• Berita Terkini

    Senin, 25 Desember 2017

    Gereja di Purworejo ini Tertua di Pulau Jawa

    FOTOEKOSUTOPO/PURWOREJOEKSPRES
    PURWOREJO- Keberadaan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Karangjoso di Desa Langenrejo Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo masih eksis. Keunikan serta nilai sejarah yang melekat pada GKJ Karangjoso tetap bertahan di tengah modernisasi zaman.

    GKJ Karangjoso dibangun pada tahun 1871 oleh Kyai Sadrach. Gereja tersebut diyakini menjadi cikal bakal GKJ di Pulau Jawa dan menjadi yang tertua di Pulau Jawa.

    Melihat arsitekturnya, orang awam mungkin tak akan mengira bahwa bangunan itu adalah sebuah gereja. Ornamen dan bentuk bangunannya serupa rumah joglo, bangunan khas masyarakat Jawa, sehingga terkesan sangat tidak lazim untuk sebuah gereja.

    Lebih dekat, lambang gereja yang biasanya disimbolkan dengan salib, di GKJ Karangjoso salib diganti dengan persilangan senjata pusaka milik tokoh pewayangan Krisna dan Arjuna, yakni panah Pasopati dan senjata Cakra.

    Di dalam bangunan gereja, kesan budaya Jawa makin kental dengan tiang-tiang bangunan Joglo ciri bangunan khas masyarakat Jawa. Tak hanya soal bangunan, berbagai kitab dan senandung lagu gereja juga diubah menggunakan bahasa Jawa untuk memperkenalkan agama Kristen kepada masyarakat yang kala itu memiliki kepercayaan Hindu Islam dan Kejawen.

    “Gereja ini dibangun oleh Kyai Sadrach Soeropranoto, seorang penyebar agama Kristen di pulau Jawa,” kata Sugeng Sugiyarto, salah satu pengurus GKJ Karangjoso, Sabtu (23/12).

    Sebelum mendirikan gereja tersebut, Kyai sadrach berkelana ke seantero tanah Jawa. Memasuki desa-desa membawa ajaran Kristen yang dipadukan dengan kebudayaan Jawa. Kyai Sadrach juga menemui para guru-guru padepokan dan mengajak mereka beradu ilmu keagamaan dan ilmu kanuragan.

    “Dari situlah ajaran yang dibawa Kyai Sadrach terus bertambah," sebutnya.

    Saat pengikutnya makin bertambah, lanjut Sugeng, muncullah ide untuk membuat gereja di pusat penyebaran agamanya. Maka Kyai Sadrach membangun GKJ di Desa Karangjoso yang bentuk bangunannya menyesuaikan dengan masyarakat sekitar.

    Menurut Sugeng, sepintas gelar yang disandang Sadrach sedikit membingungkan. Gelar Kyai berasal dari pemahaman masyarakat Jawa zaman dahulu.

    “Sebab bagi masyarakat Jawa, seorang Kyai adalah orang yang memiliki kedudukan, yang dia katakan akan didengar dan dipatuhi oleh pengikutnya," ungkap Sugeng.

    Meski Gereja Karangjoso tidak terletak di pusat kota, keberadaannya sangat ternama. Sejumlah jemaat dari luar kota dan daerah pun berdatangan untuk melihat lebih dekat keunikan serta historis yang ada di dalamnya. Bahkan, GKJ tersebut juga menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan religi yang layak dikunjungi.(top)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top