• Berita Terkini

    Wednesday, October 4, 2017

    Bupati Purworejo Minta Masyarakat Bijak Sikapi Polemik Hari Jadi

    PURWOREJO – Masyarakat Kabupaten Purworejo diminta untuk bijaksana dalam menyikapi penetapan tanggal hari jadi Purworejo yang saat ini masih menjadi polemik. Adanya perbedaan keyakinan versi hari jadi diharapkan juga tidak menjadikan perpecahan.


    Hal itu diungkapkan Bupati Purworejo Agus Bastian SE MM, dalam acara Forum Komunikasi Dengar Aspirasi Publik atau Critical Voice Point (CVP) bertajuk Serba-serbi Penyelenggaraan Peringatan Hari Jadi Kabupaten Purworejo yang berlangsung di Pendopo Kabupaten, Rabu (5/10).

    Dalam kesempatan itu, hari jadi Purworejo Ke-1.116 tahun ini dipertanyakan sejumlah kalangan.  Bahkan, Bupati Agus Bastian mengaku pernah dicecar pertanyaan oleh anak-anaknya yang menyoal hari jadi Purworejo yang sudah mencapai seribuan tahun silam tersebut.

    "Iya, dua anak saya bahkan "membully" saya dan menanyakan hari jadi Purworejo yang sudah mencapai 1.116 tahun," kata Bupati Bastian yang mengaku tidak bisa menjelaskan kepada anaknya tersebut.

    Di hadapan puluhan peserta CVP, Bastian menganggap polemik hari jadi sangat sensitif. Ia juga bukan pada kapasitasnya untuk menjelaskan kepada pihak-pihak yang meminta adanya peninjauan kembali atas hari jadi tersebut.


    "Saya dalam hal ini hanya arranger, yang memfasilitasi seluruh masyarakat Purworejo," jelasnya.

    Bupati Bastian meminta semua pihak melapangkan hati dan pikiran dalam menyikapi polemik hari jadi tersebut. Pasalnya,  jika hari jadi tidak diubah pun bukan menjadi masalah.

    "Tidak diubah juga tidak apa-apa," terangnya.

    Pada kesempatan itu, Bupati Bastian lantas mengajak masyarakat untuk tidak lagi membicarakan polemik hari jadi Purworejo.

    "Karena saya tidak ingin menyinggung siapapun jika ada peninjauan kembali atau pembaruan hari jadi," ungkapnya.

    Sejumlah pihak yang mempertanyakan hari jadi Purworejo dalam CVP antara lain novelis Atas Donosubroto, Widyastuti guru SMP 26 Purworejo, Sukoso DM budayawan Purworejo, Abdullah Ketua KONI, dan Bambang Yoso jurnalis senior.

    Sebagian mereka menilai bahwa hari jadi yang ditetapkan 5 Oktober dan dinaungi perda Nomor 9/1994 tidak relevan karena mengacu pada penemuan kayu arahiwang.
    "Itu kan hanya menandakan ada kehidupan, bukan awal pemerintahan," terang Abdullah yang juga Mantan Anggota DPRD Purworejo itu.

    Terpisah, Angko Setiyarso Widodo, mantan Ketua DPRD yang kini menjadi Ketua Dewan Kesenian Purworejo, kepada Purworejo Ekspres mengaku menyayangkan adanya polemik yang terus berkepanjangan terkait hari jadi Purworejo. Menurutnya, masyarakat lebih baik menggarap makna hari jadi yang telah ada, ketimbang mempolemikkan.
    “Tidak usah diributkan, tapi isi hari kelahiran Purworejo sebagai penyemangat warga Purworejo,” tandasnya. (top)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top