• Berita Terkini

    Tuesday, October 24, 2017

    Akses Jalan Hilang Terdampak Proyek Tol, Warga Boyolali Protes

    TRI WIDODO/RADAR BOYOLALI
    BOYOLALI – Warga mana yang tak marah? Ketika jalan dusun yang selama ini jadi akses mobilitas warga tiba-tiba hilang. Jalan selebar tiga meter di Dusun Jambeyen, Desa Mojolegi, Kecamatan Teras hilang akibat proyek pembangunan jalan tol.

    Puluhan warga setempat, kemarin (24/10), mendemo pelaksanaan pembangunan jalan tol di utara dusun tersebut. Aksi warga ini juga dipicu adanya saluran air yang tak berfungsi maksimal.

    Warga berkerumun di sekitar proyek tol. Namun, sebelum aksi berlanjut, petugas dari Waskita Karya langsung mendatangi warga tersebut guna diajak berkomunikasi.
    Dialog pun digelar ditengah kesibukan para pekerja proyek tol. Dari pihak Waskita Karya dipimpin Manajemen Proyek, Gilang Ramadhan. Sedangkan Kades Mojolegi, Only Wiharni mewakili langsung masyarakat Desa Mojolegi.

    Supriyadi, 54, warga setempat mengatakan, warga merasa dirugikan dengan adanya proyek tol di dukuhnya. Pasalnya, proyek itu mengakibatkan jalan pedukuhan selebar tiga meter hilang. Padahal jalan tersebut juga digunakan untuk membangun saluran air. “Kami minta jalan dikembalikan atau diganti uang ganti rugi,” tegasnya.

    Keluhan lain berupa saluran air yang belum rampung dibangun hingga saat ini. Padahal para petani sudah memasuki tahap menggarap lahan sawahnya. Sawah yang berada di sisi utara proyek tol pun tak bisa digarap karena ketiadaan air.

    Sebenarnya pelaksana proyek menyediakan genset untuk menyedot air dari bendung terdekat sembari menunggu selesainya pembangunan saluran. Bahkan sesuai kesepakatan genset menyala selama 24 jam.

    “Namun baru beberapa jam, genset mati karena kehabisan solar. Warga juga meminta dibuatkan jalan tani untuk mempermudah akses traktor dan pengangkutan hasil panen,” imbuh Kades Mojolegi, Only.

    Sementara itu, Gilang mengaku dirinya sebatas pelaksana proyek. Sedangkan terkait ganti rugi yang dituntut warga, bisa disampaikan ke jajaran terkait. Secara prinsip, pihaknya siap untuk memenuhi keinginan warga.

    “Kami khan hanya sekadar pelaksana. Kalau jajaran terkait menyetujui tentu kami akan secepatnya mewujudkan tuntutan warga,” tegas Gilang. 

    Usai berdialog, sejumlah warga langsung mematoki sisi selatan proyek tol. Patok bambu kemudian dipasangi pita kuning sebagai batas proyek yang diizinkan digarap. Selanjutnya pelaksana proyek diminta tak mengerjakan proyek di sisi selatan patok tersebut. (wid/edy)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top