• Berita Terkini

    Tuesday, November 28, 2017

    Tiga Warga Wonogiri Tertimbun Longsor

    KADES GUNTURHARJO FOR RADAR SOLO
    WONOGIRI – Longsor dan banjir menerjang wilayah Wonogiri dan Sukoharjo menyusul turunnya hujan sejak Senin sore (27/11) hingga Selasa (28/11). Sampai tadi malam, tiga warga yang tertimbun material longsor belum diketahui nasibnya.

    Longsor terjadi di Dusun Nglencung, Desa Sidorejo dan Dusun Bengle, Desa Dlepih Kecamatan Tirtomoyo.

    Kepala Desa Sidorejo, Kecamatan Tirtomoyo Joko Nalongso mengatakan, satu warganya bernama Sudarno diperkirakan tertimbun longsor yang menimpa rumahnya.
    “Tadi (kemarin, Red) pukul 18.00 rumahnya (terkena, Red) longsor. Saat ini masih dalam pencarian," kata Joko.

    Sedangkan di Dusun Bengle, Desa Dlepih, dua warganya diperkirakan ikut tertimbun material longsor yang terjadi sekitar pukul 17.00. Mereka adalah Suyati 60 dan Sriwanti 40.

    “Ini masih dicari,” ujar Kepala Dusun Bengle Sono Subroto.  Di dusun tersebut ada empat rumah warga tertimpa longsor pada Selasa sore.

    Proses pencarian mengalami kendala karena kondisi gelap. Warga masih takut mendekati lokasi kejadian karena kondisi tanah masih labil. “Tadi pas terjadi longsor, dua orang ini berlari ke teras rumah. Sedangkan anggota keluarga lain berlari menjauh,” bebernya.

    Sedangkan banjir melanda daerah langganan kekeringan, yakni Kecamatan Paranggupito dan Pracimantoro. Dampaknya, lebih dari 20 warga Dusun Sumberalit, Desa Sedayu, Kecamatan Pracimantoro yang tinggal di dekat Kali Wowo mengungsi ke rumah yang lebih tinggi.

    “Kali Dowo meluap. Ditambah air dari Pracimantoro kota bermuara di desa kami. Beberapa rumah dan kandang ternak terendam. Orang jompo dan perempuan dievakuasi lebih dahulu,” ujar Faris Wibisono, warga setempat.

    Camat Pracimantoro Warsito menuturkan, ketinggian air sekitar 1,5 meter memutus ruas jalan Pracimantoro-Gunung Kidul. Tiga desa yakni Joho, Pracimantoro, dan Sambiroto ikut kebanjiran.

    “Depan kantor KUA Pracimantoro tidak bisa dilewati kendaraan. Ketinggian air sekitar dua meter. Menggenangi Masjid Nurul Iman dan SD MPK,” terangnya.
    Tak hanya itu, sekitar Museum Karst juga terendam. Termasuk warung makan dan gazebo. “Sampai saat ini masih tergenang," kata Warsito dihubungi sore kemarin.
    Kondisi serupa terjadi di wilayah Wonogiri paling selatan. Jalur yang menghubungan Pantai Nampu dengan wilayah Jawa Timur tertutup air dengan ketinggian sekitar 60 sentimeter. Delapan rumah pun tergenang.

    Kepala Dusun Guntur, Desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito Widhi Hartono mengatakan, jika hujan tak kunjung berhenti, ketinggian air dipastikan terus bertambah. Widhi khawatir banjir pada 2001 dengan ketinggian 3 meter terulang. “Kami baru mengevakuasi warga,” ungkapnya.

    Menurut Widhi, banjir disebabkan drainase sepanjang 750 meter di desa setempat tidak mampu menampung volume air hujan. “Debit air yang masuk (ke drainase, Red) jauh lebih besar. Luweng juga sudah di lebarkan oleh BPBD. Sepertinya saluran pembuangan tersumbat,” tandasnya.

    Kondisi tersebut diperparah posisi Dusun Guntur yang berada di cekungan. Sehingga air dari wilayah lebih tinggi, terkumpul di lokasi tersebut. Menurut Widhi Dusun guntur berbentuk cekungan air datang dari ketinggian dan menuju satu titik.

    Sementara di Kabupaten Sukoharjo, banjir dan longsor terjadi di Kecamatan Bulu, Nguter, serta Weru. Camat Weru Samino mengatakan, banjir merendam sekitar 100 rumah di Desa Karangwuni.

    Tanggul sungai Siluwur yang hulunya ada di atas (daerah Semin) dan melintasi Weru, tidak mampu menampung debit air dan meluap. Selain rumah, SMPN 2 Weru, juga kebanjiran.

    Sedangkan longsor terjadi di Kecamatan Bulu. Ada lima titik longsor yang tersebar di Desa Sanggang. Rumah terdampak yakni milik Suyat, 50, warga Dukuh Dranjang RT 01 RW 06; Yadi, 48, warga Dukuh Tileng RT 2 RW 3; Karti, 55, dan Yarno, 49, keduanya warga Dukuh Kaligunting RT 02 RW 2.

    ”Material longsor juga menutup jalan kampung Samin-Tileng. Tetapi longsoran di sini tidak membahayakan warga karena jauh dari pemukiman,” ujar Kapolsek Bulu AKP Sarwoko. Titik longsor lainnya terlihat di Desa Kedungsono, Kecamatan Bulu dan Kecamatan Nguter, tepatnya Desa Tanjungrejo. Talut desa setempat kembali ambrol.

    Terpisah, berdasarkan informasi dari Badan Metereologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Jawa Tengah, hujan yang nyaris terjadi selama 24 jam disebabkan siklon Cempaka. Yakni sebuah wilayah atmosfer bertekanan rendah bercirikan pusaran angin yang berputar berlawanan arah jarum jam di bumi belahan utara, dan searah jarum jam di bumi belahan selatan.

    Wilayah yang cukup parah terdampak adalah Wonogiri dan Jogjakarta bagian timur. Sebab, jarak siklon dari bibir pantai sangat dekat. Yakni hanya 100 kilometer. “BMKG sudah menetapkan adanya siklon ini tadi malam. Dampaknya dirasakan di seluruh wilayah Pulau Jawa,” jelas Kasi Data BMKG Jateng Iis Widya Harmoko.
    Ciri-ciri siklon Cempaka yakni hujan lebat dan angin. Cuaca ekstrem tersebut diperkirakan terjadi wilayah Pulau Jawa hingga 1 Desember. Siklon Cempaka bakal mereda secara bertahap. (kwl/yan/vit/wa)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top