• Berita Terkini

    Tuesday, February 6, 2018

    Perangkat Desa Banioro Pelopori Gerakan "Tolak Rastra bagi Warga Mampu"

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)-Apa yang dilaksanakan oleh para Perangkat Desa Banioro Kecamatan Karangsambung patut untuk mendapatkan acungan jempol. Pasalnya karena sudah mampu dari segi ekonomi, maka mereka berbondong-bondong mengundurkan diri dari menerima Beras Sejahtera (Rastra).

    Untuk itu jatah beras yang semula diberikan kepada para perangkat desa, kini dapat digunakan untuk masyarakat yang memang benar-benar membutuhkan. Adanya pengunduran diri tersebut mendapat apresiasi dari PJ Kepala Desa Banioro Sampurno SSos MM. Kini di Banioro tidak ada lagi perangkat desa yang mendapatkan jatah rastra.

    Pengunduran diri para Perangkat Desa tersebut awalnya dipelopor oleh Sekretaris Desa Banioro Renggo Suripto. Pihaknya menyatakan telah mampu dan tidak lagi menerima rastra. Adanya pengunduran diri tersebut akhirnya diikuti oleh tujuh perangkat lainnya.  Kini tidak satupun perangkat desa di Banioro yang menerima jatah rastra.

    PJ Kepala Desa Banioro Sampurno SSos MM menyampaikan, apa yang dilakukan oleh para perangkat tersebut patut untuk diapresiasi. Dalam hal ini seseorang yang telah mampu secara ekonomi seharusnya menyadari jika bantuan rastra tidak lagi menjadi haknya. Sebab rastra memang merupakan hak bagi warga yang membutuhkan. “Jika memang telah mampu tentunya tidak lagi berhak. Jika tetap mendapatkan itu sama saja memakan hak orang lain,” tuturnya, Selasa (6/2/2018) di ruang kerjanya.


    Adanya kesadaran para perangkat desa tersebut, diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat umum lainnya. Yakni jika memang telah mampu jangan lagi menerima rastra. Alihkan bantuan tersebut untuk warga yang lebih berhak. “Jika secara ekonomi sudah mampu tetapi tetap menerima rastra, maka sebenarnya miskin jiwanya,” paparnya, didampingi Sekdes Renggo Suripto.
    Dalam kehidupan lanjutnya, jika manusia sudah mengalami mikin jiwa, maka akan sulit merasa bahagia. Meski telah mempunyai harta dan telah tergolong mampu atau bahkan lebih, namun jiwanya akan merasa terbelenggu akan kekurangan.  Hal itu sama dengan tidak mensyukuri dengan nikmat rejeki yang telah diberikan oleh tuhan.  “Bisa jadi di luaran sana banyak orang-orang yang sebenarnya mampu, namun masih menerima rastra. Padahal rastra sebenarnya merupakan hak dari masyarakat prasejahtera,”  ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top