• Berita Terkini

    Friday, September 22, 2017

    Tradisi Suran Diminta Dimasukan Kalender Pariwisata

    sudarno ahmad/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Tradisi ingkungan pada setiap haul Syekh Ibrahim Asmorokondi di Masjid Banyumudal Dusun Kuwarisan, Kelurahan Panjer, Kecamatan Kebumen, berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata reliji. Sehingga akan melengkapi destinasi lain yang sudah ada sudah di Kabupaten Kebumen.

    Bupati Kebumen Mohammad Yahya Fuad, meminta Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata memasukan tradisi tersebut pada kalender pariwisata yang ada di Kabupaten Kebumen. Terlebih kegiatan tersebut rutin digelar setiap tahunnya.

    "Waktunya dan tempat sudah jelas. Jadi saya kira ini dapat dimasukan ke dalam agenda pariwisata di Kebumen, sehingga akan semakin banyak yang datang," kata Mohammad Yahya Fuad, pada acara Haul Syekh Ibrahim Asmorokondi di Masjid Banyumudal, Jumat (22/9/2017).

    Menurutnya, dengan dimasukannya tradisi ingkungan ke dalam kalender pariwisata, nantinya akan banyak wisatawan datang yang memberikan dampak ekonomi kepada warga setempat. Bupati berharap keinginannya itu dapat dilakukan pada 2018 mendatang.

    Sementara itu, sedikitnya tujuh ribu ingkung ayam disuguhkan dalam tradisi suran Warga Kuwarisan yang dipusatkan di Masjid Banyumudal, Kelurahan Panjer, Kecamatan Kebumen, kemarin.

    Tradisi yang sudah turun temurun itu masih terjaga hingga sekarang. Tradisi yang dibalut dengan acara Haul Syaikh Ibrahim Asmoroqondi ini wajib digelar setahun sekali setiap Bulan Sura pada hari Jumat Kliwon sesuai penanggalan Jawa.

    Tradisi suran di Masjid Banyumudal mewajibkan warga dan keturunan Dusun Kuwarisan membuat ingkung ayam berikut nasi dan lauk pauknya. Setiap keluarga atau keturunan asli Dusun Kuwarisan, baik yang di Kebumen maupun yang di luar daerah, membuat tumpeng ingkung. Bahkan tak jarang dari mereka yang berada dari luar daerah mudik ke kampung halaman untuk ikut memperingati tradisi yang disakraklan tersebut. Jika tak sempat mudik, mereka menitipkan uang kepada sanak keluarga di kampung untuk membuatkan tumpeng ingkung atas nama dirinya.

    Warga percaya, tradisi ini sebagai 'penolak bala'. Manfaat lain adalah sebagai sarana silaturahim, bisa berabagi dengan anak yatim dan piatu serta fakir miskin, sebagi perwujudan bersatunya umat manusia baik penguasa dan rakyatnya, juga dapat meningkatkan gizi keluarga.

    Ketua Panitia Haul Syekh Ibrahim Asmorokondi, Supriyanto, menjelaskan warga Dusun Kuwarisan dan keturunannya masih menjaga tradisi ini. (ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top