• Berita Terkini

    Selasa, 22 Mei 2018

    Belajar Keberagaman dari Kampung Ampenan, Nusa Tenggara Barat

    Irawan Wibisono/radarsolo
    Tiga Bangsa Tak Pernah Perang hingga Pernikahan Silang

    Kebhinnekaan kita sebagai bangsa memang sedang diuji. Tak hanya soal kata, Ampenan memberi bukti nyata. Di sana ada tiga suku yang hidup bersama selama puluhan tahun dan tak pernah ada perselisihan. Berikut laporan wartawan Jawa Pos Radarsolo, IRAWAN WIBISONO yang baru pulang dari Pulau Seribu Masjid itu.

    ---------------------

    BERULANG li Haji Kemas Marzuki mengernyitkan dahi sembari memutar memori setengah abad yang lampau. Pria 64 tahun itu cukup lancar menjawab pertanyaan pewarta yang melakukan pembelajaran keberagaman di Kota Tua Ampenan Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Bagian Humas dan Protokol Pemkot Surakarta Minggu-Selasa (13-15/5).

    Ampenan adalah sebuah kecamatan di Kota Mataram, NTB. Daerah ini dahulunya merupakan pusat kota di Pulau Lombok. Di kecamatan ini terdapat peninggalan kota tua karena dahulunya merupakan pelabuhan utama daerah Lombok. Juga terdapat banyak kampung yang merupakan perwujudan dari berbagai suku bangsa di Indonesia, di antaranya Kampung Tionghoa, Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung Banjar, Kampung Arab, Kampung Bali dan sebagainya. Tiga bangsa yang mendominasi di Ampenan yakni Melayu, Arab, dan Tionghoa.

    “Dulu di sini pelabuhan yang sangat ramai. Saya pernah jadi buruh angkut disini,” ujar Marzuki.

    Sesepuh Kampung Ampenan ini ingat betul saat puluhan kapal feri berlabuh di dermaga Ampenan. Tak hanya kapal feri saja yang pernah hilir mudik di Ampenan, tapi juga kapal barang dan bahkan kapal untuk menunaikan ibadah haji. Namun pada 1973 ramainya Bandar Ampenan mulai surut. Pemerintah memindahkan jalur masuk ke Lombok dari pelabuhan tinggalan Belanda ini ke Lembar. Lembar dinilai lebih aman dan lebih memungkinkan untuk pengembangan.

    “Memang di Ampenan ini kalau musim barat sekitar bulan 12 atau Desember angin dan ombak sangat besar, jadi terkadang tutup,” kisahnya.

    Pasca pemindahan, ia mengakui kondisi masyarakat di sekitar Ampenan berubah. Hiruk-pikuk aktivitas pelabuhan kini tak ada lagi. Belum lagi warga yang menggantungkan hidup dari aktivitas di pelabuhan seperti Marzuki harus putar otak untuk mencari alternatif mata pencaharian. “Dulu setelah dipindah saya jadi sopir, banyak juga yang jadi nelayan,” katanya.

    Surutnya kejayaan pelabuhan Ampenan tak sepenuhnya menjadi kisah kelam. Di balik itu masyarakat di Ampenan terus berkembang dengan caranya sendiri. Mereka berbaur setiap hari dengan keberagaman yang seakan tidak menjadi soal. Bangunan rumah khas Tionghoa, Melayu, dan Arab dapat dilihat hingga kini. Tidak banyak penduduk yang merenovasi bangunan tersebut. Melainkan hanya sekadar memberikan sentuhan warna agar tidak terlihat kusam.

    Meski mendapat pengecatan, tetapi kesan kuno itu masih saja terlihat. Pemerintah Kota Mataram memang sengaja membiarkan keaslian bangunan di Kota Tua Ampenan. Bahkan, bangunan lawas itu masih bisa digunakan menjadi tempat tinggal, hingga tempat untuk berdagang bagi masyarakat. Suguhan yang begitu kental dengan nuansa masa lalu dan sejarah menjadi Ampenan banyak dikunjungi wisatawan.

    Budayawan Kota Mataram Lalu Arjuna menceritakan kedatangan ketiga suku tersebut lantaran Ampenan merupakan pelabuhan terbesar di Mataram. Banyak pendatang datang dari berbagai penjuru untuk mencari rempah-rempah.

    “Dan hingga kini ketiga etnis tersebut menjadi masyarakat Kota Mataram. Mereka hidup berdampingan dan tidak saling bersinggungan sama sekali,” kata Lalu.
    Ketiga suku yang berbeda bisa hidup membaur dan menyusun peradaban Ampenan sejak 1.800. “Kami suku Sasak sebagai orang asli sangat bisa menerima mereka, karena sebenarnya dari kami orang sasak juga berasal dari percampuran,” imbuhnya.

    Menurutnya, orang Sasak berfisik Vietnam, berbahasa Jawa dan Bali dan beragama dari Baghdad. “Kami menerima siapapun untuk bersama-sama hidup di Ampenan ini sejak ratusan tahun lalu,” kata Lalu.

    Salah satu bukti harmonisnya Ampenan adalah sudah banyak terjadinya pernikahan antarentis. “Kuncinya ya komunikasi, semua bisa dibicarakan, ketika ada masalah kami berkomunikasi, semua berjalan di rel masing-masing,” kata dia.

    Saat ini, pemerintah sudah mulai membangun kembali Ampenan sebagai kota wisata. Pemerintah Kota Mataram melalui Kabid Destinasi dan Pemasaran Pariwisata, Dinas Pariwisata Mataram, Nurhayati mengatakan pihaknya tengah berproses untuk menghidupkan kembali bandar Ampenan.
    “Kami saat ini masih berproses untuk menghidupkan kembali Ampenan, namun bukan sebagai pelabuhan bongkar muat, tetapi lebih ke destinasi wisata,” katanya. (*/bun)



    Berita Terbaru :


    Scroll to Top