Honda

Honda
Jogja
  • Berita Terkini

    Rabu, 23 Mei 2018

    Kekeringan, Petani Buluspesantren Terancam Gagal Panen

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)-Pada musim taman (MT) 2 ini, sebagian dari area persawahan di Kecamatan Buluspesantren terancam gagal panen akibat kekeringan. Hal itu salah satunya terjadi di Desa Bocor Kecamatan Buluspesantren.

    Padahal saat ini tanaman padi baru memasuki usia 50 hari. Jika dihitung menggunakan waktu, setidaknya para petani akan melaksanakan panen pada Bulan Juni mendatang. Kendati demikian adanya kekeringan yang melanda, mengakibatkan petani terancam gagal panen. Menyiasati hal tersebut, petani pun mengambil air dari sumur bor yang sengaja dibuat di area persawahan.

    Adanya kekeringan sawah dipicu oleh tidak adanya hujan yang turun beberapa waktu ini. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya aliran iriasi yang macet sehingga tidak dapat mengairi sawah.

    Dari pantauan Ekspres, adanya kekeringan telah membuat sebagian tanah sawah mengalami retak-retak. Kekeringan juga membuat ditumbungi banyak tanaman gulma. Kekeringan telah membuat kondisi tanaman padi menguning dan terlihat tidak segar.

    Salah satu petani warga RT 5 RW 1 Desa Bocor Yanto (35) mengemukakan, kekeringan telah melanda areal persawahan pada setiap musim kemarau. Sejak awal mula bertaman air debit air di sawah juga sangat minim. “Kekeringan juga disebabkan banyaknya petani yang berebut air,” tuturnya, Selasa (22/5/2018).

    Dijelaskannya pada awal mula musim taman, di lokasi sawah masih terdapat genangan air. Kendati demikian setelah itu tidak ada hujan yang turun dan menyebakan kondisi sawah menjadi kering. Hal serupa juga terjadi pada musim kemarau tahun lalu. Dimana pihaknya tidak dapat merasakan panen. “Kalau tahun lalu sama sekali tidak merasakan panen di musim ke dua,” katanya.

    Untuk mencari solusi dari persoalan tersebut, Yanto mengaku siap jika harus iuran untuk mendapatkan pasokan air. Jika air cukup maka seperti petani pada umumnya Yanto pun dapat merasakan panen dua kali dalam setahun. “Kami meminta kepada pemerintah untuk dapat dapat mencukupi kebutuhan air pada tanaman padi," harapnya.

    Yanto menambahkan kekeringan dirasakan sejak dua bulan lalu, tepatnya sekitar bulan Maret 2018.  Kini untuk dapat mengairi sawah seluas 80 ubin saja, pihaknya harus menghabiskan 9 hingga 10 liter bahan bakar untuk sekali mengambil air. “Jika hal ini dibiarkan maka nasib petani akan sangat susah,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top