• Berita Terkini

    Sunday, February 4, 2018

    Perubahan Hari Jadi Kebumen Digagas Sejak Bupati Buyar

    Mantan Bupati Buyar Winarso (tengah) bersama Mohammad Yahya Fuad dan Yazid Mahfudz (kanan)
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)– Perubahan hari jadi Kebumen yang saat ini bergulir pembahasannya di DPRD ternyata sudah digagas sejak Bupati Buyar Winarso. Hanya saja, tanggal yang dipilih Buyar Winarso sebagai Hari Jadi Kebumen ternyata berbeda dengan piihan bupati periode berikutnya, Muhammad Yahya Fuad.

    Buyar Winarso memilih 17 Mei 1643, sedangkan Bupati Fuad memilih tanggal 21 Agustus 1629 sebagai hari jadi Kebumen, untuk mengganti 1 Januari 1936 yang berlaku saat ini.

    Perbedaan inilah yang kemudian disorot mantan anggota DPRD Kebumen, Achmad Baedowi. Menurut dia, bupati sekarang sebaiknya tinggal meneruskan usulan yang digagas bupati sebelumnya.

    "Pembahasan Hari Jadi Kebumen yang dilakukan saat ini mestinya juga bersesuaian. Jika berbeda antara bupati sekarang dengan bupati sebelumnya, tentu ini seperti mengonfirmasikan tidak terarahnya tatanan di Kebumen," kata Baedowi ditemui di rumahnya di Desa Klapasawit, Kecamatan Buluspesantren, Minggu (4/2/2018).

    Dia menuturkan, tanggal 17 Mei 1643 yang dipilih Bupati Buyar berpijak pada momentum penghalauan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Pantai Petanahan oleh Badranala bersama prajuritnya serta ulama Ki Ageng Geseng dan Ki Nayapatra.

    Sementara Bupati Fuad berpatokan pada momentum penyediaan logistik oleh Badranala untuk membantu pasukan Sultan Agung menyerang Batavia. Peristiwa ini terjadi pada 21 Agustus 1629. Dipilihnya tanggal ini setelah melalui riset dengan melibatkan berbagai unsur terkait bahkan hingga melibatkan tim dari UGM Yogyakarta.
    Meski demikian, Baedowi menilai jika 17 Mei 1643 lebih tepat sebagai hari Jadi Kebumen. Alasannya momentum penghalauan VOC di Pantai Petanahan tersebut dinilai bisa membangkitkan jiwa patriotisme dan nasionalisme.

    "Kita butuh momentum yang seperti itu agar untuk memberikan kebanggaan dan menumbuhkan jiwa nasionalisme," tandas Baedowi sembari mengatakan jika Pengasuh Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu KH Afifuddin Al Hasani atau Gus Afif membenarkan tanggal 17 Mei 1643 paling tepat dan strategis sebagai hari jadi Kebumen. 
    Ditambahkannya, pemilihan tanggal 21 Agustus 1629 untuk mengganti hari jadi Kebumen yang selama ini diperingati setiap 1 Januari, masih menjadi perdebatan panjang. Pasalnya, pada saat itu Badranala belum diangkat menjadi pemimpin Kebumen, yang masih bernama Panjer.

    Badranala baru diangkat oleh Raja Mataram Sultan Agung menjadi pemimpin daerah ini pada tahun 1642. Sehingga, momentum penyediaan logistik yang dilakukan Badranala tidak tepat sebagai acuan hari jadi. "Besarnya logistik kan tidak untuk ditonjolkan karena bersifat materialistik," imbuh Baedowi.

    Apalagi siapapun mengetahui bahwa logistik bukan sebagai penentu kemenangan dalam penyerangan heroik tersebut. Peristiwa itu juga tidak ada cantelan yang jelas di Kebumen. Karena, penyediaan logistiknya tidak hanya di daerah ini saja.

    "Lokasi penyerangan pada 21 Agustus 1629 itu pun berada di Batavia. Dan itu tentunya menjadi bagian dari sejarah perjalanan Badranala, bukan malah dijadikan acuan sebagai hari jadi Kebumen," ucap Baedowi yang semasa periode Bupati Buyar (2010-2015) aktif mencermati proses perubahan hari jadi Kebumen.

    Disisi lain, Baedowi juga meminta proses pembahasan Hari Jadi Kebumen juga dilakukan seperti masa Bupati Buyar. Saat itu, proses penentuan hari jadi Kebumen melibatkan ulama dan umaro, serta pihak terkait, sebagaimana semangat yang ditunjukkan oleh Badranala.

    Terkait pembahasan terhadap rencana perubahan Hari Jadi Kabupaten Kebumen, pihak DPRD Kebumen telah menindaklanjuti dengan membentuk Panitia Khusus (Pansus).
    Pansus I ini diketuai oleh politisi senior Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Miftahul Ulum. Pansus yang dibentuk pada masa sidang I tahun 2018 ini akan bekerja selama dua bulan. Setelah mereka akan melaporkan pembahasannya pada rapat paripurna DPRD mendatang.

    Sebelumnya, Wakil Bupati Kebumen Yazid Mahfudz mengatakan, berdasarkan penelitian sejarah, pemilihan hari jadi pada 21 Agustus 1629 didasarkan pada peristiwa sejarah yang dapat dijadikan keteladanan. Yakni peristiwa Kyai Bodronolo membantu penyediaan dan perbekalan pasukan Sultan Agung dalam menyerang Batavia. "Peristiwa ini dinilai sangat penting, yang bisa dijadikan sebagai teladan," terang Yazid Mahfudz.

    Menurut dia, dalam menentukan Hari Jadi Kabupaten Kebumen, eksekutif sudah memiliki data empiris yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
    Untuk diketahui, penetapan Hari Jadi Kabupaten Kebumen 1 Januari 1936, saat ini berdasarkan waktu penggabungan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Kebumen. Penetapan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Lembaran Negara Hindia Belanda Tahun 1935 Nomor 629 tertanggal 31 Desember 1935. Kemudian ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1990. (has)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top