Honda GTR

  • Berita Terkini

    Senin, 19 Februari 2018

    Komunitas Kekar Gigih Kampanyekan Ekonomi Syariah

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)-Persoalan perekonomian menjadi sangat penting untuk terus dikaji dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu Komunitas Ekonomi Anti Riba (Kekar) Kebumen, selalu mengkampayekan sistem ekonomi anti riba, yang akan menguntungkan kedua belah pihak.

    Dalam konteks agama riba merupakan hal yang dilarang. Kendati demikian terlepas dari persoalan agama riba memang merugikan salah satu pihak. Dengan adanya pihak yang dirugikan maka tujuan ekonomi yakni untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup akan sulit tercapai. Pasalnya alih-alih dapat memenuhi kebutuhan hidup, pihak yang telah terjerat riba saja, terkadang sulit untuk mengembalikan kehidupan seperti semula.

    Banyaknya persoalan tersebut, membuat Kekar Kebumen gigih untuk mengkampanyekan perekonomian yang sesuai dengan syariah. Pasalnya jika dilandasi dengan syariah tentutnya akan saling menguntungkan satu sama lain. “Ini akan memunculkan generasi yang bersih dari riba dan berkah dalam menjalani kehidupan,” tutur Ketua Kekar Kebumen Soleh Sugarto Amd, disela-sela acara pertemuan yang membahas tentang bahaya riba dan solusinya, Minggu (18/2/2018).

    Kegiatan yang mengundang nara sumber Ustadz Ammi Nur Baits itu, dilaksanakan di Rumah Makan Yunani 19 Sruweng. Acara tersebut diikuti oleh ribuan pengunjung.

    Dalam kesempatan tersebut, Soleh Sugarto yang akrab disapa Bob itu menyampaikan, di Indonesia sendiri terdapat 70 cabang organisasi anti riba. Dari jumlah tersebut salah satunya terdapat di Kebumen. Konsep yang dibangun sederhana yakni membebaskan masyarakat dari transaksi yang mengandung riba. Baik itu dalam transaksi jual beli, hutan piutang maupun leasing dan lain sebagainya. “Hutang yang mengandung riba tentunya akan sangat menjerat para penghutang,” jelasnya didampingi sekretarisnya Win Suwarto SSy.

    Dalam kesempatan tersebut, Bob juga menyampaikan tentang dampak negatif hutang, terlebih jika dalamnya riba. Riba tidak ada manfaatnya sama sekali bahkan justru menimbulkan efek yang menyusahkan dan juga haram. “Hutang akan menyebabkan beban hidup dan beban pikiran. Penghutang akan gelisah di malam hari dan terhina di siang hari. Hutang juga dapat memutus silaturahmi, terjerumus dalam dunia kriminal” terangnya.

    Dari hasil pengalamannya pribadinya, Bob menceritakan, jika usaha yang dilaksanakan dengan hutang, pasti akan meningkat dengan sangat drastis. Namun hal itu tidak akan berlangsung lama. Adapun usaha yang dilaksanakan tanpa hutang peningkatannya memang pelan namun akan lebih kuat dan langgeng. “Kalau usaha dengan modal hutang, biasanya meningkat sangat pesat, namun paling lima tahun setelah itu menurun. Untuk itu mulailah usaha dengan modal seadanya dan dikembangkan dengan baik,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top