• Berita Terkini

    Friday, October 20, 2017

    Garap Johar Baru, Pemkot Semarang Alokasikan Rp 720 Miliar

    ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG
    SEMARANG–Dua bidang pembangunan Pasar Johar Baru, dilakukan berbarengan pada tahap pertama di akhir tahun 2017 ini. Yakni pembangunan Pasar Johar Cagar Budaya bekas terbakar dan pembanguan gedung di lahan eks Kanjengan. Pembangunan tahap pertama ini dikebut dan ditargetkan selesai Desember 2017 dan diperkirakan akan diperpanjang 60 hari.

    Selanjutnya, dalam waktu dekat segera menindaklanjuti relokasi ribuan pedagang Pasar Yaik Baru yang merupakan program relokasi tahap II di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Setelah Yaik Baru dibongkar, akan dilakukan pembangunan Alun-Alun. Total anggaran total pembangunan Pasar Johar Baru ini, diperkirakan sebesar Rp 720 miliar multiyears. Targetnya, selesai awal tahun 2020 mendatang.

    Pembangunan Pasar Johar Baru ini nantinya, tidak hanya mengangkat sektor ekonomi saja. Tetapi juga mengembalikan pamor Pasar Johar Baru sebagai pasar tradisional terbesar di Asia Tenggara. Dengan demikian, targetnya menggenjot sektor tourism atau pariwisata. “Hari ini mulai dibangun dengan biaya Rp 93 miliar, bantuan dari Kementerian Perdagangan,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat ground breaking atau peletakan batu pertama untuk pembangunan Pasar Johar Baru di lahan seluas 50 x 50 meter persegi di eks Pasar Kanjengan, Jumat (20/10) kemarin.

    Kata Hendi sapaan akrab Hendrar Prihadi, pembagunan kelar pada Desember 2017. Kalau belum selesai, harapannya bisa diperpanjang hingga Januari-Februari 2018. Sehingga tahap 1 selesai hingga lantai 2. Selebihnya diteruskan dengan anggaran 2018.

    “Kami punya APBD Rp 50 miliar untuk membuat alun-alun dan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) senilai Rp 240 miliar untuk melanjutkan pembangunan Pasar Johar Cagar Budaya. Tahun ini, sudah dapat Rp 50 miliar dari APBD Kota Semarang untuk penguatan konstruksi. Jadi tahun depan, bantuan dari Kementerian PUPR tinggal melanjutkan seperti bentuk semula,” terangnya.

    Dikatakan Hendi, skema anggaran dalam pembangunan ini keroyokan, dari APBD Kota Semarang dan pemerintah pusat. “Kami belum meminta kepada provinsi, saya yakin Pak Ganjar pada 2019 nanti akan melengkapi dengan anggaran provinsi untuk membangun Pasar Johar Baru ini. Tahapannya, hari ini ada dua bidang, pertama di lahan eks Kanjengan dan bangunan cagar budaya yang terbakar beberapa waktu lalu. Selanjutnya, penyelesaian bangunan cagar budaya dengan dana Kementerian PUPR, kemudian APBD Kota Semarang untuk membangun alun-alun tahap pertama. Itu rencananya akan diselesaikan 2019,” katanya.

    Dia berharap, pembangunan Pasar Johar Baru akan membawa perubahan baru.  Lingkungan berubah, alun-alun tambah bagus, di bawah alun-alun ada bidang yang bisa dipakai. Kemudian Pasar Kanjengan yang dulunya jelek akan dibangun lebih bagus lagi. “Saya sudah sampaikan kepada kontraktor, tadi ada Kajari, Kapolrestabes, biar kontraktor koordinasi dengan mereka. Bagaimana membangun secara berkualitas dan tidak menyalahi hukum. Karena waktunya sangat mepet. Ini salah satu fungsi koordinasi. Sesuai dengan Detail Engineering Design (DED),” katanya.

    Menurutnya, jumlah anggaran pembangunan Pasar Johar ini cukup besar. Bahkan, anggaran Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang tidak sampai segitu untuk memperbaiki jalan se-Kota Semarang. “Tapi ya bismillah, karena Pasar Johar menjadi salah satu ikon di Kota Semarang dan mewujudkan sebagai pasar tradisional terbesar di Asia Tenggara,” terang dia.

    Lebih lanjut, Johar menjadi pasar legendaris. Berbagai macam dagangan ada di Pasar Johar. Seringkali orang datang ke Pasar Johar, karena nostalgia masa kecilnya. “Mereka datang dari luar kota. Ada juga datang karena sejarah menyebut Pasar Johar adalah pasar tradisional terbesar di Asia Tenggara. Jadi, Pasar Johar tidak hanya memiliki nilai ekonomis, tetapi juga memiliki sektor tourism atau pariwisata,” ungkapnya.

    Direktur Utama PT Sinar Cerah Sempurna (SCS), Suharto, selaku kontraktor yang menangani pembangunan eks Pasar Kanjengan mengatakan bahwa nantinya ada sebanyak 50 kios dan 105 lapak di lantai 1. Sedangkan di lantai 2 ada sebanyak 24 kios dan 100 lapak.

    “Diharapkan tahun ini selesai hingga lantai dua. Yang lain saya harapkan ada kelanjutannya dari proyek ini. Kami akan bekerja dengan penambahan waktu secara shift. Misalnya jam kerja hanya sampai pukul 17.00, nanti hingga pukul 22.00. Tidak selesai ya nanti ada penambahan shift lagi. Nanti kami lihat kondisi di lapangan. Perkiraan, nanti dibutuhkan sekirar 300 tenaga kerja saat pembuatan lapak dan strukturnya,” katanya. 

    Sesuai kontrak tahap satu, lanjut dia, tahap pertama ini adalah pengerjaan bore pile dan struktur bangunan hingga lantai empat. Setelah itu, adalah pembuatan kios dan lapak di lantai 1 dan 2. “Sesuai jadwal punya waktu 60 hari, kami mengikuti regulasi atau aturan yang berlaku. Apapun konsekuensinya kontraktor siap melaksanakan sesuai aturan yang berlaku,” katanya. 

    Sementara Kepala Dinas Perdangan Kota Semarang Fajar Purwoto mengatakan bahwa penataan pasar menjadi ranah tanggung jawab Dinas Perdagangan Kota Semarang. “Alhamdulillah mulai pembongkaran berjalan lancar, relokasi pedagang sebanyak 1.030 pedagang bisa berjalan lancar. Tidak ada masalah. Targetnya, 2020 Januari, semua harus sudah jadi. Termasuk beberapa lahan bangunan di sekirar Kanjengan kan masih ada sengketa, kalau memang nanti dimenangkan oleh Pemkot Semarang, ya kami minta bapak-ibu yang ada di sini legowo. Karena tempat ini setelah dibangun akan dikembalikan dan digunakan oleh mereka (pedagang, red),” katanya. 

    Untuk pembangunan tahap 2, kata Fajar, yakni pembangunan lantai 3 dan 4 akan dibiayai oleh Kementerian Perdagangan. “Pembangunan bore pile ini yang butuh waktu lama, karena dibutuhkan bore pile dengan kedalaman 60 meter agar aman. Untuk semua lingkungan Johar Baru, harus selesai Desember 2019. Sehingga semua pedagang bisa dimasukkan pada Januari 2020 mendatang,” katanya. (amu/ida)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top