• Berita Terkini

    Wednesday, December 6, 2017

    Belum Saatnya Status Gunung Agung Turun

    JAKARTA – Letusan efusif terus berlangsung di Gunung Agung. Sampai kemarin (6/12) gerakan magma menuju permukaan kawah masih terdeteksi oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Karena itu, meski secara visual tampak lebih tenang dari akhir bulan lalu, mereka belum menurunkan status gunung dengan ketinggan 3.142 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut.



    Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG I Gede Suantika menekankan, pengataman visual bukan satu-satunya parameter untuk menetukan status Gunung Agung. ”Jadi, Gunung Agung statusnya masih awas dengan rekomendasi daerah bahaya radius 8 kilometer ditambah perluasan sektoral 10 kilometer,” ungkap pria yang akrab dipanggil Suantika itu.



    Berdasar pengamatan visual yang dilakukan petugas empat hari belakangan, kata Suantika, semburan asap dari puncak kawah Gunung Agung tidak setebal biasanya. Meski ketinggiannya berada pada angka 1.000 meter sampai 2.000 meter, kandungan abu vulkanis tidak sebanyak sebelumnya. ”Sekarang asap vulkanis dominan di isi uap air,” terang dia.



    Namun demikian bukan berarti sama sekali tidak ada kandungan abu dalam asap tersebut. Menurut Suantika, besar kemungkinan hujan abu vulkanis hanya terjadi di sekitar puncak kawah Gunung Agung. ”Ada sedikit-sedikit, tipis abunya,” ucap dia. Karena itu, hujan abu tidak sampai ke pemukiman warga yang berada di luar zona bahaya.



    Lahar hujan atau biasa disebut lahar dingin yang terus terjadi beberapa hari belakangan menjadi buktinya. Suantika mengungkapkan bahwa lahar dingin terjadi lantaran masih ada material vulkanis di sekitar puncak kawah Gunung Agung. Alhasil setiap kali hujan turun, material vulkanis itu terbawa sampai masuk ke hulu sungai. ”Abu yang dikeluarkan belum turun semua, belum bersih,” kata dia.



    Pejabat berdarah Bali itu pun menambahkan, lahar dingin masih akan terjadi sampai beberapa hari ke depan apabila hujan terus mengguyur. Dia juga menuturkan bahwa aliran lahar dingin di Sungai Yeh Sah dua hari lalu (5/12) belum tentu yang paling deras. Sebab, hujan yang terjadi sebelum lahar dingin mengaliri sungai tersebut tidak terlalu lama. ”Kalau hujannya agak lama mungkin lebih besar lagi,” kata dia.



    Untuk itu, masyarakat diminta terus mewaspadai aliran lahar dingin. Selain intensitas hujan yang cenderung terus meningkat, pergerakan magma dibarengi semburan asap perlu jadi perhatian. PVMBG yang concern memantau perkembangan Gunung Agung dari hari ke hari meminta masyarakat mematuhi rekomendasi yang mereka buat. ”Sampai hari ini (kemarin) erupsi masih berlangsung,” ucap Suantika.



    Dia menjelaskan, letusan efusif ditandai pengisian lava di kawah Gunung Agung belum berhenti. ”Erupsinya masih berlangsung,” tegasnya. Selain itu, gempa vulkanik yang mengindikasikan pergerakan magma dan gas vulkanis di dalam tubuh Gunung Agung juga terus terjadi. Bahkan, sampai kemarin alat catat kegempaan di Pos Pengamatan Gunung Api Agung masih mendeteksi gempa tremor over scale.



    Dari data yang dikumpulkan oleh petugas di pos tersebut sejak pukul 12.00 WITA sampai pukul 18.00 WITA, terjadi tremor over scale sekitar pukul 14.46 WITA sampai pukul 15.06 WITA. Gempa tersebut disusul tremor dengan amplitudo 3 hingga 24 mm yang terjadi dua jam lebih. Mulai pukul 14.40 WITA hingga pukul 17.00 WITA.



    Kasubbid Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana menjelaskan bahwa aktivitas Gunung Agung saat ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan kondisi normal lima bulan lalu. ”Saat itu belum tentu ada gempa setiap sebulan sekali,” ucap dia. Sedangkan saat ini, gempa terjadi setiap hari. Bahkan dibarengi dengan keluarnya material vulkanis.



    Kondisi itu menujukan bahwa Gunung Agung tidak dalam kondisi normal. Jika berada dalam kondisi normal, maka aktivitasnya juga harus normal. ”Saat ini berarti ada apa-apa dengan Gunung Agung,” imbuhnya. Untuk itu, instansinya terus memantau gunung tersebut. Dengan alasan itu pula mereka belum menurunkan status gunung tertinggi di Bali itu.



    PVMBG pun memastikan, rekomendasi yang mereka keluarkan tidak lain demi keselamatan masyarakat. Radius 8 kilometer dengan perluasan sektoral 10 kilometer benar-benar harus kosong. Karena berdasar perhitungan mereka, daerah dalam zona itu paling potensial terdampak apabila terjadi letusan yang lebih besar dari sebelumnya.



    Seiring aktivitas Gunung Agung, jumlah pengungsi terus bertambah. Data terakhir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali kemarin mencatat angka pengungsi sudah 66.716 jiwa. Mereka tersebar di 225 lokasi pengungsian yang berada di sembilan kabupatan dan kota di Pulau Dewata. ”Jumlah pengungsi saat ini sudah mendekati angka prediksi kami,” kata Kepala BPBD Bali Dewa Made Indra.



    Menurut pria yang akrab dipanggil Indra itu, angka prediksi jumlah total pengungsi dengan rekomendasi PVMBG saat ini berada pada kisaran 70 ribu jiwa. Dia memastikan, Pemprov Bali sudah siap memberikan pelayanan terbaik apabila pengungsi sudah menembus angka tersebut. ”Stok logistik tidak masalah. Sampai kapanpun akan selalu disiapkan,” imbuhnya. (syn/)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top