• Berita Terkini

    Senin, 29 Januari 2018

    Perlunya Membangun Rumah Tahan Gempa

    JAKARTA – Setiap kali terjadi gempa, selalu saja ribuan rumah rusak. Rata-rata di daerah pedesaan yang pembangunannya masih asal-asalan. Padahal, seluruh wilayah indonesia, minus kalimantan dan sebagian Sulawesi, adalah wilayah rawan gempa.


    Kapusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa bukan gempa yang dikhawatirkan membawa korban. Tapi bangunannya. Sebagian besar korban tewas maupun terluka karena tertimpa reruntuhan bangunan.


    Di Tasikmalaya dan Banten, pasca diguncang gempa 6,9 dan 6,1 SR pada Desember dan Januari lalu, rumah-rumah yang bertahan dari gempa justru rumah-rumah tradisional. ”Rumah-rumah penduduk yang menggunakan kayu dan bambu bisa meredam goncangan gempa,” kata Sutopo pada Jawa Pos kemarin (28/1/2018).


    Selain itu, kata Sutopo, rumah-rumah yang punya penguat dinding terutama di bagian siku juga terbukti mampu berdiri setelah gempa. ”Rumah panggung juga terlihat masih berdiri,” ujarnya.


    Pakar Struktur Beton dan Gempa Bumi dari Institut Tekonologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Tavio berbagi tips tentang prinsip-prinsip dasar membangun rumah yang tahan gempa. Menurut Tavio, bangunan yang rubuh rata-rata adalah milik warga biasa yang membangun rumahnya dengan bantuan tukang atau buruh bangunan. ”Kalau gedung-gedung besar sudah ada konsultan perencana, jadi tidak terlalu khawatir,” katanya.


    Rumah yang tahan terhadap gempa paling tidak karena tiga hal. Satu strukturnya memang kuat dan mampu menahan goncangan. Yang kedua, ia memiliki peredam goncangan (shock absorber) di fondasinya, yang ketiga rumah tersebut punya kontrol vibrasi yang bagus. Jika sebuah rumah tidak memiliki satu diantara ketiganya, bisa dipastikan rumah tersebut akan ambruk ketika gempa terjadi.


    Tavio menjelaskan, rumah yang memiliki kontrol vibrasi tidak terlalu populer. Biasanya rumah tersebut menggunakan bemper, atau pegas, atau bahkan sistem peredam hidrolik. Namun bisa dipastikan ini tidak efektif dan kurang praktis jika di terapkan di indonesia. ”Biaya pembuatannya juga relatif mahal,” katanya.


    Yang paling mungkin diterapkan di indonesia adalah penempatan peredam dasar (base isolation). Komponen ini terdiri dari dua plat baja yang dihubungkan dengan sebuah kolom yang berbentuk tabung. Terbuat dari karet solid (rubber) yang diperkuat fiber ataupun kawat. Seperti ban mobil. Peredam ini bentuknya mirip karet mooring yang dipasang di dinding dermaga tempat sandar kapal laut.


    Peredam ditempatkan di dasar setiap tiang penyangga. Posisinya terjepit diantara fondasi dasar dan lantai rumah.


    Tavio menjelaskan, saat terjadi gempa, peredam ini mengurangi guncangan secara signifikan. Meskipun fondasi yang dibawah dipermainkan bumi ke kanan dan kiri, rumah diatasnya secara elastis mengikuti getaran tersebut dengan bantuan karet peredam. ”Alat ini bisa meredam guncangan horinzontal maupun vertikal,” katanya.

    Saat ini, base isolation masih berupa purwarupa. ITS sendiri tengah mengembangkan agar komponen ini bisa diproduksi secara massal dengan harga murah dan terjangkau oleh masyarakat kecil. Karena selama ini sangat banyak sekali sosialisasi mengenai rumah tahan gempa. Tapi tidak berguna. ”Pertanyaannya, biayanya berapa? Kalau mahal orang-orang tidak bakal mau,” jelasnya.


    Menurut Alumnus Northcentral University, Singapura ini, jumlah karet di indonesia sangat melimpah. Base isolation seharusnya bisa diproduksi dengan mudah. Tinggal kualitasnya yang disesuaikan. Untuk rumah dengan satu lantai, cukup kualitas karet rata-rata. Namun untuk rumah bertingkat 2 atau lebih, kualitas karet harus lebih baik. Karena bebannya pun lebih berat.


    Selain punya alat peredam, konstruksi rumah juga harus memenuhi persyaratan minimum untuk tahan gempa. Yang kurang diperhatikan selama ini adalah kehadiran tulangan beton pada dinding rumah. ”Rumah sama dengan tubuh kita, kalo nggak punya tulang, ya lemah,” katanya.


    Ada beberapa persyaratan teknis. Pertama besi atau baja kerangka tulangan. Besi utama yang vertikal harus setebal minimal 10 mm, sementara besi rusuknya (ring kotak) minimal 8 mm. Jarak antar ring juga harus cukup rapat. Minimal 15 sentimeter. Antar tulang juga mesti tersambung dan saling menusuk minimal beberapa puluh sentimeter untuk memastikan kedua elemen saling berpegangan saat terjadi gempa.


    Yang tidak boleh dilupakan adalah kehadiran angkur. Yakni bagia besi yang melengkung dan menusuk ke dalam pondasi Sloof. ”Panjangnya minimal 40 sentimeter,” kata Tavio.


    Selain itu, untuk penguatan dinding, ada baiknya untuk menambahkan jejaring kawat saat menyusun batu-bata. Memang agak sedikit lebih mahal, tapi baik untuk melindungi penghuni rumah saat struktur rumah gagal. ”Selama ini banyak yang tertimpa tembok rumah yang berat,” katanya. Jejaring kawat bisa juga dipasang di sisi luar dinding.

    Terakhir, adalah atap. Menurut Tavio tren saat ini sudah bagus. Banyak pengembang perumahan yang menggalakkan penggunakan baja ringan seperti Galvalum atau Alumunium untuk membentuk kuda-kuda atap. Penggunaan bahan yang ringan sangat penting karena posisi atap berada di atas.


    Saat terjadi gempa, sangat penting mengurangi berat massa dari atap. Semakin berat massa, akan semakin banyak momentum yang dihasilkan karena guncangan. Karena pada dasarnya guncangan adalah soal kecepatan. ”Kalau bahan yang diguncang ringan, maka kecepatan akan berkurang,” katanya.


    Saat ini sudah banyak dikembangkan bahan penutup atap selain genteng yang lebih ringan. Bahkan ada beberapa yang sudah memproduksi atap seng dengan lapisan Glasswool, Rockwool, dan Acourete Fiber. Atap seng dikeluhkan karena berisik saat hujan, dan membuat rumah jadi sumuk saat terik matahari. ”Nah, glasswool bisa jadi pelapis untuk meredam suara dan panas,” pungkas Tavio.(tau)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top