Honda

  • Berita Terkini

    Selasa, 24 April 2018

    Kasus Stunting di Kebumen Terbilang Tinggi

    sudarno ahmad/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Kasus stunting (tubuh pendek) di Kabupaten Kebumen terbilang tinggi. Berdasarkan data pemantauan status gizi (PSG) tahun 2017, kasus stunting di Kebumen mencapai 28,5 persen. Secara nasional angka ini meningkat dari tahun 2016 sebesar 27,5 persen. Meski demikian, kasus stunting di Kebumen masih dibawah Provinsi Jawa Tengah sebesar 28,9 persen dan nasional 37 persen.

    "Ini merupakan PR (Pekerjaan Rumah) besar bagi kita semua untuk melakukan intervensi dalam rangka menurunkan angka stunting," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen, Y Rini Kristiani, pada acara peringatan Hari Gizi Nasional ke-58 di Alun-alun Kebumen, Minggu (22/4/2018).

    Dikatakan, bayi di bawah usia dua tahun, sangat rentan terkena stunting akibat kekurangan gizi dari ibunya sejak di dalam kandungan. Stunting merupakan sebuah kondisi dimana tinggi badan seseorang ternyata lebih pendek dibandingkan orang lain pada umumnya yang sesuai. Penyebab stunting adalah kekurangan gizi pada masa awal anak lahir, tetapi stunting baru nampak setelah anak berusia dua tahun.

    Disebutkan, ciri-ciri penderita stunting, tanda pubertas terlambat, performa buruk pada tes perhatian dan memori belajar, pertumbuhan gigi terlambat, usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan eye contact, pertumbuhan melambat dan wajah tampak lebih muda dari usianya. Dampak buruk stunting, untuk jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan metabolisme dalam tubuh.

    Sementara dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan stunting adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar. Menurunnya kekebalan tubuh, sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker dan stroke. 

    Penyebab anak mengalami stunting atau kekerdilan, salah satunya faktor gizi buruk yang dialami ibu hamil maupun anak. Faktor lain, kekurangtahuan seorang ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan. Kemudian, masih terbatasnya layanan kesehatan Antenatal Care (ANC) atau pelayanan kesehatan ibu selama kehamilan dan Postnatal Care, serta pembelajaran dini yang berkualitas. Kemudian, masih kurangnya akses pada makanan gizi, yang dikarenakan makanan bergizi di Indonesia tergolong mahal. Serta kurangnya akses air bersih dan sanitasi.

    Rini menjelaskan, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis. Kekurangan gizi sejak bayi dalam kandungan dan pada awal masa anak lahir. Adapun intervensi yang sangat strategis dalam penanganan stunting adalah pada 1000 hari pertama kehidupan, yakni sejak masa dalam kandungan sampai usia 2 tahun.

    Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kebumen, Sugihartana, mengatakan peringatan Hari Gizi Nasional di Kabupaten Kebumen diisi dengan berbagai kegiatan. Diantaranya, memberikan pelayanan konsultasi gizi dan membagi-bagikan ratusan paket sayur dan buah secara gratis kepada masyarakat.

    Sugihartana, menjelaskan tujuan utama dari kegiatan ini untuk mengajak masyarakat agar gemar mengkonsumsi sayur dan buah. Ia mengingatkan pentingnya mengkonsumsi sayur dan buah. Buah dan sayur bagi tubuh manusia memiliki banyak sekali manfaat. Hal tersebut karena kandungan didalam buah dan sayur yang beragam seperti vitamin dan mineral yang tinggi.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top