• Berita Terkini

    Wednesday, January 3, 2018

    Desa di Wonosobo Digelontor Dana Rp 7 Miliar Lebih

    WONOSOBO- Dana Desa Di Kabupaten Wonosobo mengalami penurunan hingga Rp.7 milyar pada tahun 2018. Sebelumnya dana desa yang digelontor di kabupaten dingin ini mencapai Rp.191 milyar, sedangkan tahun ini menjadi Rp184 miliar. Penurunan tersebut di pengaruhi oleh alokasi dari APBN dimana jumlah desa di Indonesia mengalami kenaikan.

    “ Ada penurunan dana desa hingga Rp7 miliar tahun 2018, anggaran secara nasional  tetap tapi pembagi berubah karena jumlah desa bertambah,” ungkap Kabag Pemerintahan dan Desa Setda Tono Prihartono kemarin di kantornya.

    Namun meski anggaran mengalami penurunan, beberapa  desa di Kabupaten Wonosobo justru akan mengalami kenaikan secara signifikan, hal tersebut karena fomulasi dana desa dari Kementerian berubah.

    “ Fomulasi dana desa berubah, 77 persen merata, 20 persen proporsional, dan 3 persen afirmasi.  sebelumnya 90 persen merata dan 10 persen proporsional,” terangnya.

    Menurutunya, 3 persen afirmasi tesebut untuk desa-desa miskin  tertinggal dan terpencil yang kategori desil jumlah penduduk miskin ( JPM) diangka  8 hingga 10. Jika ada desa tertinggal dan miskin, akan tetapi desil JPM  dibawa 8 tidak dapat afirmasi 3 persen sehingga dipastikan mengalami penurunan.

    “ kalau untuk proprosional  sudah ada indikator, jadi itu juga akan menentukan jumlah dana desa yang diperoleh,” katanya.

    Beberapa desa yang menjadi kandidat desa yang mendapatkan afirmasi diantaranya Desa Pagerejo Kertek, Kwadungan Kalikajar dan juga Desa Lancar Wadaslintang.  Luas wilayah, jumlah penduduk dan jumlah warga miskin masih cukup banyak.

    Sedangkan untuk ADD dari pemerintah kabupaten tidak berubah sebesar Rp.88 milyar dan untuk bagi hasil pajak sebesar Rp.4 milyar. “ untuk bagi hasil pajak, tahun ini naik Rp.200 juta,” imbuhnya.

    Mantan Camat Sapuran tersebut juga menegaskan desa yang mendaptkan anggaran besar jangan senang kalau dana desanya mengalami keniakan, sebab hal itu menunjukkan bahwa jumlah masyarakat miskin masih cukup banyak dan otomatis perlu adanya program pengentasan kemsikinan lebih kuat.

    “ jangan senang, itu karena bilangan pembaginya jumlah penduduk miskin, maka desa yang bersangkutan harus lebih fokus pada pengentasan kemiskinan, pekerjaan menjadi lebih banyak,” tandasnya. (gus) 

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top