• Berita Terkini

    Saturday, September 9, 2017

    Kuliah di Luar Negeri Lebih Murah dari Indonesia

    IMAM/ESKPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)-Kuliah merupakan jenjang pendidikan untuk mencerdaskan dan meningkatkan kompetensi diri. Kendati demikian biaya untuk berkuliah tidaklah murah, terlebih bagi yang menginginkan kuliah di luar negeri. Bahkan bagi sebagian masyarakat kuliah diluar negeri merupakan hal yang mustahil.

    Selain karena faktor biaya, ketidak mampuan untuk komunikasi di luar negeri juga menjadi kendala tersendiri bagi para mahasiswa. Pasalnya untuk dapat berkomunikasi setidaknya harus menguasai Bahasa Inggris. Kendati demikian mahalnya biaya kuliah di luar negeri sebenarnya dapat disiasati yakni  dengan kerja keras dan keinginan yang kuat.

    Hal ini disampaikan oleh Senior Consultant dan Manager Naresy International Education Consultant (NIEC) Anik Nuraini (32). Saat pemaparan pada acara Parent Gathering NIEC Jogja di Hotel Candisari Karanganyar, pihaknya menyampaikan kuliah di luar negeri sebetulnya lebih murah dari pada di Indonesia.

    Hal ini disebabkan mahasiswa hanya perlu biaya kuliah tanpa membayar uang gedung dan lain-lain. Adanya Pasar Bebas ASEAN sejak 2015 lalu, sebetulnya menjadi kesempatan emas bagi para anak muda Indonesia untuk dapat meneruskan pendidikan di dengan kuliah luar negeri. “Yang perlu dipersiapkan hanya mental yang kuat, niat membaja dan dapat berkomunikasi dengan Bahasa Inggris," tuturnya, Jumat (8/9/2017).

    Jika dirupiahkan, lanjutnya, maka biaya untuk kuliah di luar negeri berkisar Rp 50-70 juta. Biaya tersebut untuk kuliah, asuransi kesehatan, pengurusan visa, penerjemah dokumen, medical check up serta tempat tinggal selama dua minggu.  Biaya juga seharusnya tidak menjadi penghambat cita-cita.

    Untuk itu lembaganya, dapat memberikan modal biaya awal kuliah melalui bank yang telah bekerja sama seperti BPR Gombong, Bali dan Yogyakarta. Sebagai gantinya, Mahasiswa dapat mengangsur,  jika mereka telah dapat bekerja di luar negeri.  "Kuliah diluar negeri sangat bermanfaat. Kuliah dapat dilaksanakan sambil bekerja dengan yang besar. Jika dapat berbahasa Inggris akan dengan mudah, memperoleh sertifikat untuk kerja di luar negeri. Dan hal itu yang sangat diperhitungkan oleh perusahaan," jelasnya.

    Susilah orang tua Indra Fitriono (23) yang merupakan salah satu mahasiswa NIEC menyampaikan, saat ini anaknya telah bekerja di Australia. Susila sendiri mengaku tidak menyangka dengan kondisi putranya saat ini.  Meski sambil kuliah, namun penghasilan putranya, rata-rata mencapai Rp 28-30 juta per bulannya. Dengan penghasilan sebesar itu, putranya kini telah dapat membantu kakeknya untuk membangun rumah di Kebumen.  “Tidak ada ruginya sama sekali kuliah diluar negeri, dapat ilmu pengalaman, pekerjaan dan penghasilan,” ucapnya. (mam).

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top