• Berita Terkini

    Tuesday, January 2, 2018

    Bocah 14 Tahun Korban Pengeroyokan di Pati Masih Trauma

    SRI PUTJIWATI/RADAR KUDUS
    PATI – Kasus tindak kekerasan secara bersama-sama hingga menyebabkan Muhammad Dwi Prasetyo, 14, terluka belum terungkap. Korban pun masih trauma. Kemarin siang korban hanya di rumah.

    Warga Desa Sukobubuk, Kecamatan Margorejo, Pati belum berani sekolah. Meskipun, kondisi badannya sudah sehat. Dia lebih memilih izin sekolah karena dahinya masih diperban.

    Siswa kelas IX SMPN 1 Gembong mengaku, malu karena ada perban di kepalanya. Remaja tersebut merupakan anak yang pemalu. Bahkan ketika ditanya, hanya menjawab sepatah dua kata. Badannya juga kurus.

    Anak yang akrab disapa Dwi itu tak bisa mengendarai sepeda motor. Apalagi bepergian jauh. Sekali bepergian jauh bersama tiga teman di desanya menikmati malam tahun baru di alun-alun. Tetapi, nasibnya apes.

    Dia menjadi sasaran belasan orang tak dikenal di Jembatan Bermi, Kecamatan Gembong. Rumahnya memang masuk Kecamatan Margorejo. Akan tetapi harus melewati Desa Bermi. Sehingga dalam perjalanan pulang dia harus melewati tempat yang sepi.

    Di jembatan itu berada di tengah sawah yang luas dan gelap. Sehingga rawan terjadi peristiwa kriminal.

    Dwi mengaku, bepergian ke alun-alun bersama tiga teman satu kampungnya. Ketika melewati Jembatan Bermi, tiba-tiba ada sekitar 15 orang berusia remaja hingga paruh baya menghentikan kendaraan korban dan temannya. Para pelaku itu membawa kayu. Awalnya, dua temannya yang di depan diloloskan.

    Sementara dia dan teman satunya, Saiful, 15, ditanyai berasal dari mana. Ketika korban menjawab warga Desa Sukobubuk, salah satu pelaku tiba-tiba memukul dahinya menggunakan kayu. Sedangkan temannya, Saiful dipukul menggunakan tangan. Setelah dipukul menggunakan kayu, kemudian dia lari dan bersembunyi.

    Kedua temannya yang diloloskan kemungkinan lapor kepada warga. Selanjutnya melaporkan peristiwa itu kepada petugas Polsek Gembong. Selang beberapa saat, petugas yang stand by pada malam tahun baru mendatangi lokasi. Di jembatan itu ada beberapa pelaku. Saat polisi datang, beberapa pelaku lari dan meninggalkan motornya.
    “Antara yang memukul dan yang menanyai saya orangnya berbeda. Saya yang dalam keadaan berdarah di bagian kepala keluar ketika ada polisi. Kemudian dibawa ke puskesmas untuk diobati,” katanya.

    Sementara itu, ayah korban Kasmin mengatakan, anaknya itu jarang keluar rumah. Saat keluar malam tahun baru itu pamitnya hanya nongkrong saja. Jika dia tahu anaknya itu pergi ke Pati, akan dilarang.

    Kamin berharap, pelakunya segera ditangkap. Sebab, para pelaku itu sengaja membawa kayu untuk memukul. “Menurut saya itu tindakan disengaja. Para pelaku membawa kayu dan saat menghentikan rombongan anak saya ada yang dilepaskan, ada yang dipukul. Jika tidak ditangkap, tidak ada efek jera dan tindakan seperti itu bisa saja terulang,” jelasnya.

    Sementara itu, kasus tindak kekerasan bersama-sama tersebut masih diselidiki petugas Polsek Gembong.  Polisi masih meminta keterangan dari para saksi-saksi dan melacak sepeda motor yang diamankan dari lokasi. Sepeda motor itu diduga milik para pelaku yang ditinggal saat polisi mendatangi lokasi. (put/ris)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top