Honda GTR

  • Berita Terkini

    Sabtu, 12 Mei 2018

    Masuk Neraka Kalau Melawan Karena Makanan

    JAKARTA— Menyerahnya 155 tahanan dan napi teroris menunjukkan betapa besarnya peran Oman Abdurahman alias Amman. Pemimpin ideologis Jamaah Ansharut Daulah itu mempersoalkan penyebab utama para tahanan dan napi melakukan perlawanan. Yakni, soal makanan.


    Sumber Jawa Pos yang mengetahui bagaimana Oman dalam menyikapi insiden tersebut menuturkan, Oman tidak hanya menyebut seperti rekaman yang beredar. Namun, memberikan peringatan yang jauh lebih keras terhadap para tahanan dan napi yang melawan tersebut. ”Peringatannya soal alasan atau niat,” ujarnya.


    Niat perlawanan itu dikarenakan persoalan makanan membuat Oman tidak berkenan. Menurutnya, Oman menganalisa terlebih dahulu permasalahan tersebut. ”Setelahnya yang paling saya ingat, Oman menyebut masuk neraka barang siapa melakukan perlawanan atau pemberontakan karena makanan,” tuturnya.


    Setelah peringatan itulah, para tahanan mulai luluh. Hingga, akhirnya mereka menyerahkan diri, kendati ada sepuluh orang yang tidak seirama dengan tahanan lainnya. ”Ya begitu,” paparnya kepada Jawa Pos kemarin.


    Kondisi itu seirama dengan rekaman suara Oman yang beredar. Dalam rekaman suara itu Oman menyebut bahwa untuk urusan dunia tidak pantas terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kecuali karena masalah prinsipil yang tidak bisa ditolelir. ”Utusan antum bisa ketemu ana agar bisa menjelaskan masalah yang sebenarnya,” ujar Oman dalam rekaman itu.


    Oman juga meminta agar setiap orang yang bukan penghuni untuk keluar dari Rutan Mako Brimob tersebut. ”Mudah-mudahan bisa dimengerti, tidak ada manfaatnya juga bikin keributan di kandang singa,” tuturnya.


    Drama ini menunjukkan bagaimana pentingnya peran Oman dalam anatomi kelompok teror yang saat ini membayangi Indonesia. Dia menjadi sumber utama ideologi kelompok teror JAD. Dikonfirmasi terkait rekaman tersebut, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto mengaku telah mengetahuinya. ”Namun, saya masih mengecek lagi,” terangnya.


    Di sisi lain, muncul video yang berasal dari Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Video itu bertolak belakang dengan rekaman suara Oman. Bila oman meminta untuk tidak melawan. Tapi , MIT justru sebaliknya, tidak menyerah.
     

    Dalam video berdurasi 4 menit tersebut tampak Ali Kalora pengganti pimpinan MIT pasca Santoso tewas. Ali Kalora diapit oleh dua orang yang menutupi mukanya serta membawa dua senjata laras panjang M 16.


    Ali menyebut bahwa jangan pernah berpikir untuk negosiasi atau menyerah. Lihatlah di bumi Poso ini, MIT melawan hanya dengan dua pucuk senjata. ”Melawan ribuan orang,” tuturnya.


    Berbeda sekali dengan semua tahanan, menurutnya dengan membawa banyak senjata dan amunisi itu maka, melawanlah. ”Lawan dan kita akan diberikan kemenangan di bumi nusantara. Sampai syahid, tanah dan airnya rasanya manis,” tuturnya.

    Video dari MIT itu pertama kali menyebar dari sejumlah terpidana kasus terorisme di penjara. Bahkan, video itu sudah digabung dengan pernyataan Oman dalam rekaman suara.


    Pengamat Terorisme Al Chaidar menjelaskan, perbedaan antara Oman dengan MIT ini ada pada metode terorisme. Bila MIT ini metode tamkin atau teritorial, namun Oman menjalankan metode Tanzhim alias non teritorial. ”Metode berbeda menimbulkan sikap yang berbeda,” terangnya.


    Namun, yang paling penting adalah perbedaan ini akan membuat konflik internal di kalangan kelompok terorisme, JAD. ”Sebenarnya rekaman suara Oman itu menunjukkan fatwanya,” jelasnya dihubungi Jawa Pos kemarin.


    Perlu diketahui, Oman sebagai pemimpin ideologis JAD selalu menggaungkan untuk berjihad. Namun, Al Chaidar menyebut bahwa satu kali pun Oman ini belum pernah berjihad. ”Dia menjadi pemimpin ideologis, tapi tidak pernah menjalankan yang diyakininya,” tuturnya.


    Kemarin juga seharusnya Oman menjalankan persidangan untuk kasus bom Thamrin. Namun, akhirnya sidang tersebut ditunda karena hakim dan jaksa merasa bahwa kondisi keamanan belum stabil. Belum diketahui hingga kapan sidang tersebut ditunda. (idr)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top