• Berita Terkini

    Monday, January 1, 2018

    182 Rumah di Pemalang Rusak Diterjang Puting Beliung

    PEMALANG –  Bencana puting beliung menimpa warga Kabupaten Pemalang pada penghujung 2017, Minggu (31/12/2017). Sekitar pukul 16.30, angin puting beliung merusak 182 rumah di Desa Bojongnangka, Desa Tambakrejo, Kelurahan Bojongbata, dan Kebondalem, Kecamatan Pemalang. Selain rumah rusak, 21 warga juga mengalami luka-luka dan sudah dilarikan ke rumah sakit.



     Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang, hingga Senin siang (1/1) jumlah rumah yang rusak sebanyak 182 rumah. Rumah ambruk dan rata dengan tanah ada 4 rumah, masing di Desa Bojongnangka 3 rumah, Kelurahan Kebondalem 1 rumah. Sisanya mengalami rusak berat, sedang, dan ringan. Total kerugian diperkirakan mencapai Rp 2,26 miliar.  (lihat grafis)



     Dari informasi yang dihimpun, sekitar pukul 16.30, Minggu sore (31/12), di wilayah Pemalang cuaca sangat mendung dan gelap. Saat itu, tiba-tiba suara gemuruh dari angin kencang terus bergerak dari arah tenggara bergerak ke barat, tepatnya di perkampungan yang berada di perbatasan Desa Bojongnangka dan Kelurahan Kebondalem.



    Angin puting beliung tersebut langsung memperokporandakan sejumlah rumah yang ada di daerah tersebut. Dengan demikian, mengakibatkan sejumlah bangunan rumah dan  rice mill  ambruk. Sejumlah pepohonan pun banyak yang tumbang. Selain itu, kandang ternak dan tiang listrik juga roboh.



    TERPENTAL



    Saat terjadi angin puting belung, ada warga yang terpental terkena sambaran angin kencang. Selain itu, ada pula yang batal menggelar acara syukuran cucunya. Sebab, rumahnya ambruk dan anggota keluarganya mengalami luka-luka.



    Susroh, 47, warga Desa Bojongnangka, pemilik warung sembako merupakan salah satu korban yang rumah dan toko sembakonya mengalami rusak parah. Saat kejadian itu, dia bersama istri dan anaknya sedang berada di dalam toko dan rumahnya. Tiba-tiba mendengar gemuruh angin kencang di seputar rumahnya dan mencoba keluar rumah.  Saat itu, melihat besarnya angin lalu berteriak memanggil istri dan anaknya keluar toko untuk menyelamatkan diri. Sebab, angin kecang itu terus memutar dan menyambar semua rumah yang ada.



    Saat itu, ia teringat ada keponakannya yang masih kecil tinggal di rumahnya yang berada di seberang jalan. Dia pun teriak-teriak memanggil, sekaligus berusaha lari ke rumah tersebut karena rumahnya tersambar angin kencang itu.



    Namun, upaya menolongnya tidak semudah yang dibayangkan. Dia justru terpental terkena angin hingga terlempar ke dalam tokonya. Karena rumah dan tokonya ambruk, dia hanya berusaha menyelamatkan diri dengan masuk ke kolong meja. Sementara itu, istri dan anaknya yang berada di luar juga berusaha menyelamatkan diri dari sambaran angin kencang tersebut.



    » Alhamdulillah saya dan istri dan anak saya selamat.Meskipun rumah dan dua mobil saya rusak, tidak apa-apa yang peting jiwa selamat, termasuk ponakan dan adik juga selamat,»  katanya.



    Beda dengan cerita yang dialami Subiyanto, 48, warga Kelurahan Kebondalem yang berdekatan dengan Desa Bojongnangka. Anak dan istrinya mengalami luka-luka. Bahkan ada yang dilarikan ke rumah sakit karena ada yang luka berat. 



    Saat itu, Subiyanto akan menggelar acara syukuran cucunya di rumahnya. Di rumah tersebut banyak orang yang sedang mempersiapkan acara itu. Namun, acara belum dimulai, tiba-tiba terjadi musibah dan rumahnya ambruk terkena angin puting beliung. Akibatnya, seisi rumah  berlarian menyelamatkan diri. Meski berusaha keluarga rumah, tapi mereka terkena reruntuhan tembok dan genteng yang berjatuhan.



    Akibat kejadian itu, istrinya, Warningsih, 47,  dan dua anaknya Rizal dan Anam mengalami luka-luka. Termasuk dukun bayi Siti Aliyah, 60, yang sedang merawat cucunya itu ikut menjadi korban. Beruntung, cucunya selamat tidak mengalami luka-luka. Acara syukuruan pun batal. Nasi berkat pun sebagian terkena reruntuhan. Sementara, nasi berkat yang masih utuh dibagikan ke tetangga sekitar.  Meski demikian, Subiyanto tetap bersyukur, karena masih diberi keselamtan, walaupun rumah yang baru dibangun serta istrinya dan anaknya terluka terkena puing-puing bangunan rumahnya.



    Kepala Desa Bojongnangka Wahmu mengatakan, setelah kejadian itu pihaknya langsung melaporkan dan berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan intansi terkait. Sementara Camat Pemalang Suhirman bersama anggota Muspika juga terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memberikan pertolongan dan penanganan.



    Menurut Suhirman, penanganan dilakukan, utamanya menyelamatkan korban. Bersama BPBD, Tagana, PMI, dan pihak terkait lain pihanya melakukan evakuasi warga yang menjadi korban bencana. » Warga yang mengalami luka-luka segera kami larikan ke rumah sakit. Sebab, menyelamatkan jiwa manusianya lebih utama,»  katanya.



    Selain mengevakuasi korbam pihaknya juga menyiapkan dapur umum di rumah warga dan membuka posko bencana di Desa Bojongnangka. Keesokan harinya, warga dan pihak lainnya melakukan kerja bakti masal.  Kerja bakti dilakukan oleh aparat TNI, Polri, dan unsur pemerintahan , bersama warga, ormas dan komponen masyarakat lainnya termasuk para relawan.  (apt/fat)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top