• Berita Terkini

    Tuesday, December 12, 2017

    Di Tengah Melejitnya Belanja Online, Produk Lokal Tergerus Impor

    Di tengah melejitnya tren belanja online, cukup disayangkan bahwa produk yang beredar di e-commerce masih didominasi produk impor. Pengamat menilai pemerintah perlu lebih memperhatikan penguatan produk lokal supaya e-commerce dapat meningkatkan daya saing produk dalam negeri.



    Chief Marketing Officer Lazada Indonesia Achmad Alkatiri mengakui bahwa saat ini lebih dari 50 persen barang yang dijual seller adalah produk impor. Menurut Achmad setidaknya ada dua alasan mengapa seller lebih memilih impor untuk barang jualannya. Pertama karena belum semua barang bisa di-fullfil oleh produsen dalam negeri. "Kita bicara salah satu yang paling banyak dicari misal aksesoris gadget, seperti powerbank. Itu kan di sini belum ada yang bisa buat," ujarnya.



    Alasan kedua adalah soal harga. Barang impor cenderung lebih murah sehingga para seller lebih memilih mendatangkan produk dari luar negeri. "Apalagi konsumen di sini (e-commerce, red) sangat sensitif soal harga. Jadi ya memang lebib disukai barang yang harganya murah," tambah Achmad.

    Sebagai contoh, di Lazada terdapat channel Taobao. Ini adalah kumpulan UMKM asal Tiongkok yang difasilitasi oleh Jack Ma, bos Alibaba, agar bisa berekspansi ke pasar luar negeri. Saat dicek tadi malam, ketika mengetik kata kunci Taobao, maka muncul 3,7 juta item produk seperti tas, sepatu, pakaian, dan lain-lain yang bisa dibeli dengan harga puluhan hingga ratusan ribu rupiah.



    Pengamat BUMN Said Didu menyatakan bahwa jika e-commerce terus-terusan dibanjiri dengan produk asing, maka kondisi tersebut akan mengancam perekonomian Indonesia sendiri. "Beda dengan luar negeri yang ketika e-commerce masuk, negara mereka sudah siap dengan produk lokal dan segala sistem logistik distribusinya. Salah jika menganggap e-commerce adalah satu-satunya solusi ekonomi, jika di sisi lain bisa mematikan industri kita sendiri," ujarnya saat dihubungi kemarin (12/12).



    Menurut Said pengembangan digital harus dibarengi pemerintah dengan penguatan produk lokal. Sebab, kemajuan e-commerce justru harus memacu industri lokal untuk semakin berkualitas dan efisien. "Saya setuju digitalisas tidak dapat dihindari. Tapi membuat produk lokal tidak boleh dilupakan. Sekarang saja sudah banyak anak muda yang masuk di e-commerce. Jangan sampai generasi produktif tersebut nantinya hanya menjadi konsumen tanpa ada dorongan untuk meng-create sesuatu," tambahnya.



    Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia Ikhsan Ingratubun menyatakan bahwa keberpihakan pemerintah dalam mempromosikan produk dalam Negeri masih sangat kurang. "Apakah kuantitas produk kita belum fulfil atau harga barang import lebih murah? sebenarnya jawabannya tidak. Hanya karena kualitas produk dalam negeri belum memadai dan pengetahuan tentang kemasan produk masih perlu ditingkatkan," urai Ikhsan.



    Menurut Ikhsan, dampak jika produk impor merajalela maka produk UMKM di Indonesia tidak bisa menjadi tuan di negerinya sendiri. "Pemerintah harus bertindak dengan cepat untuk memberikan akses pemasaran. Salah satunya dengan cara mempromosikan secara serius produk indonesia. Juga memberikan akses permodalan serta memberikan pengetahuan kemasan yang bertaraf internasional," pungkasnya. (agf)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top