• Berita Terkini

    Wednesday, November 22, 2017

    Penurunan Kemiskinan Jawa Tengah Belum Signifikan

    SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menilai Bank Jateng harus punya kontribusi menurunkan angka kemiskinan dan membantu pelaku ekonomi menengah. Hal itu dikatakan menyikapi  seminar internasional bertajuk The 1st Indonesia International Microfinance  Forum 2017  (IIMF) di Gedung Akmil Magelang. IIMF 2017 bertujuan agar semua bisa memahami bahwa kemiskinan di Jawa Tengah bisa turun.

    “Anggaran yang digunakan untuk mengentaskan kemiskinan sudah cukup besar, tapi memang belum siginifikan" kata Ganjar.

    Ganjar menambahkan, selain itu perlu adanya pemberdayaan bagi orang miskin. Tentu saja harus ada pendampingan yang baik. Jadi mereka bisa menjalani kehidupan ekonomi yang berdikari.  Untuk pemberdayaan masyarakat miskin, Bank Jateng intinya sebagai pembina. Yaitu melalui  sinergi dengan BPR/BKK dalam memberikan modal bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

    Bicara soal kemiskinan di Jateng, diklasifikasikan dalam dua macam. Pertama miskin yang sudah tidak bisa apa-apa lagi seperti orang lanjut usia. Kemudian orang miskin yang masih mampu diajak berusaha. Termasuk UMKM juga didorong agar bisa naik kelas.

    "Melalui ini bisa diketahui mana UMKM yang minim dan hanya eksis saja, ya kita dorong. Termasuk masyarakat miskin yang masih bisa bekerja, kita bantu pasarkan produknya misalnya melalui Sadewa Market. Ini pun masih kita bina," ujarnya.

    Direktur Bank Jateng, Supriyatno, menyebut gagasan utama IIMF adalah  keprihatinan terhadap keberadaan kredit, seperti kredit bimas, KMKP, dan lain-lain. Karena pendekatannya adalah kebijakan yaitu subsidi pemerintah. Maka Jateng harus mulai tanpa subsidi pemerintah. Pada akhirnya sukses dan nasabahnya semakin banyak. “Selain itu sedang disiapkan kredit bagi pedagang pasar maksimal Rp 1 juta dan bunganya tiga persen. Untuk hal ini BPR/BKK yang mendampingi," kata Supriyatno.

    Ketua Perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jateng-DIY, Bambang Kiswono, menyambut baik hasil-hasil yang telah dicapai IIMF 2017. Karena fokusnya ke ekonomi mikro. Dia kemudian memaparkan, bahwa pihaknya juga membina Lembaga Keuangan Masyarakat (LKM) Syariah. Untuk Jawa Tengah, LKM Syariah sudah ada di Purwokerto dan Solo.
    "Tugasnya memberi pembiayaan sebesar maksimal Rp 3 juta, dan bunganya tiga persen. Nanti usai pembiayaan, akan ada pembinaan," tandasnya. (fth/zal)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top