• Berita Terkini

    Senin, 12 Maret 2018

    Gabungkan Dakwah dan Teater, "Robohnya Surau Kami" Dipentaskan

    sudarno ahmad/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Pentas teater yang mengadaptasi cerpen karya AA Navis, "Robohnya Surau Kami" itu berlangsung di Aula Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kebumen, Sabtu (10/3/2018) malam. Ruangan tempat pertunjukan digelar dipenuhi penonton yang duduk lesehan.

    Beberapa tokoh Muhammadiyah Kebumen ikut hadir di tengah penonton seperti Ketua PDM Abduh Hisyam, Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Hasan Bayuni dan Sekretaris PDPM Heri Pramono. Tampak hadir juga Wakil Ketua DPRD Kebumen Bagus Setiawan dan anggota Fraksi PAN Suhartono.

    Menurut sutradara dalam pementasan tersebut, Muhlis Sawali, diangkatnya cerita "Robohnya Surau Kami", karena ingin menggabungkan teater dengan dakwah. Dalam pandangannya, masyarakat Kebumen, khususnya kalangan generasi mudanya, banyak yang kurang mementingkan akhirat.

    "Kebanyakan hanya mengejar dunia saja dan kurang mementingkan akhirat," ujarnya prihatin.

    Keprihatinan Muhlis senada dengan terlantarnya surau tua dalam cerita tersebut sepeninggal kakek tua yang menjadi penjaga surau. Sehingga dari semula merupakan tempat ibadah, berubah menjadi tempat bermain anak-anak. Bahkan perempuan yang kehabisan kayu bakar, suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.

    Salah satu adegan menarik adalah mimpi kakek tua penjaga surau tentang akhirat. Dilihatnya Haji Shaleh yang diadili di akhirat tengah menjelaskan bahwa bukan namanya saja yang shaleh tapi juga kelakuannya. "Tetangga-tetangga saya pasti bersedia bersaksi kalau saya orang shaleh," ujar Haji Shaleh.

    Namun ketika ditanya keluarganya, Haji Shaleh tidak mampu menjelaskan. "Saya bahkan hampir-hampir tak ingat lagi bagaimana keadaan mereka," terangnya.

    Saat didesak apakah sudah melupakan keluarganya, Haji Shaleh menjawab, "Bukan lupa, tapi aku sibuk!"

    Haji Shaleh dengan keshalehannya semula yakin akan dimasukkan ke dalam syurga. Ternyata kelalaiannya memperhatikan keluarga membuat Haji Shaleh dimasukkan neraka.

    Meski minim peralatan tata suara dan tata cahaya panggung, adegan-adegan berlangsung cukup komunikatif dengan penonton. Sepuluh aktor dan aktris yang bermain cukup berhasil menghayati perannya.

    Delapan personil dari Teater Sinar sendiri, yakni Dibta Rosanto, Fathan Tina Putra, Endah Nur Hasanah, Achmad Fauzi Nur Sholeh, Arjun Mars Setya Aji, Nila Syafiyati Amri dan Fajar Ashari. Sementara dua aktor lainnya berasal dari Teater Gerak IAINU, yaitu Ali Mubarok dan Arif Aminudin.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top