• Berita Terkini

    Saturday, February 3, 2018

    Konservasi Mangrove dan Dampak Perubahan Iklim

    Faqih Musyaffa
    MEMBICARAKAN perubahan iklim tentu bukan menjadi hal yang membosankan dan diabaikan begitu saja mengingat dampak yang diakibatkan akan terus terjadi sehingga menuntut kita untuk mencari upaya antisipasi maupun penanganan dari kejadian tersebut.

    Berkaca pada informasi cuaca yang telah dirilis oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi yang akhir-akhir ini terjadi tentu menjadi perhatian penuh khususnya untuk wilayah perairan pantai dan laut.

    Muara setiap sumber air dalam kehidupan sehari-hari kita adalah laut. Di mata masyarakat luas, Indonesia dikenal sebagai negara maritim yang kaya akan sumber daya laut dan deretan pesisir pantainya yang membentang luas. Peran laut amatlah penting mengingat sifat air yang ada tidak mungkin terlepas dari keadaan sumbernya.


    Potensi ini telah banyak memberikan andil bagi  kehidupan masyarakat kita. Di sisi lain, pengelolaan sumber daya air khususnya wilayah pesisir ini telah mengakibatkan kerusakan.

    Wilayah pesisir yang terkena dampak  cukup  besar adalah  keberadaan mangrove. Data dari Kementerian kehutanan menunjukan bahwa  luas mangrove di Indonesia pada tahun 1999 berkisar 8,6 juta Ha kemudian disusul data dari  Pusat Survei Sumber Daya Alam Laut (PSSDAL) BAKOSURTANAL tahun 2009 bahwa total luasan mangrove di Indonesia menyusut hingga tinggal sekitar 3.244.018,460 juta Ha, sedangkan di Provinsi Jawa Tengah menjadi sekitar 4.857,939 Ha.


    Angka-angka tersebut bukanlah angka yang kecil melainkan angka yang menunjukan fakta nyata dan harus menjadi perhatian kita semua mengingat angka tersebut adalah dampak dampak dari kerusakan lingkungan perairan akibat penyusutan  lahan  dari pengalihan lahan mangrove menjadi tambak hingga abrasi pantai.

    Kerusakan lingkungan perairan tentu akan terus terjadi sehingga  diperlukan upaya  pemeliharaan daerah pantai atau pesisir yang merupakan daerah pertemuan antara badan air laut dan daratan. Penyelamatan pantai berarti juga menyelamatkan seluruh ekosistem yang mencakup keanekaragaman flora dan fauna air, baik payau maupun air laut. Upaya ini tidak mungkin terlepas dari upaya konservasi sumber daya air.

    Mangrove yang kita kenal merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai yang terlindung laguna, muara sungai yang tergenang pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam.

    Keberadaan hutan  mangrove  di tengah-tengah masyarakat memberikan tuntutan kesadaran akan  penjagaan ekosistem. Pemanfaatan data cuaca dan iklim BMKG dalam penentuan plotting wilayah tanam memudahkan masyarakat dalam melakukan konservasi mangrove. Keberadaan mangrove dapat meminimalisir akibat fenomena hidrometerologi misalnya angin kencang dari arah laut, abrasi pantai, ombak tinggi, dan banjir rob. Kita dapat menjadikan mangrove sebagai benteng alam sebagai pertahanan dari risiko dampak perubahan iklim.

    Generasi Muda dan Pendidikan Konservasi

    Kontribusi masyarakat terutama generasi muda menjadi kunci penting dalam menjaga konservasi sumber daya air dan lingkungan perairan mengingat masih minimnya orang yang peduli dengan keberadaan mangrove. Lantas, bagaimana cara untuk menarik minat masyarakat terutama generasi muda guna menjaga lingkungan perairan tersebut? Kuncinya adalah melalui Pendidikan. Pendidikan dalam menjaga konservasi sumber daya air harus dikenalkan dan diajarkan sedari dini.

    Pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan dapat dilakukan dengan wujud menarik partisipasi masyarakat agar berkecimpung langsung dengan konservasi yang ada sehingga masyarakat khususnya generasi muda tidak hanya mendapatkan ilmu secara teoretis namun dapat berperan aktif dalam melakukan  perubahan melalui konservasi tersebut. Dan pendidikan dalam menjaga konservasi sumber daya alam harus dikenalkan dan diajarkan sedari dini.

    Generasi muda memiliki peran amat penting mengingat mereka yang akan meneruskan jejak para senior dalam beberapa tahun ke depan untuk mengembangkan upaya konservasi sumber daya air. Generasi muda dengan kemampuan untuk menjangkau berbagai media termasuk dunia maya, media cetak, dan forum-forum umum dapat mengangkat konservasi sumber daya air dan dampak perubahan iklim sebagai topik yang lebih merakyat dengan bekerja sama dengan instansi terkait salah satunya BMKG.

    Konservasi sumber daya air merupakan masalah yang harus diselesaikan bersama dengan seluruh lapisan masyarakat. Mereka adalah pionir-pionir yang akan mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai, menjaga kebersihan pantai, mendaur ulang sisa sampah, dan upaya-upaya konservasi lain seperti menanam mangrove  di pantai. Jika konservasi sumber daya alam sudah menjadi pembiasaan, tidak mustahil, bukan, untuk menjadikan konservasi sumber daya air menjadi kultur atau budaya kita?

    Inilah harapan besar bagi generasi muda yang harus kita awali dengan aksi nyata sedari dini.

    Faqih Musyaffa
    Taruna Program Studi DIV-Meteorologi / 11.17.0008
    Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top