidak dimiliki seniman dalang yang bergelut di dunia pakeliran,” ungkapnya.

    Dia menambahkan, Ki Enthus Susmono yang meninggal pada usia 52 tahun sudah banyak prestasi yang diraih. Bagi dia, kiprah Ki Enthus yang dapat diingat dalam benak setiap orang yang menyaksikan penampilannya adalah gaya sabetan khas. Dimana kombinasi sabet wayang golek dan wayang kulit yang membuat pertunjukannya terasa berbeda dengan gaya dalang lainnya. ”Ki Enthus juga memiliki kemampuan dan kepekaan dalam menyusun komposisi musik, baik modern maupun tradisi,” ungkapnya. (her/fat)




    Berita Terbaru :


    Scroll to Top