• Berita Terkini

    Monday, December 11, 2017

    Satu Suspect, Jateng Waspada Difteri

    ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG
    SEMARANG–Satu pasien diduga mengidap difteri, langsung menggegerkan seluruh tenaga medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Adhyatma MPH atau RSUD Tugurejo sejak Sabtu malam (9/12) kemarin. Pasalnya, penyakit yang disebabkan bakteri corynebacterium diptheriae ini, benar-benar sangat mematikan dan mudah menular bagi siapa saja yang bersentuhan dengan bakteri tersebut.

    Difteri adalah infeksi menular yang gejalanya berupa sakit tenggorokan, demam, dan terbentuknya lapisan di amandel dan tenggorokan. Dalam kasus yang parah, infeksi bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung dan sistem saraf.

    Wakil Direktur Pelayanan RSUD Tugurejo, dr Yuswanti MH Sc mengatakan bahwa satu pasien yang diduga mengidap difteri tersebut berjenis kelamin laki-laki dengan umur 14 tahun. Merupakan pasien rujukan dari salah satu puskemas yang ada di Kabupaten Kendal. Saat dirujuk, pasien tersebut memiliki gejala klinis mirip dengan serangan difteri, yakni demam, menggigil, sakit tenggorokan, sulit bernafas dan lainnya.

    “Sejak masuk Sabtu malam (9/12/2017) kemarin, pasien langsung ditangani dan dilakukan pemeriksaan. Masih dugaan, namun kami anggap pasien ini suspect difteri,” katanya Senin siang (11/12/2017) kemarin.

    Ia menjelaskan, jika pihak rumah sakit langsung melakukan pemeriksaan dengan metode prebiologi atau mikro biologi. Kemudian pasien diberikan obat berupa anti difteri serum agar tidak menghasilkan toksin bagi dirinya sendiri ataupun orang lain.

    “Setelah pemeriksaan lanjutan, tidak ditemukan bakteri difteri. Sampai saat ini, pasien masih terus diawasi dengan standar operasional prosedur (SOP), sesuai arahan Menteri Kesehatan dan dilakukan isolasi,” bebernya.

    Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jateng, lanjut dia, juga telah melakukan penyelidikan kepada pasien tersebut. Apalagi difteri merupakan kasus penyakit yang mematikan dan berpotensi menjadi wabah. Selain pasien, pihak rumah sakit juga memberikan proteksi kepada petugas yang merawat pasien terduga difteri tersebut. “Nanti akan dirawat sekitar 2 minggu ke depan, namun saat ini keadaan pasien sudah cukup bagus dan terus dalam monitoring dokter,” katanya.

    Pihaknya mengimbau agar masyarakat lebih waspada terhadap gejala difteri. Pasalnya serangan virus tersebut mirip dengan radang tenggorokan. “Jadi tidak boleh disepelekan, harus langsung dilakukan penanganan medis,” tutupnya.

    Sedangkan Direktur RSUD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang, Susi Herawati, mengungkapkan bahwa sejauh ini RSUD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang belum melayani pasien difteri. "Tapi kami siap, apabila ada masyarakat yang terindikasi difteri," ujarnya.

    Kendati begitu, Susi mengimbau agar masyarakat tidak panik dan bisa mendeteksi secara dini mengenai ciri-ciri terserang difteri, yakni suhu badan panas, batuk dan nyeri telan. Meski begitu, difteri memang mudah menular melalui batuk atau bersin. Ini karena bakteri yang bersarang di tenggorokan dan hidung itu, membentuk selaput putih dan tebal hingga bisa menutupi saluran pernapasan. "Kebanyakan menyerang anak-anak yang daya tahan tubuhnya rendah. Namun bakteri ini bisa dicegah dengan imunisasi," katanya.

    Jika ada anak yang belum diimunisasi, kata dia, biasanya mudah terkena difteri. "Kami memang sedang siaga terkait penyakit ini. Tapi tidak usah khawatir, namun kalau ada anak demam, batuk, nyeri telan, tolong segera diperiksakan ke dokter," katanya.

    Penanganannya nanti akan dilihat dan diperiksa oleh dokter. Hasil pemeriksaan apabila ditemukan selaput berwarna abu-abu di sekitar tenggorokan atau amandel, apabila disentuh berdarah, maka dokter mencurigai difteri. "Tentunya kami akan isolasikan supaya bakteri tersebut tidak menyebar. Selanjutnya akan diberikan terapi yang tepat," terang Susi.

    Pihaknya saat ini telah siaga dengan bertukar informasi dengan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI). "Tentunya ada warning dan persiapan di Jawa Tengah. Karena penyebaran bakteri ini sangat cepat, upaya penanganan telah disiapkan. Mulai dari penyediaan ruang isolasi, obat-obat, dan lainnya," katanya.

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono menambahkan bahwa di Kota Semarang pernah ada satu pasien terserang difteri pada Januari 2017 lalu. “Pasien itu dari Semarang Timur dan sudah tertangani dengan bagus. Sampai sekarang kami terus pantau. Alhamdulillah, Kota Semarang tidak termasuk daerah Kejadian Luar Biasa (KLB)," katanya.

    Dijelaskannya, penyebaran bakteri ini melalui percikan ludah, saat terjadi perbincangan. Ia mengakui sangat berbahaya. "Angka kematiannya 10 persen. Tapi jarang atau kasusnya sedikit. Penanganan sejauh ini bagus. Yang sakit sudah berobat. Sedangkan yang belum sakit dilakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE). Saya pastikan di Kota Semarang saat ini tidak ada yang terkena difteri," katanya.

    Sementara itu, menanggapi adanya pasien suspect difteri diRS Tugurejo, Kepala (Dinkes) Pemprov Jateng, Yulianto Prabowo justru menjelaskan bahwa sebenarnya pernah ada dua pasien yang terjangkit difteri karena tidak mendapatkan vaksin imunisasi ketika balita di sepanjang 2017 di Jateng ini. Satu warga Kota Semarang berusia 21 tahun, dan satu lagi warga Karanganyar, 12 tahun.

    “Yang dari Karanganyar, menolak imunisasi. Sementara yang dari Kota Semarang, status imunisasi DPTnya tidak lengkap. Tapi semua sudah ditangani. Sudah sembuh," ujarnya, Senin (11/12) kemarin.

    Dari kasus itu, Yulianto mengimbau kepada seluruh orang tua di Jateng untuk tidak menolak program imunisasi. Terutama imunisasi DPT yang harus dilakukan secara rutin saat anak masih berusia balita. Sebab, ketika sudah melewati balita, vaksin imunisasi sudah tidak efektif.

    "Kalau yang waktu balita belum mendapatkan imunsisasi, pas sudah besar sulit. Kami harus melihat kondisi anak dulu sebelum diberikan imunisasi. Saat ini, di Jateng yang imunisasi baru sekitar 95 persen. Masih ada yang menolak program imunisasi," terangnya.

    Mengenai ketersediaan obat difteri, pihaknya menjamin aman di seluruh rumah sakit umum daerah (RSUD) di seluruh Jateng. Terlebih, Dinkes Jateng juga sudah punya Antidifteri Serum (ADS). "Semoga ke depan tidak ada lagi warga Jateng yang terkena difteri," harapnya.

    Jika ada keluarga atau teman yang mengalami gejala difteri, untuk segera periksa ke dokter. Gejala itu antara lain sesak nafas, demam, radang tenggorokan, terasa sakit saat menelan, hingga amandel tertutup membran abu-abu. "Kalau sudah begitu, segera periksa ke dokter. Tapi yang jelas, gejala itu tidak berarti terkena difteri. Bisa jadi penyakit lain," tegasnya.



    Sementara itu, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo meminta semua pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit difteri. Terlebih difteri sedang merebak di berbagai provinsi di Indonesia, bahkan telah merenggut belasan nyawa manusia.

    “Sekarang kami minta semua untukchecking. Karena sebenarnya satu kena, maka sudah KLB (Kejadian Luar Biasa). Jateng baru kali ini ada kasus. Makanya sekarang harus kita serbu, dicari, dan gerakkan semua kekuatan yang ada,” ujarnya.

    Dia berharap, bukan hanya Dinkes saja yang turun. Berbagai kelompok masyarakat, anggota PKK, serta Posyandu diminta mengecek kondisi setiap warga masing-masing. Semua harus bisa mencegah penyakit yang disebabkan bakteri corynebacterium diptheriae yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta dapat memengaruhi kulit.

    “Sementara ini masih kami cek terus. Begitu ada informasi, kami buka sehingga mereka bisa melaporkan semuanya. Supaya kita tahu ada endemi di tempat-tempat tertentu,” katanya.

    Orang nomor satu di Jateng ini menegaskan, seluruh kabupaten/kota di Jateng harus meningkatkan kewaspadaan. Jika ada satu terindentifikasi positif atau diduga difteri, maka semua daerah harus waspada. Sebab, penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa, terutama anak-anak. (den/amu/amh/ida)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top