• Berita Terkini

    Saturday, September 16, 2017

    Memimpikan Kebumen Satu Dasawarsa ke Depan

    alun-alun kebumen/dokfotoahmadsaefurohman
    LAMA sekali tak mengisi rubrik ini. Persisnya sejak awal 2017, saat laman facebook Kebumen Ekspres "dibekukan" oleh timnya  Mark Zuckerberg.

    Mulai saat itu hingga sekarang, September 2017, banyak rangkaian peristiwa terjadi di Kebumen. Setidaknya tergambar dari catatan-catatan kami sebagai media.

    Tulisan ini saya awali dengan cerita mengenai berita yang paling banyak dibaca di laman kami, www.kebumenekspres.com. Untuk memudahkan, selanjutnya kami golongkan ke dalam dua kategori yakni "peristiwa (kejadian) dan isu.

    Untuk kategori peristiwa, berita kecelakaan Jalur Maut Alang-alang amba menempati rating tertinggi (lebih dari 100 ribu tayang). Diikuti kemudian, peristiwa kebakaran pasar Wonokriyo Gombong yang hingga berita ini ditulis 17 September 2017, masih banyak diakses (sudah 94.216 tayang).

    Beralih ke kategori isu, pemberitaan terkait rencana atau tepatnya wacana yang digulirkan Bupati Kebumen Mohammad Yahya Fuad soal kawasan industri di wilayah Selatan Kebumen menjadi yang paling banyak dicari dan dibaca (96.527 tayang).

    Menyusul kemudian, isu pemekaran wilayah Gombong memisahkan diri dari Kebumen berada di peringkat kedua (74.276 tayang). Dan yang terbaru, meski tak segencar yang pertama dan kedua, rencana pendirian Trio dan Hotel Plaza menjadi perhatian publik (25.455 tayang). Juga isu-isu soal pariwisata yang nyaris selalu mendapat perhatian luas.

    Masih harus dikaji lebih lanjut atau riset. Namun munculnya "berita isu" dalam daftar berita terpopuler setidaknya mengungkap sedikit banyak tentang harapan publik terhadap Kota Kebumen ini.

    Satu hal yang kami tangkap, masyarakat Kebumen saat ini menginginkan daerah mereka berkembang, terutama dari sisi ekonomi. Munculnya minat yang tinggi terhadap berita rencana kawasan industri, masyarakat berharap itu benar-benar bisa terwujud. Dengan demikian, mereka tak perlu lagi merantau ke luar daerah atau luar negeri.

    Alasan yang sama juga melatarbelakangi ketertarikan masyarakat akan berita isu pemekaran wilayah Gombong. Ujung-ujungnya, isu ini muncul karena masih adanya anggapan kesenjangan antar wilayah sehingga pembangunan tidak merata.

    Alasan ekonomi dan dibukanya lapangan kerja sepertinya juga berlaku bagi Trio dan Hotel Plaza.

    Sekali lagi masih  harus dikaji lebih lanjut atau riset secara ilmiah. Namun setidaknya, fenomena tersebut dapat dijadikan salah satu pertimbangan para pemangku kebijakan dalam mengarahkan pembangunan di Kebumen ini.

    Dalam hal ini, masyarakat Kebumen menunggu realisasinya. Bukan sekedar wacana apalagi hanya janji.

    Dan seharusnya memang begitu.

    Kabar baiknya, banyak diantara para pejabat di Kota ini yang punya visi jauh kedepan. Menangkap kegelisahan publik dan tahu bagaimana menjawabnya.

    Kabar buruknya_mudah-mudahan kami salah_ tidak banyak yang benar-benar ingin mewujudkannya. Atau paling tidak, tak punya kesempatan untuk mewujudkannya.

    Nah, mumpung masyarakat sudah mendukung. Ditambah adanya pembangunan Bandara Kulonprogo dan pembangunan Jaringan Jalan Lintas Selatan-selatan (JJLS), para pemangku kepentingan di Kebumen ini, terutama  Bupati Kebumen, sigap membaca peluang dan mampu memanfaatkannya untuk kemakmuran masyarakat Kebumen. Salah satu tolok ukurnya, menjawab harapan masyarakat itu.


    Di saat yang sama, Pemkab seharusnya memiliki konsep yang baik, jelas dan terencana dalam mengarahkan pembangunan Kebumen. Tidak sepotong-sepotong seperti saat ini. Bahkan terkesan hanya agar terlihat sekedar "ada perbedaan" dari masa pemerintahan sebelumnya.

    Contoh kecil, soal pemugaran tugu lawet dan atau penataan alun-alun serta taman pendopo Bupati. Merehab Tugu Lawet dkk itu bukan tak penting.

    Namun, ada yang lebih mendesak daripada itu. . Seperti misalnya bagaimana mengenyahkan kesemrawutan di Jl Mayjend Soetoyo, Jl Kusuma dan "mangkraknya" kawasan di Stadion Candradimuka. Mau seperti apa hutan kota yang tengah dirintis di Jl HM Sarbini itu, penataan parkir dan hal-hal lainnya yang sepertinya sudah sangat butuh perbaikan.

    Ada harapan besar di masyarakat, terwujudnya kota Kebumen yang teduh rapi dengan pohon-pohon dan taman-taman publik di pusat kota sehingga tidak terkesan gersang seperti sekarang. Juga ada harapan adanya sarana prasarana olahraga yang terpadu agar bisa bermanfaat ganda sebagai tempat rekreasi sekaligus tempat pelatihan
    olahraga prestasi bagi para atlet.

    Tak kalah penting, publik memimpikan pemimpin yang "bebas gaya pencitraan". Yakni pemimpin yang peka, mau menemui langsung, mendengarkan dan siap memperjuangkan aspirasi masyarakatnya.

    Menuju akhir tulisan , publik berharap Kota Kebumen akan jauh lebih rapi dari sisi tata kota, jauh lebih hijau dari sisi penampakannya, jauh lebih santri, jauh lebih Beriman daripada slogannya.

    Namun lebih dekat hubungan diantara pemimpin dan rakyatnya. Lebih membumi dengan budaya lokalnya serta menjunjung tinggi dan bangga dengan kekayaan khasanah seni dan budayanya.

    Mungkin hal-hal itu masih menjadi mimpi saat ini. Namun bukan mustahil bila pemimpin dan seluruh warga kota ini bersama-sama bahu membahu mewujudkannya. Mudah-mudahan, dalam 10 tahun mendatang, Kebumen tak kalah dengan Rotterdam, Singapura, Tokyo, Roma, Paris dan kota-kota indah lainnya di belahan dunia. Semoga.(*)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top