• Berita Terkini

    Saturday, September 30, 2017

    Mbah Marsiyo (80), "Raja Orang Gila" dari Mirit

    Mbah Marsiyo/foto-foto ahmadsaefurrohmanekspres
    40 Tahun Hidup Bersama Puluhan Pengidap Gangguan Jiwa, Diniati Ibadah
    Separuh usia Marsiyo alias Mbah Marsiyo (80) dihabiskan untuk menampung dan merawat para penderita gangguan jiwa. Semuanya dia lakukan nyaris sendiri, tidak memungut biaya kepada pasien dan tidak mengandalkan bantuan pemerintah. Bagaimana bisa pria warga Desa Winong Kecamatan Mirit yang mendapat julukan "Raja Orang Gila" itu melakukannya?
    --------------------------
    CAHYO dan SAEFURROHMAN, Mirit
    --------------------------
    SEBUAH pondok berdiri di rumah Marsiyo, di RT 1 RW 2 Desa Winong Kecamatan Mirit. Di tempat berukuran panjang 22 meter dan 10 meter inilah, Marsiyo menampung tak kurang dari 80 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

    Ditemui Sabtu (30/9/2017), Marsiyo mengatakan sudah melakukannya selama 40 tahun terakhir. Cerita ini berawal saat Marsiyo membeli tanah yang ditinggalinya saat ini. Saat itu, sebidang tanah seluas tak kurang dari 3 ribu meter persegi itu kosong atau dia menyebutnya sebagai tanah jaman Buda.

    Entah bagaimana awalnya, tempat itu kemudian didatangi oleh para penderita gangguan jiwa. Berawal dari situ, Mbah Marsiyo lantas dikenal sebagai orang yang mampu mengobati para penderita gangguan jiwa.

    Metode yang dipergunakan menyembuhkan Mbah Marsiyo ini juga unik kalau tidak mau dibilang aneh. Pasien-pasien tersebut dipasang rantai atau dipasung. Tapi anehnya, menurut Mbah Marsiyo, setelah dipasung mereka sembuh.

    "Saya sendiri gak tahu. Tapi faktanya demikian. Mereka yang pulang dari rumah saya sembuh. Sejak saat itu, saya banyak dicari orang gila. Jadi bukan saya yang mencari orang gila. Sampai sekarang," ujar Mbah Marsiyo dengan bahasa Jawa.

    Sebelum seperti sekarang yang sudah dibangunkan Pondok, para pasien itu sebelumnya dipasung dengan cara diikat dengan rantai di pepohonan yang berada di sekitar rumah. Baru pada setahun terakhir, Mbah Marsiyo membangun pondok.

    Meski belum sempurna bahkan masih ada bagian pondok yang belum beratap, setidaknya para pasien tersebut tidak lagi diikat di halaman.


    Lalu bagaimana Mbah Marsiyo menghidupi pasien yang jumlahnya puluhan tersebut, apalagi dia tak mengandalkan bantuan pihak lain? Menurut Mbah Marsiyo, pasiennya tersebutlah yang mengupayakan nafkah mereka sendiri.

    Bagi pasien yang sudah stabil, mereka merawat pasien baru. Termasuk mencarikan nafkah dengan berbagai cara. Seperti bersawah, berburu ikan, dan berjualan ular.

    Bahkan, menurut Mbah Marsiyo, di pondoknya tersebut sudah terbentuk tim sendiri, Ada yang bagian memasak, bagian keamanan, bahkan ada yang bertugas membangun pondok dengan mencetak batu bata. "Wong gemblung kabeh kuwi (Orang gila semuanya itu)," ujar Mbah Marsiyo.

    Sejauh ini, kata dia, tak pernah ada masalah berarti. Kalaupun ada pertengkaran kecil diantara sesama pasien adalah hal yang wajar. Biasanya sudah diatasi sendiri oleh para penghuni pondok.

    Atau, kalaupun tidak, Mbah Marsiyo turun tangan "ngrampungi" atau menyelesaikan masalah. Alhasil, mereka sudah seperti keluarga besar dan saling bantu membantu diantara sesamanya.

     "Wong semono akehe pada rukun-rukun. Ora kaya wong waras sing pada gelutan," ujar pria yang pernah menikah dua kali dan dikaruniai empat anak itu bercanda.

    Hingga saat ini, Mbah Marsiyo mengaku tak tahu bagaimana persisnya itu bisa berjalan. Atau bagaimana kemudian dia mendapat sebutan "Raja Orang Gila" karena kemampuannya menyembuhkan itu. Hanya, dia berkeyakinan, itu adalah rahasia Tuhan.

    Bahkan, saat ditanya nama pondok rehabilitasinya, Mbah Marsiyo menyebutnya dengan Walisiri atau "Rahasia Tuhan".

    Tanah yang ditinggali bersama para "keluarga besarnya" tersebut kini telah memiliki sertifikat dan 40 ubin diantaranya sudah diwakafkan untuk merawat pasien pengidap gangguan jiwa.

     "Semua saya lakukan dengan diniati ibadah. Saya sendiri orang biasa sama dengan yang lain," ujar pria yang tak pernah makan nasi itu.

    Kepala Desa Winong, Suhudi mengungkapkan, Mbah Masiyo di mata warga dikenal sebagai paranormal. Pasien Mbah Marsiyo datang dari berbagai wilayah. Selain Kebumen dan kabupaten tetangga, ada juga yang datang dari luar jawa. Sejauh ini, Mbah Marsiyo menangani sendiri dan dari dana pribadi.


    Hanya, pihak desa membantu  dari segi kesehatan dan kebersihan termasuk bila ada pasien yang meninggal. Selain itu, Puskesmas Mirit datang ke Pondok Mbah Marsiyo sebulan sekali memastikan kesehatan pasien.

     "Harapan kami supaya tempatnya agak dirapikan. Terus supaya kesehatannya biar bisa terjaga dan biar orang-orang itu (pasien) tidak kumuh itu lho. Biar cacat mental tapi dari sisi fisiknya (pasien) biar agak bersih dan rapi," katanya.

    Pada bagian lain, dr Agus Sapariyanto dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen mengaku mengapresiasi upaya yang dilakukan Mbah Marsiyo dengan merawat para penderita gangguan jiwa. Dari sisi aturan  seperti tertuang UU non 18 Tahun 2014, memang dibolehkan swasta melakukannya.

    Dengan telah melakukan perawatan selama 40 tahun apalagi tanpa memungut biaya, apa yang dilakukan Mbah Marsiyo diakui dr Agus sudah sangat membantu pemerintah.

    Namun demikian, dr Agus mengatakan, memang masih harus diperbaiki agar bisa memenuhi UU non 18 Tahun 2014 yang mengatur syarat-syarat itu. Dalam kasus Mbah Marsiyo, kata dr Agus, masih dalam proses melengkapi syarat-syarat tersebut.

    Salah satunya, bagaimana menata lingkungan agar lebih baik. Juga dari sisi kesehatan dan makanan yang masih jauh dari ideal. Diakuinya memang tidak mudah. Namun sejauh ini, kata dr Agus, Mbah Marsiyo bersikap kooperatif terhadap masukan dari pemerintah.


    "Memberi penyuluhan dan edukasi kepada mbah MarsiYo bagimana nanti menata panti yang sudah jalan ini bisa lebih memenuhi standar medis. Tentunya dengan bimbingan Puskesmas dan Dinas Sosial, mudah-mudahan nanti bisa tercapai," katanya. (*)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top