• Berita Terkini

    Wednesday, February 14, 2018

    Berniat Bina Siswa, Kepsek Dipaniaya Wali Murid

    JAKARTA – Kekerasan kepada guru yang berujung meninggalnya Ahmad Budi Cahyono, guru SMAN 1 Torjun, Sampang, masih hangat. Lantas muncul kasus serupa di Sulawesi Utara. Kali ini Kepala SMPN 4 Lolak, Bolaang Mongondow Astri Tampi harus dirawat setelah mengalami penganiayaan oleh DP alias Mart, wali salah satu murid SMPN 4 Lolak.


    Cerita penganiayaan ini bermula saat Astri memanggil anak Mart. Tujuannya untuk mengklarifikasi kasus beredarkan kabar anak SMPN 4 Lolak yang membawa alat tes kehamilan di sekolah. Saat itu Mart datang ke sekolah pada Selasa (13/2/2018i. Astri dan Mart lantas bertemu di ruang kepala sekolah.


    Saat diterangkan maksud dan rencana pembinaan untuk anaknya, Mart tidak terima. Dia lantas menendang meja kaca yang ada di hadapan Astri. Tidak hanya itu, Astri lantas dipukul menggunakan meja kaca tersebut. Aksi penganiayaan belum berhenti. Astri mengaku sempat ditendang setelah dipukul menggunakan meja kaca.


    Akibat aksi kekerasan ini Astri mengalami luka di tangan, wajah, serta kepala bengkak. Dia saat ini dirujuk untuk mendapatkan perawatan di RSUP Prof dr RD Kandou Malalayang, Manado. Sementara Mart mendekam di tahanan Mapolsek Lolak. Dia dijerat pasal 351 KUHP ayat 1 dengan ancaman kurungan maksimal lima tahun.


    Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi menegaskan tidak terima atas penganiayaan wali murid kepada Kepala SMPN 4 Lolak itu. Dia mengatakan akan menjalankan investigasi dan menggunakan biaya sendiri untuk mendalami kasus itu. ’’Di negara ini harusnya sekolah menjadi lingkungan yang aman,’’ katanya di Jakarta kemarin (14/2). Baik itu untuk murid, guru, dan aparatur di lingkungan sekolah lainnya.


    Dia mengatakan seharusnya orangtua bisa menahan diri ketika anaknya mendapatkan pembinaan oleh sekolah. Unifah menegaskan pada prinsipnya orangtua itu menitipkan anaknya untuk didik di sekolah. Menurut Unifah pada kasus yang terjadi di SMPN 4 Lolak itu sanksi, pembinaan, atau hukuman belum sempat dijatuhkan kepada siswa.

    Unifah menuturkan saat ini sedang berkomunikasi dengan Komisi X DPR. Diantaranya tujuannya adalah untuk menggodok adanya undang-undang tentang perlindungan guru. Dia menuturkan di UU 14/2015 tentang Guru dan Dosen sudah ada ketentuan soal perlindungan guru. Namun belum maksimal. Guru dalam mendidik siswa sering dihadapkan dengan pelanggaran hukum untuk anak-anak.


    Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy mengungkapkan dirinya telah memerintahkan Ispektur Jenderal Kemendikbud Daryanto untuk turun langsung ke Lolak, Manado untuk menyelidiki apa yang terjadi. ”Mungkin hari ini (kemarin,Red) sudah ada di TKP,” katanya pada Jawa Poskemarin.


    Kemendikbud akan menunggu laporan Daryono untuk menentukan langkah. Muhadjir mengatakan, bila perlu Kemendikbud akan mengusahakan bantuan hukum pada Astri. ”Bilamana posisi korban dirasa kurang menguntungkan,” kata mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.


    Menurut muhadjir, yang dilakukan oleh wali murid terhadap Asri adalah tindakan yang tidak bisa ditoleransi. ”Mestinya termasuk pelanggaran berat karena yang jadi korban guru yang tengah menjalankan tugas profesinya,” ungkapnya.

    Sementara untuk kasus pencabulan yang dilakukan oknum Guru di Jombang, Muhadjir mengaku memasrahkan sepenuhnya pada kebijakan kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Jombang. ”Tapi Kemendikbud akan terus meminta laporan perkembangan perkara, terutama nanti setelah keluar keputusan tetap pengadilan,” katanya.

    Meski demikian, Muhadjir tegas mengatakan bahwa perbuatan tersebut bukan lagi sekedar malpraktek ataupun pelanggaran kode etik semata. Jika pelaku adalah PNS, harus segera diberhentikan, kalau non PNS, harus dilarang untuk kembali mendaftar menjadi seorang guru  (persona non-grata). ”Kalau sudah bersertifikat pun harus dicabut,” tegasnya.


    Menanggapi usulan regulasi khusus perlindungan guru, menurut Muhadjir, regulasi yang sudah ada cukup memungkinkan perlindungan terhadap guru dan murid. Namun, masih perlu peningkatan dalam hal penegakannya. ”Akan kita kaji ulang peraturan yang ada, mungkin sudah saatnya untuk direvisi,” pungkasnya.


    Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi mengatakan sangat prihatin ada guru yang menjadi pelaku tindakan cabul kepada siswanya. ’’Kalau kasusnya seperti ini kami sulit untuk mendampingi,’’ jelasnya. Sebab dia mengakui guru harus menjadi gerbong pertama menegakkan moral di lingkungan sekolah.


    Dari kasus guru cabul di Jombang, Jawa Timur itu Unifah berharap sistem seleksi guru benar-benar ditinjau ulang. Khususnya terkait kondisi kejiwaan dan mental para guru. Jangan sampai guru yang seharusnya menjadi ’’orangtua’’ kedua bagi para murid, malah bertindak kejahatan kepada murid. (tau/wan)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top