• Berita Terkini

    Tuesday, January 9, 2018

    Sungai Kejawang Rawan Longsor, Warga Minta Bronjong

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)-  Kepala Desa Kejawang Kecamatan Sruweng Sadimin berharap agar tepi Sungai Kejawang yang berada di RT 1 RW 3 desa setempat dibronjong. Pasalnya hingga kini kondisi tikungan luar sungai telah cukup memprihatinkan dan rawan longsor.

    Kepada Kebumen Ekspres, Sadimin menyampaikan selama empat sampai lima tahun ke belakang saat musim hujan arus Sungai Kejawang sangat kuat. Derasnya arus kerap kali membuat air sungai meluap dan menimbulkan banjir. Selain itu kuatnya arus juga menyebabkan bagian tebing tikungan luar sungai rawan longsor. “Kami berharap adanya perhatian dari pemerintah. Pembronjongan juga dilaksanakan dalam rangka menyelamatkan aset jalan,” tuturnya, kemarin (9/12018).

    Dijelaskanya tidak lebih dari empat meter dari bibir sungai, terdapat jalan yang menjadi transportasi utama masyarakat. Jika sampai longsor terjadi, maka jalan akan tergerus dan akibatnya putusnya akses transportasi. “Untuk itu kami berharap adanya penanganan,” katanya.

    Pihaknya menyampaikan, lokasi tikungan sungai di Rt 1 RW 3 memang cukup panjang, yakni mencapai 100 meter dengan ketinggian 3 meter. Kendati demikian jika hal tersebut dibiarkan begitu saja maka kerusakan akan semakin parah. “Diperlukan penanganan segera demi menyelamatkan aset yang ada,” paparnya.

    Dijelaskannya, awal mulanya debit air Sungai Kejawang biasa saja. Namun sejak lima tahun lalu, jika terjadi hujan lebat maka air sungai dapat meluap. Hal ini salah satunya disebabkan kurang berfungsinya hutan rakyat untuk menyimpan air. “Dulu waktu masih normal debit air tidak sebanyak saat ini meski di musim penghujan,” paparnya.

    Kurang berfungsinya hutan rakyat menurut Sadimin salah satunya disebabkan adanya penggangian varietas tanaman. Sebelumnya hutan rakyat ditanami berbagai pohon kayu keras yang mampu menyimpan air dengan baik.

    Kendati demikian naiknya harga jenitri membuat warga masyarakat mengganti tanaman yang ada dengan jenitri. Meski secara ekonomi hal itu baik untuk menambah penghasilan, namun penggantian varietas tanaman mengganggu keseimbangan alam. “Saya mengamati hal itu. Sebaiknya memang hutan rakyat ditanami kayu keras dan tanaman yang dapat mengikat air. Dengan demikian maka keseimbangan alam akan tetap terjaga,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top