• Berita Terkini

    Friday, April 13, 2018

    Ekonomi Lokal dan Gelombang Disrupsi Ekonomi Digital

    KF Borni Kurniawan
    Hantu Tukang Ojek 
    Suatu hari penulis, begitu turun dari bus di suatu hotel di Kebumen, iseng menggunakan aplikasi Grab untuk mendapatkan jasa ojek online. Sebelumnya, seorang tukang becak motor menawari jasa tumpangan.

    Namun karena, ingin mencoba aplikasi Grab, akhirnya tawaran dari si tukang becak saya tolak dengan tanpa mengurangi rasa hormat tentunya. Setelah beberapa saat, si tukang becak motor tahu, kalau saya memanggil jasa ojek online, dia pun bergumam, “nek awan sida tek rewangi gelut”. “Andai saja di siang hari, direwangi berkelahi tidak masalah”, kira-kira demikian ancaman si tukang becak pada si tukang ojek online bila dibahasakan Indonesia.


    Menurut informasinya, populasi ojek Online di Kebumen telah mencapai angka ratusan, diperkirakan mencaai 300-an unit. Meskipun, dari hasil perbincangan saya dengan si tukang ojek online diketahui, rata-rata peroleh trip para tukang ojek online tak sefrekuentif mereka-mereka yang beroperasi di kota besar, mengambil profesi sebagai tukang ojek online adalah kebahagiaan tersendiri. Motivasi utama, menurut si tukang ojek online ‘menambah teman baru’. Artinya berkomunitas dan bersosialita menjadi motif utama para pengemudi ojek online di Kebumen. Pendapatan masih dinomorduakan.

    Diakui atau tidak, memang keberadaan komunitas ojek online di Kebumen tersebut tak pernah diduga sebelumnya, baik oleh pemerintah maupun komunitas ojek pangkalan sendiri. Karenanya, responsi yang tersampur  malah mengundang beberapa kontradiksi.

    Pertama, pemerintah daerah sempat menvonis praktik ojek online sebagai prbuatan ilegal, sehingga membuncahkan demontrasi. Kedua, di beberapa titik publik area seperti Stasiun Kereta, Terminal dan RSUD, acapkali terjadi adu mulut dan cekcok antara penarik ojek online dengan tukang becak ataupun tukang ojek yang sudah biasa mangkal di lokasi tersebut.

    E-Commerce Mendisrupsi Ekonomi Lokal
    Seperti halnya untuk kali pertama hadir di kota-kota besar di dunia, bisnis jasa usaha angkutan umum dalam jaringan (daring) yang dioperasikan melalui perangkat teknologi internet dan smartphone dan android, kehadirannya membikin kaget pebisnis konvensional.

    Para tukang ojek dan tukang becak pangkalan, tak terkecuali para pemangku kebijakan di daerah, baru tersadar bahwa kehadiran ojek online mendisrupsi tradisi lama yang selama ini mengandalkan transaksi ekonomi tatap muka.

    Dengan kata lain, penyedia jasa dan pengguna jasa selalu bertatap muka untuk mendapatkan kesepakatan harga dan jenis jasa yang diinginkannya. Oleh Renaldi Kasali (2017), fenomena munculnya gelombang bisnis daring ini menyerupai hantu.Kehadirannya menakutkan bagi pelaku bisnis yang masih memijakan diri pada mindset manajemen usaha lama (jadul). Atau mereka yang belum membuka diri pada perubahan zaman yang semakin canggih.

    Keributan dalam dunia usaha sebagian besar bersumber pada perbedaan penggunaan model bisnisnya. Di Kebumen sendiri, dan saya kira di daerah lainnya, pada saat pembangunan pasar modern (mall, supermarket, sampai dengan bisnis ritel seperti Indomart dan Alfamart) mendapat angin kebijakan dari pemerintah setempat, maka keberadaannya menggoyahkan lambung usaha para pedagang tradisional.

    Bahkan di akhir tahun 90-an dan awal 2000-an, kebijakan pemerintah Kebumen yang memberikan lampu hijau pada pembangunan super market Rita Pasar Raya dan Jadi Baru, mendapat sambutan demontrasi dari rakyat Kebumen.

    Meski belum ada kajian valid, diakui atau tidak, tidak sedikit para pelaku pasar tradisional mengeluhkan pendapatannya yang menurun. Terhadap dampak buruk pasar modern terhadap pelaku pasar tradisional tersebut, beberapa pemerintah daerah memberlakukan kebijakan yang ketat.

    Untuk beberapa masa, keberadaan pasar modern memang merajai oplah dan frekuensi transaksi jual beli barang ekonomi. Tapi, diakui atau tidak, keberadaanya tergoncang dengan munculnya hantu-hantu pasar jual beli barang online. 

    Konsumen tidak lagi perlu bersusah payah mendatangi pasar modern yang kebanyakan di kota besar, tapi cukup membuka dan mengeklik situs-situs E-commerce yang tumbuh subur di ruang belantara cyberspace. Konsumen juga tak perlu lagi mengantri lama di depan kasir, cukup klik nomor kartu kredit ataupun nomor rekening sebagai sarana pengiriman uang.

    Keberhasilan komunitas pembuat film pendek “Cingire” dari Kebumen menggaet ribuan pengunjung ke laman youtube-nya, sehingga mampu meningkatkan oplah penjualan kaos cingire hingga ke negeri manca, adalah satu contoh bagaimana kekuatan internet mampu mendisrupsi bisnis jual beli kaos yang sebelumnya hanya mengandalkan strategi membuka gerai ataupun distro offline.

    Menemukan Peluang dan Modalitas Ekonomi Digital

    Dengan demikian, munculnya E-commerce yang semakin marak dan ruwet dengan berbagai ragam kemudahan layanannya, mau tidak mau perlu menjadi perhatian semua pihak, utamanya para pemangku kebijakan di daerah. 

    Bukan untuk menolak kehadirannya, melainkan meredam setiap potensi kejutan negatifnya yang acapkali membuncahkan kontradiksi sengketa sosial. Dengan kata lain, perlu sama-sama menyiapkan early warning system untuk menghadapi kemajuan zaman utamanya di bidang ekonomi yang semakin kompleks dengan daya saing.

    Di samping itu, juga perlu menyiapkan road map pengembangan kapasitas masyarakat baik para pelaku usaha maupun konsumen yang memiliki basis kajian peramalan tantangan masa depan yang bukan tidak mungkin semakin kompleks, rumit dan menantang kebebasan berekspresi dalam usaha.

    Konkritnya, pertama, pemerintah daerah perlu segera belajar serta mempelajari berbagai efek maupun peluang positif rizomatik bisnis dari yang marak di kota besar tapi tetap akan merambat ke daerah.

    Bagaimana pun juga mulai dari jasa layanan transportasi online sampai dengan perdagangan online membawa dampak negatif sekaligus manfaat positif. Karenanya, perlu dilakukan kajian oleh pemerintah daerah, sehingga didapatkan direktori kekuatan, kelemahan, hingga peluang tantangan yang harus dihadapi oleh semua elemen daerah.

    Bagi pemerintah daerah sendiri, direktori ini akan membantu dalam hal penyiapan program dan kebijakan strategis terkait dengan pengembangan ekonomi di era digital di tengah tradisi ekonomi lokal yang masih bersifat tradisional.

    Kedua, masyarakat, khususnya para pegiat, para ahli, pemerhati, komunitas pengguna internet serta perambah dunia usaha daring di lokal, perlu melakukan disrupsi pula terhadap gerakan bisnis usaha daring yang sebagian besar tumbuh dari kota besar dan mendominasi kekuatan ekonomi lokal.

     Dengan kata lain, dalam lokalitas ekonomi daerah, perlu adanya upaya penumbuhan kekuatan aktor ekonomi daring dari dalam komunitas atau masyarakat itu sendiri. Dengan demikian kekuatan jejaring ekonomi lokal yang telah dapat direbut dari genggaman kapitalisasi pelaku usaha daring yang telah lebih dulu berkembang, sekali lagi yang sebagian besar ada di kota besar.

    Modalitas untuk mencapai tujuan strategi di atas, sebenarnya sudah ada di tengah masyarakat. Misalnya, adanya pertama,kekuatan lembaga pendidikan baik yang menengah kejuruan, maupun Perguruan Tinggi yang mengembangkan jurusan berbasis program studi informasi dan telematika, kedua, komunitas blogger ataupun youtuber, penyedia jasa koran elektronik (Kebumen News, Berita Kebumen, dll), serta pengguna medsos lainnya yang cukup tinggi, dan ketiga, kuantitas dan kualitas komoditas ekonomi lokal yang tersedia cukup luas dan menjanjikan untuk secara berkelanjutan dijual ke pasar ekonomi lokal, regional, nasional dan global.

    Sayangnya, ketiga modalitas belum mendapatkan sentuhan fasilitasi yang memadai dari pemerintah setempat agar menjadi power yang memback up keberlanjutan produktivitas ekonomi lokal di atas panggung ekonomi digital.

    Maka dari itu, di sinilah kiranya pentingnya pemerintah daerah lebih serius lagi menggenjot sektor ekonomi lokal dengan cara mengoptimalkan modalitas teknologi informasi dan telematika yang telah dimilikinya baik itu yang sudah ada dalam infrastruktur pemerintah maupun dalam modalitas sosial masyarakatnya.[]


    KF Borni Kurniawan
    (Dosen Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama Kebumen)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top